My Sweet Green

My Sweet Green
Bukan Hal Penting, Tapi Ini Sakit


__ADS_3

Entah apa yang ada dipikiran Meira saat ini, yang jelas ia tidak menyukai perempuan yang berdiri di etalase toko tadi. Ia benci saat melihat adegan dibalik mesin kasir lima belas menit yang lalu. Ia masih mengunyah makanannya dan menatap wajah Rizal tajam. Kesal. Aneh memang, kenapa perasaannya harus seperti ini? Sekali lagi, ia bukan siapa-siapa bagi Rizal, melainkan hanya teman biasa.


"Hei, Mei!" seru dua orang dari posisi agak jauh dari mereka, mengejutkan sekaligus membuat Meira gugup dan gemetar. Bisa-bisanya ia ketemu dengan Dwi dan Dea saat sedang bersama Rizal. Meira sudah bisa menebak apa yang ada didalam pikiran dua orang sahabatnya itu. Mau taruh dimana mukanya sekarang.


"Pantesan kita ajakin makan siang tadi gak mau," Dwi melipat kedua tangannya dengan tatapan penuh makna.


Rizal hanya tersenyum tipis pada dua teman Meira itu. Ia menundukkan kepala menyapa keduanya lalu kembali ke kegiatan makannya. Rasa tak nyaman mulai menghampirinya saat ini.


"Rupanya lagi makan dipinggir jalan sama gebetannya." tambahnya.


"Apaan, sih kalian." ucap Meira sedikit gugup.


"Gak nyangka gue sama lo, Mei." Dea memasang raut wajah heran. Ia merasa perempuan cantik itu bukan sahabatnya. Ia bukan Meira yang Dea kenal selama ini.


"Rizal bukan gebetan gue," Meira membantah ucapan Dwi barusan.


"Gue cuma mau balas kebaikannya. Buang pikiran aneh kalian itu, gak mungkinlah!" tegasnya.


Rizal berdiri menghampiri mereka bertiga. Hatinya terasa perih seperti diiris perlahan oleh kesaksian Meira. Begitu rendahnya ia di mata Meira hingga ia tampak sangat malu saat dipergoki teman-temannya.


"Kalian jangan salah paham, saya ini bukan siapa-siapanya Mbak Meira. Saya hanya pegawai toko dan tukang ojek, jadi saya sama sekali tak pantas dekat dengan kalangan seperti Mbak Meira ini," terangnya berusaha tersenyum ramah meski hatinya sangat kecewa dengan pernyataan Meira.


"Oh, ya. Terimakasih, Mbak atas balas budinya. Saya rasa ini cukup, lain kali tidak usah merasa tidak enak. Saya ikhlas membantu Mbak." ia tersenyum lalu pergi meninggalkan Meira yang hanya diam.


Apa-apaan sih,


Mbak...


Meira berdecak kesal mendengar ucapan Rizal. Seketika Rizal menjadi orang asing setelah ia menyatakan pernyataan yang barusan ia lontarkan pada kedua temannya tadi.

__ADS_1


Meira sadar betul bagaimana perasaan Rizal sekarang. Pasti ia sangat sedih mendengar ucapan menyakitkan itu. Entah kenapa Meira bisa berucap seperti itu tanpa memikirkan perasaan Rizal. Ia masih mementingkan gengsinya, ia takut kalau Dwi dan Dea tau akan perasaannya terhadap Rizal.


Belum lagi kalau berita ini akan menyebar ke seantero kampus, ia pasti akan malu sekali. Itulah yang ada dipikirannya sekarang.


"Yang lo bilang itu bener, kan?" tekan Dea lagi.


"Ya, iya, lah!" tegas Meira sekali lagi.


Dwi hanya diam sembari menelisik raut wajah Meira yang tampak tak yakin dengan ucapannya sendiri.


"Ayo pergi." ajaknya.


***


Rizal menghela napas, rasa sakit hati terhadap ucapan Meira tadi siang masih sangat terasa. Dari awal bertemu dengan Meira, ia sudah merasa tak pantas dekat dengan perempuan kelas atas itu. Tapi ia juga tak tega setelah mendengar cerita kehidupan Meira yang tak kala menyedihkan darinya.


