
Hati Rizal kini menjadi tak tenang setelah ia menerima ajakan Meira untuk pergi jalan-jalan malam ini. Awalnya ia menolak, tapi Meira terus memaksanya. Meira bilang ia ingin menghilangkan penat dan mencoba menenangkan diri dari semua masalah di rumahnya. Kebetulan kedua orang tuanya sudah pergi lagi ke luar kota untuk urusan bisnis.
Rizal merasa hanya dengan cara ini ia bisa membantu Meira, dan ia berjanji hanya kali ini saja. Tidak ada kata lain kali.
"Jemput gue pake motor lo, ya." pintanya.
Rizal menghela napas. "Iya."
"Janji gak bohong."
"Saya bukan tukang bohong."
Baru pukul lima sore, tapi Rizal sudah bergegas pulang. Ia tak mengambil orderan lagi. Ia harus bersiap-siap untuk nanti malam. Ia tak menyangka Meira begitu memaksanya untuk pergi bersama. Apa benar Meira tak seperti cewek sultan lainnya? Semoga saja.
Setelah sampai dirumah, Rizal langsung mencari Tika. Memastikan kondisi sang kakak baik-baik saja. Ternyata Tika sedang duduk di ranjang sembari mendengarkan musik pop kesukaannya.
"Kak Tika..."
Tika hanya menoleh. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun pada Rizal. Melihat sang kakak seperti itu, hatinya berdenyut. Perih.
"Kita keluar sebentar, ya. Duduk di teras." ajak Rizal.
Tika menggeleng.
"Sebentar saja, Kak, menikmati sore menjelang Maghrib." bujuk Rizal.
"Tidak baik murung dikamar terus." tambahnya lalu memegang tangan sang kakak.
Akhirnya Tika luluh juga. Rizal menuntun sang kakak keluar kamar dan menuju teras rumah. Mereka duduk di kursi disamping jendela itu.
"Gimana, enak kan, Kak?"
Tika mengangguk sembari tersenyum.
"Kalau Rizal ada waktu luang, kita akan seperti ini lagi, tapi Kak Tika harus janji dulu sama Rizal."
"Janji apa?"
"Harus Rizal yang temenin." ucap Rizal tersenyum.
"Kamu adalah laki-laki terbaiknya Kakak." Tika melebarkan senyumnya setelah murung di kamar seharian.
Melihat sang kakak senyum seperti ini sja Rizal sudah sangat senang. Tika semakin hari sudah ada kemajuan walaupun hanya sedikit.
"Kak, nanti malam Rizal mau pergi sama teman. Gimana menurut Kakak?"
"Siapa?"
"Namanya Meira."
Tika tersenyum tipis lalu mengelus pipi adiknya itu. "Apa adik kecil Kakak ini sedang jatuh cinta?" tanyanya.
__ADS_1
Seketika Rizal menjadi gugup. Pertanyaan sang kakak sangat mengejutkan. Ia hanya bisa menjawab menggeleng tidak membenarkan pertanyaan Tika.
"Kakak tidak mau kamu bernasib sama dengan Kakak." ucapnya kembali murung.
"Jangan bicara seperti itu..." Rizal hampir meneteskan air matanya.
Matahari sudah hampir terbenam. Suasana yang tadinya masih terang kini perlahan mulai gelap. Rizal mengajak Tika masuk kedalam. Mereka melakukan sholat bersama. Hanya satu doa Rizal. Berikan kesembuhan untuk Tika.
Sudah pukul tujuh malam. Rizal bersiap untuk pergi menjemput Meira. Rasanya malas sekali tapi di lubuk hatinya juga berkata kalau ia semangat malam ini menemani Meira.
"Mau kemana, Nak?" tanya Risma heran melihat anak kesayangannya sudah rapih dan wangi.
"Mau keluar sebentar, Bu." Tadinya ia memang mau pamit pada sang ibu. Tapi Risma sudah mengintrogasinya terlebih dahulu.
"Ada urusan apa?"
"Mengantar teman beli sesuatu, Bu. Boleh kan?" tanya Rizal.
Risma mengangguk sembari tersenyum. " Boleh, Nak. Hati-hati, ya. Jangan pulang terlalu malam."
Rizal mengiyakan ucapan sang ibu. Ia mencium tangan Risma lalu pamit pergi.
