My Sweet Green

My Sweet Green
Cuek Tapi Perhatian


__ADS_3

"Meira..." Rizal berbalik. Ia mencoba kembali mengetuk pintu rapi masih tak ada sautan.


Rizal bingung harus melakukan apa. Pergi saja seolah tak tau apa-apa atau memaksa masuk kedalam. Lagian ia heran rumah sebesar ini tak ada satupun orang dirumah. Setidaknya ada asisten rumah tangga atau tukang kebun.


Rizal memutuskan untuk mendobrak pintu rumah Meira. Rasa khawatirnya tiba-tiba muncul setelah ia menuduh Meira hanya mengerjainya. Dan benar saja Meira tergelatak dilantai disamping vas bunga yang pecah.


"Meira!"


Rizal meletakkan pesanan Meira. Ia langsung mengangkat tubuh Meira dan membawanya ke sofa ruang tamu.


"Meira, bangun!" Rizal bingung harus berbuat apa. Badan Meira terasa sangat panas. Gadis itu tampak nya sedang demam tinggi. Mau mengompres juga ia tak tau dimana bahannya.


"Apa aku bawa kerumah sakit saja, ya..."


Baru saja ia ingin megambil ponselnya untuk memesan taksi online. Mata Meira terbuka dan melihat ia sedang berada di pangkuan pria dingin itu.


"Anu?" ucapnya pelan.


"Meira... Kamu sudah bangun. Syukurlah." Rizal bernapas lega.


Rizal mendudukkan Meira pelan. "Kamu sepertinya demam tinggi."


"Gue boleh minta tolong?" tanya Meira. Bibirnya kering, wajahnya pucat dan tenggorokannya terasa panas seperti terbakar.


"Aku akan telpon mama atau papa kamu. Atau siapa lah orang dirumah ini yang bisa dihubungi. Biar kamu cepat di bawa ke rumah sakit."


Meira menggeleng. "Mereka ke luar kota."


"Assisten rumah tanggamu?" tanya Rizal lagi.


"Pulang kampung." jawab Meira lemah.


"Apa lo segitunya menghindari gue. Gue cuma minta tolong ambilkan minum di dapur. Gue haus banget." pintanya dengan raut wajah memelas.


"Dimana dapurnya?"


"Sebelah sana." tunjuk Meira ke arah kanan sebelah ruang tamu.


Rizal lalu mengambil segelas air dan memberikannya pada Meira.


"Apa sebaiknya kamu kerumah sakit saja?" usul Rizal.


Meira menggeleng.


"Badan kamu panas." ucap Rizal cuek tapi terkesan perhatian.


"Enggak, gue baik-baik aja, kok." ucapnya kekeh.


"Ya sudah, ini makanan yang kamu pesan tadi." Rizal memberikan kantong berisi nasi goreng dan Latte itu pada Meira.


"Sebentar..."

__ADS_1


Meira hendak berdiri mengambil uang di dompet yang ada di depan tv ruang keluarga. Tapi sayangnya, badannya terhuyung. Kepalanya masih terasa sangat pusing. Rizal dengan cepat menangkap tubuh Meira.


Deg...


Perasaan apa ini?


Lama mereka bertatapan, hingga rasanya Meira tak mau Rizal melepaskan pelukannya. Apakah boleh ia meminjam kesejukan tubuh pria tampan itu sebentar saja?


"Hmm... Meira, tolong lepaskan. Biar aku bantu kamu duduk." ucap Rizal dengan nada gugup.


"Maaf..."


"Gue sedih banget, Nu. Kenapa Boy jahat, sih. Dua tahun kami menjalin hubungan, gue sayang banget sama dia. Apapun yang dia minta pasti gue turuti. Tapi kenapa dia selingkuh?"


Rizal hanya bisa menghela napas. Ia juga tak tau ingin berkomentar apa. Mau menenangkan juga rasanya tak ada guna. Hanya satu ucapan yang ia katakan pada Meira.


"Kamu pasti akan dapat pengganti dia yang lebih baik."


Meira menoleh, apa benar yang Rizal katakan? Selembut itu ucapannya. Apa boleh pria yang duduk disampingnya itu akan jadi pengganti Boy? Tidak mungkin. Apa kata papa mama nanti kalau dia menyukai seorang tukang ojek. Belum lagi pandangan dari teman-temannya yang lain. Mereka pasti mengejek, apalagi selingkuhan Boy yang sok cantik itu.


Tapi kalau boleh jujur, ia sebenarnya ada sedikit ketertarikan dengan pria yang sedang duduk disampingnya itu. Pria yang cuek tapi sebenarnya baik dan perhatian.


