
"Assalamualaikum... Rizal pulang." Rizal menggedor pintu rumah yang sudah terkunci. Maklum, Rizal memang pulang agak larut malam.
"Waalaikumsalam, Nak. Jangan berisik, kakakmu sudah tidur." bisik Risma pada Rizal.
Rizal menghela napas, ia benar-benar telat pulang malam ini.
"Kenapa?" tanya Risma.
"Padahal Rizal sudah membawakan sate Padang kesukaan kak Tika," Rizal mengangkat dua bungkus sate Padang ditangannya.
"Rizal bangunin kak Tika, ya, Bu." pinta Rizal.
Risma mengangguk setuju, karena Tika memang belum makan apa-apa malam ini.
Tika sedang tertidur pulas. Sebenarnya Rizal tak tega membangunkan kakaknya itu. Tapi demi kesehatan sang kakak, ia harus membangunkannya.
"Kak Tika..." Rizal menepuk pelan bahu Tika.
"Kak Tika, ayo bangun, kita makan sate Padang kesukaan Kakak." ucap Rizal.
"Malas! Kamu telat. Aku gak mau makan." Tika menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Kak Tika gak boleh gitu, sate Padang nya enak banget, loh." rayu Rizal.
Tanpa berkata lagi, Tika langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan kearah meja makan. Rizal hanya bisa tersenyum lega, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan sang kakak.
Risma sudah menyiapkan sate Padang di atas meja makan.
"Ayo makan, Nak." Ajak Risma sembari menuangkan air minum untuk Tika.
Tika sangat lahap memakan sate Padang itu. Rizal yang melihatnya hanya tersenyum senang.
"Enak." ucap Tika lalu melahap satenya lagi. Ia tampak sangat menikmati makanan yang dibelikan oleh adiknya itu.
"Habisin, ya, Kak." Rizal mengelus lembut bahu kakaknya.
Setelah Tika kembali tidur. Rizal mengajak ibunya duduk diruang tamu sebentar. Ia menanyakan keadaan Tika seharian ini. Risma hanya menghela napas. Tidak ada perubahan, Tika masih labil. Kadang menangis, kadang mengamuk lalu diam dan tak mau makan.
"Ibu tenang saja, Rizal akan cari pekerjaan tetap untuk menambah biaya pengobatan kak Tika." ucap Rizal tersenyum.
"Maafkan kakakmu, ya, Nak. Kamu harus mengorbankan masa depanmu untuk kakakmu."
"Ibu gak boleh ngomong gitu, Rizal ikhlas, kok. Rizal bisa kuliah kapanpun." Rizal mengambil kedua tangan sang ibu lalu menciumnya.
Sudah pukul sebelas malam, Rizal belum juga bisa tidur. Tiba-tiba ia kepikiran cewek manja yang ia tolong beberapa jam yang lalu. Kenapa pacarnya tega menurunkannya ditengah jalan seperti tadi?
Rizal menggeleng, kenapa ia jadi memikirkan cewek itu? Ia juga tak suka sifat cewek itu. Manja sekali.
__ADS_1
***
Meira membuka jendela kamarnya. Ia ingin menikmati hari Minggu cerah dirumah saja. Tumben, biasanya tiada hari libur untuknya. Kalau tidak pergi dengan Boy, minimal ia akan berbelanja atau sekedar nongkrong di kafe Dea temannya.
Saat Meira duduk di teras rumahnya, Boy datang dengan setangkai bunga ditangannya. Niatnya ingin meminta maaf pada Meira Karena pertengkaran tadi malam. Meira yang masih muak melihat wajah Boy buru-buru masuk kedalam rumah.
"Mei, tunggu..."
"Apalagi!" Meira berusaha menahan emosinya.
"Aku benar-benar minta maaf soal masalah semalam."
Meira tak menghiraukan ucapan Boy. Ia langsung ke kamar dan bersiap pergi. Kemana saja, asal tak melihat wajah Boy. Ia juga sudah memesan ojek online untuk mengantarnya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu keluar!" teriak Boy.
Setelah beberapa menit, ojek online yang dipesan Meira pun datang. Rizal tertegun saat melihat Boy yang terus teriak menyebut nama Meira.
"Mas, permisi. Apa tidak ada orang dirumah?" tanya Rizal.
"Lo ngapain kesini? Di rumah ini hanya ada Meira."
"Iya, Mas. Memang Meira yang memesan."
"Wah! Keterlaluan banget, sih, Meira." gumam Boy semakin kesal.