Meira melirik jam tangannya. Ia sudah menunggu Rizal di depan rumah. Takut sekali kalau Rizal tak menepati janji. Padahal ia sangat berharap pada cowok itu. Ia juga sesekali melihat kamera ponsel, memastikan dirinya cantik atau tidak dengan riasannya.
Tak lama Rizal pun sampai dirumahnya. Ia melihat Meira keluar dari gerbang. Rizal tertegun sejenak. Kenapa malam ini Meira terlihat sangat cantik?
"Gue kira lo gak datang." ucapnya membuyarkan lamunan Rizal.
"Janji harus ditepati." ucapnya lalu memberikan helm kepada Meira.
"Ternyata enak, ya, lihat pemandangan malam diatas motor." Meira sedikit berteriak.
"Memangnya tidak pernah?" tanya Rizal.
"Enggak... Gue gak dibolehin naik motor sama papa semenjak kecelakaan waktu kecil dulu."
Rizal baru ingat. Bukannya cewek ini punya trauma.
"Tenang aja, gue sekarang udah berani naik motor kok. Apalagi naiknya sama lo. Asal jangan ngebut aja." tambahnya.
Apa maksud dari ucapan Meira itu? Rizal mencoba untuk tetap tenang.
"Karena tempatnya agak jauh, aku harus ngebut." Rizal mulai jahil.
"Coba saja." ucap Meira menantang.
Rizal melajukan motornya agak kencang. Membuat Meira sedikit ketakutan tapi ia masih bisa mengontrol tangannya untuk tidak memeluk Rizal seperti waktu itu.
Rizal tiba-tiba menarik tangan kiri Meira yang membuat si empunya kaget bukan main.
"Pegangan saja." Ia lalu menarik tangan kanan Meira dan melingkarkan di pinggangnya.
__ADS_1
Meira yakin jantungnya saat ini berdetak tak karuan. Tapi tak bisa dipungkiri ia sangat nyaman. Tanpa sadar ia mengeratkan pelukannya.
Mereka pun sampai di tempat yang dituju. Cantik sekali. Banyak wahana dan kelilingi lampu berwarna-warni.
Rizal dan Meira berjalan menuju sebelah kiri pasar. Tujuan utama mereka adalah mencoba berbagai macam street food yang ada disana.
"Enak banget, Nu." Meira memejamkan matanya menikmati telur gulung yang baru saja mereka beli.
"Baru pertama kali juga, ya?" tanya Rizal heran.
Meira mengangguk membenarkan.
"Hati-hati nanti sakit perut."
"Ya enggak lah." bantah Meira.
Rizal hanya tersenyum.
Mereka membeli banyak lagi makanan lain.
"Coba ini, Nu." Meira menyodorkan takoyaki pada Rizal.
"Aku kurang suka." tolak Rizal.
"Coba aja dulu."
Rizal menerima suapan takoyaki dari Meira.
"Enak, kan?" tanya Meira.
Rizal hanya mengangguk. Ia memang kurang suka dengan jajanan yang satu itu. Tapi kenapa yang ini rasanya lumayan? Apa karena disuapi Meira?
"Seru banget, ya, Nu." celetuk Meira di sela kegiatan makannya.
"Kamu senang malam ini?" tanya Rizal.
"Seneng banget. Makasih, ya, Nu." Meira menatap Rizal dalam. Ia bisa melihat ketulusan dari Rizal. Ia berjanji tak akan melupakan malam yang indah ini.
"Iya sama-sama, jangan sedih lagi. Aku yakin kamu perempuan kuat. Kamu pasti bisa melewati masalah apapun itu." Rizal membalas tatapan Meira.
"Ternyata lo orangnya baik banget, Nu." Meira meneteskan air matanya mendengar ucapan semangat dari Rizal yang membuat ia teringat kalau bukan ia saja yang punya masalah hidup yang rumit.
"Jangan nangis."
Rizal mengusap air bening yang jatuh di pipi mulus gadis cantik itu. Entah kenapa hatinya jadi tak tega jika melihat Meira bersedih. Sama halnya dengan ia melihat Tika bersedih. Apa benar ia sudah jatuh cinta? Ia buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Meira.
"Maaf."
Meira hanya tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya di lengan Rizal yang membuat jantung Rizal serasa mau copot.
"Gue pinjem bahu lo sebentar, ya, Nu." Meira menyandarkan kepalanya ke bahu tegap itu. Wangi sekali.
__ADS_1
Rizal mengangguk sembari tersenyum.
Kapanpun kamu butuh...