"Kalau kamu sudah merasa baikan, aku akan pulang. Mau narik lagi soalnya." ucap Rizal memecahkan keheningan.


"Tunggu..." Meira memegang tangan Rizal.


"Ada apa?" Rizal berbalik.


"Anu... Makasih. Makasih sudah mau mendengar curhatan gue. Walaupun respon lo biasa aja, tapi cuma lo yang mau dengar gue. Lo ada disaat yang tepat, lo ada disaat gue sedih." Meira mengeratkan pelukannya.


Dengan Ragu Rizal membalas pelukan hangat itu.


"Sama-sama..." Rizal melepaskan pelukannya perlahan.


"Maaf, ya, Nu." Meira menundukkan wajahnya.


"Tidak apa-apa." ucap Rizal tersenyum.


"Gue udah baikan sekarang, gue udah meluapkan isi hati gue yang sudah sesak banget."


"Kalau begitu aku pulang dulu. Masih mau narik. Kamu... Istirahat saja." ucap Rizal kikuk. Apa ini yang dinamakan salah tingkah?


Meira mengangguk.


Rasanya sampai sekarang jantung Rizal masih berdetak cepat tak karuan. Ia harus mengatur napasnya agar tetap stabil. Pelukan tadi? Mungkin itu hanya hal biasa bagi Meira tapi tidak baginya. Pelukan hangat itu terasa langsung menusuk ke hatinya. Meira membuatnya gugup seketika.


Tidak akan. Ia tidak akan suka atau menjatuhkan hatinya pada Meira. Itu tidak mungkin. Karena dirinya hanya seorang pegawai minimarket dan tukang ojek, tidak pantas dengan anak konglomerat seperti Meira.


Dari pada perasaannya akan jatuh lebih dalam lagi kepada Meira lebih baik ia bersikap seperti biasa pada Meira. Cuek.


"Aku harus fokus dengan satu tujuan. Menyembuhkan kak Tika."

__ADS_1


***


"Pagi, Mas kasir." ucap perempuan itu tersenyum ramah sembari membawa minum yang baru diambilnya dari lemari pendingin di samping jajanan yang tersusun rapi di rak.


"Mau bayar, dong." lanjutnya.


"Meira..."


Rizal mengernyit. Aneh saja, pagi-pagi sekali sudah datang ke toko. Apa di kampusnya tidak ada kantin?


"Ekspresi lo kok gitu sih, Nu?"


"Enggak, aneh saja. Apa di kampus kamu tidak ada kantin?"


"Memangnya kenapa kalau gue mau beli disini, lo gak bisa gak boleh, kan?" ucap Meira sewot. Padahal niatnya kesini cuma mau melihat wajah pria manis itu. Tapi sikap Rizal kembali cuek. Tidak seperti kemarin.


Rizal menghela napas. "Ini aja?"


"Iya." Meira mengangguk.


"Totalnya sepuluh ribu."


"Tunggu, gue mau roti coklatnya satu, deh. Gue belum sarapan tadi dirumah."


"Kenapa gak bilang sekalian." ucap Rizal mulai kesal.


"Ya... Gue kan baru kepikiran."


"Sebentar saya panaskan dulu."


"Oke, Mas Anu." ucap Meira dengan lirikan mata jahil pada Rizal.


Meira menatap Rizal yang sedang sibuk memanaskan roti yang ia pesan. Pria berseragam hijau itu sangat tampan saat bekerja. Rambut lebat dengan belah samping gaya khasnya membuat Meira terpesona.


"Ini..." Rizal memberikan roti pesanan Meira.


"Semuanya jadi tiga puluh ribu." tambahnya.


"Ini uangnya, Mas Anu." ucap Meira tersenyum geli.


"Nama saya Rizal, Mbak." gerutu Rizal.


"Itukan panggilan spesial dari saya." ucap Meira diiringi gelak tawa sementara Rizal hanya menghela napas. Tak mengerti apa maunya gadis yang ada di depannya ini.


"Kembaliannya dua puluh ribu." Rizal memberikan uang berwarna hijau itu pada Meira. Tapi ditariknya kembali, membuat Meira bingung.


"Apa... kamu sudah baikan?" tanya Rizal. Hatinya yang mendorong mengeluarkan pertanyaan itu.


"Gue udah baikan, kok." ucap Meira tersenyum. Sudah ia tebak, Rizal itu cuek tapi perhatian.


"Syukurlah."

__ADS_1


Meira keluar minimarket dengan hati berbunga-bunga. Entah kenapa ia sangat senang saat Rizal menanyakan keadaannya. Rasanya beda sekali. Waktu masih bersama Boy dulu ia tak pernah merasa sangat senang seperti ini.


__ADS_2