Lupakan semuanya...


"Si anak rajin udah datang." begitulah julukan yang diberikan Adi dan Wawan pada Rizal.


"Kenapa wajahmu kecut gitu, Zal?" tanya Adi menepuk bahu Rizal.


Rizal hanya menggeleng sembari tersenyum tipis.


"Masalah cewek?" tanya Adi.


"Enggak, Mas." elaknya.


Mereka bertiga berbincang ringan sembari menunggu orderan masuk. Adi bercerita tentang pendapatannya hari ini yang lumayan banyak, begitu pun dengan Wawan. Hari ini Wawan mendapat kabar baik dari sang istri yang hamil anak pertama mereka yang selama empat tahun menunggu.

__ADS_1


"Saya seneng banget sampe loncat-loncat." ucapnya sembari tertawa lucu membayangkan ekspresinya tadi pagi saat sang istri memberi surat periksa dari dokter puskesmas.


"Selamat, ya, Mas." Rizal menjulurkan tangannya pada Wawan.


"Kalau kamu kenapa, Zal?" tanya Wawan sekali lagi.


"Kalau ada apa-apa cerita aja sama kami, Zal. Kita ini sudah seperti saudara, kamu adalah adalah adik kami." Wawan menepuk bahu Rizal.


"Terimakasih, Mas. Kalian sudah baik sama saya. Tapi saya beneran gak apa-apa, kok." ucapnya tersenyum meyakinkan.


Rizal mengecek ponselnya. Ada orderan masuk, ia kemudian pamit pada kedua pria berjaket sama dengannya itu. Kali ini ia mendapat orderan lima bungkus nasi goreng dan lima kopi karamel.


Sekitar dua puluh menit, akhirnya pesanan sudah diantarkan. Rencananya ia akan pulang mengingat hari sudah malam. Saat ia melajukan motornya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Tertulis nama Meira, tak sadar gadis itu sudah tiga kali menelponnya.


Rizal mengabaikannya, ia kembali melajukan motornya. Ia tak mau dipusingkan oleh perempuan itu lagi. Bahkan ia tak mau lagi mendengar suara Meira. Sesampainya dirumah, seperti biasa ia disambut sang ibu dan kakak tersayang. Tapi hari ini Tika tak begitu bersemangat. Entah kenapa, ia kembali merenung di kamar sepanjang hari. Rizal hanya menghela napas menahan bulir-bulir bening yang mendesak untuk keluar dari kelopak matanya. Entah sampai kapan Tika akan seperti ini.


"Kita harus banyak bersabar, Nak." Risma mengelus lembut wajah Rizal yang tampak kelelahan itu.


Rizal mengangguk sembari tersenyum pada sang ibu. Ia pun masuk kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Ia menatap langit-langit kamarnya, pikirannya terbagi di antara dua perempuan. Tika yang tak kunjung sembuh dan rasa sakit hatinya terhadap ucapan Meira saat makan di warung pecel lele tadi siang. Tapi diantara dua pikiran itu, lebih penting mementingkan kesehatan Tika sang kakak.


Ponselnya kembali berdering, Meira lagi. Sudah ada sepuluh kali lebih cewek itu menelpon Rizal, tapi Rizal masih enggan merespon.


Lo marah sama gue?


Gue minta maaf, Nu. Gue salah.


Rizal menutup ponselnya, tak ada niat untuk membalas pesan dari Meira. Ia menarik selimutnya dan mencoba mengusir pikiran-pikiran yang tidak begitu penting tapi menusuk hatinya itu.


Sedangkan Meira tak sedikitpun bisa memejamkan mata. Ia terus memantau benda pipih itu, berharap ada balasan dari Rizal. Sesekali ia mencoba kembali menelpon, tapi hasilnya sama saja. Tak ada jawaban.

__ADS_1


Ia sadar akan kata-katanya tadi siang yang membuat Rizal menjadi marah seperti ini. Ia pasti sudah menyakiti hati Rizal setelah apa yang dilakukan pria manis itu padanya. Rizal sudah memberi perhatian padanya saat ia butuh. Tapi ia membalasnya dengan ucapan yang menyakitkan hanya demi gengsi.


__ADS_2