"Mending lo pergi aja, deh. Lo cancel aja orderannya." perintah Boy pada Rizal.
"Lo bikin gue tambah kesel aja." ucap Boy lalu menghempaskan diri di kursi teras.
Meira keluar dengan pakaian sesederhana mungkin. Ia tak seheboh biasanya. Karena memang niatnya hanya ingin menghindari sang pacar.
"Ayo, Mas Anu."
Rizal mengangguk lalu memberikan helm kepada Meira. Tapi tiba-tiba Boy Menarik tangan Meira dengan keras hingga Meira terjatuh.
"Argh..." Meira meringis. Rizal pun buru-buru membantu Meira berdiri.
"Maaf, Mei. Aku terlanjur emosi karena kamu sudah keterlaluan kali ini." ucap Boy.
"Kamu yang keterlaluan!"
Meira langsung mengajak Rizal untuk pergi. Boy hendak menahan Meira lagi, tapi kali ini Rizal menghalanginya. Bukan bermaksud untuk mau ikut campur, tapi ia tak tahan melihat sikap kasar Boy. Ia jadi teringat perbuatan mantan calon suami kakaknya dulu.
"Jangan ikut campur lo!" bentak Boy lalu mengibaskan tangannya.
"Saya harus melindungi penumpang saya, permisi." Rizal melajukan motornya meninggalkan Boy.
__ADS_1
Boy menghempaskan mawar merah yang ia bawa tadi. Darahnya menggebu, terlebih melihat Rizal yang sok pahlawan dan ikut campur.
***
"Gak jadi ke kafe." perintah Meira.
"Terus mau kemana?" tanya Rizal bingung.
"Kemana aja, yang penting tempat sepi, nyaman dan aman."
Rizal hanya diam. Ia tidak tau sama sekali harus kemana. Memangnya apa yang ia bisa rekomendasikan pada Meira. Ia juga jarang pergi jalan-jalan.
Meira menepuk pundak Rizal. "Jangan berpikir yang aneh-aneh, ya." ucapnya.
"Bukan gitu, saya tidak tau harus kemana. Kalau begini terus, kapan saya dapat orderan lain." ucap Rizal.
"Tenang aja, lo gue sewa hari ini."
"Ya sudah, kamu sudah tau kemana kita akan pergi?" tanya Rizal sekali lagi.
"Gak tau, Boy tau dimana aja tempat gue nongkrong. Lo cari, deh." ucapnya.
"Makanya jangan terlalu bucin." gumam Rizal agak sedikit kesal.
"Lo bilang apa?"
Rizal buru-buru menggeleng lalu kembali melajukan motornya. Ia tak mau berurusan panjang dengan cewek manja ini.
"Lo mau bawa gue kemana, nih?" tanya Meira agak sedikit takut. Ia juga bingung kenapa ia dengan mudahnya menyuruh Rizal membawanya kemana saja. Padahal mereka baru saja kenal. Tapi demi untuk menghindari Boy, ia rela pergi kemana saja asal tidak ditemukan Boy.
"Sudah diam saja dibelakang." ucap Rizal lalu mengencangkan laju motornya.
"Jangan ngebut, gue takut!" Meira menepuk bahu Rizal berkali- kali.
"Tempatnya jauh, jadi harus ngebut. Pegangan aja di jaket saya."
"gila lo, ya." Meira langsung memeluk erat Rizal. Sadar tidak sadar, hanya inilah satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa takutnya. Karena sebenarnya ia tak terlalu berani naik motor, dulu waktu SD ia dan papanya pernah terjatuh dari motor saat mengantarnya ke sekolah. Sang papa memang pecinta motor dulunya. Semenjak kejadian itu Meira tak pernah diizinkan naik motor lagi, terlebih papanya. Papa tidak mau melihat anak tunggalnya itu terluka lagi.
Rizal terkejut dengan perlakuan Meira. Ia kembali memelankan laju motornya. Ini salah, jantungnya seketika berdebar begitu cepat. Ia buru-buru melepaskan tangan Meira yang melingkar ditubuhnya.
"Kita sudah pelan, saya gak akan ngebut lagi." ucapnya.
"Kenapa, lo grogi dipeluk sama gue?"
"Bukan gitu, hanya tidak enak saja dilihat orang. Padahal itu tadi tidak terlalu ngebut."
"Tapi gue takut." ucap Meira.
__ADS_1
Manja...
Rizal hanya bisa menghela napas.