
Dua tahun semenjak Meira menjadi kekasih Boy, saat itu lah Nayla dikucilkan. Di putuskan tanpa alasan. Bukan salah Meira, ia bahkan tidak kenal siapa Nayla. Boy mengaku jomblo waktu itu. Sedangkan sebenarnya ia masih punya hubungan dengan Nayla. Nayla menerima apapun yang di ucapkan Boy. Playboy kampus begitu julukan Boy itu berkata hanya ingin memoroti Meira yang kala itu adalah juniornya di Kampus Nusantara. Tapi nyatanya seiring berjalan waktu, Boy perlahan-lahan mulai melupakan kekasih aslinya. Walaupun ia berdalih hanya ingin mengincar kekayaan Meira, tapi lama-lama ia juga merasa nyaman dengan gadis cantik itu. Itulah sebabnya Nayla sangat membenci wanita yang bernama Meira. Kali ini ia ingin memberikan pelajaran yang tak akan pernah bisa Meira lupakan.
Kini gadis cantik berjaket biru itu sudah terkulai lemas di gudang yang penuh dengan alat-alat pembersih yang menumpuk. Dengan tangan terikat, ia berusaha mengambil ponsel di dalam tas selempang nya. Hanya satu nama di dalam pikirannya. Rizal.
Berkali-kali ia menelpon Rizal, tapi tak ada jawaban. Ia menghela napas, percuma saja ia menelpon sedangkan mulutnya ditutup lakban hitam. Akhirnya ia mencoba mengirim pesan pada Rizal, agar bisa menolongnya. Untungnya pesan terkirim sebelum ponselnya mati.
Bukannya tidak mau mengangkat telpon dari Meira, tapi Rizal sedang sibuk membongkar barang-barang yang baru saja datang sore ini. Ia pun harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah pukul delapan malam, ia baru bisa bisa bernapas lega. Semua tugas sudah selesai. Ia dan Martin akhirnya bisa meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa remuk karena mengangkut barang yang begitu banyaknya.
"Barang yang datang hari ini gila banget. Gue pulang duluan, Zal." ucap Martin sang kepala toko.
Rizal mengangguk. "Iya, Bang. Hati-hati." ia melambaikan tangannya, sedangkan tangan satunya memijit leher yang terasa sangat pegal.
Sebelum pulang, Rizal mengecek ponselnya terlebih dahulu. Sekalian ingin mengirim laporan SOP hari ini pada Martin. Takut lupa nantinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat sepuluh panggilan tak terjawab dari Meira.
Nu, tolongin gue. Gue terkunci di gudang OB kampus.
Rizal langsung berlari mengambil motornya setelah melihat pesan darurat dari Meira. Ia melajukan motor menuju Kampus Nusantara. Hatinya sudah tak karuan, siapa yang tega melakukan hal keji itu pada Meira. Entah apa yang terjadi yang jelas kini keselamatan Meira adalah yang terpenting baginya.
Kampus Nusantara sudah sepi. Ia mencoba mencari penjaga kampus, tapi tak ada satu pun yang kelihatan batang hidungnya. Ia pun tak henti-hentinya mencoba menghubungi Meira, tapi sayang nomornya tak aktif. Kampus Nusantara yang sangat luas dan besar itu membuatnya kesulitan untuk mencari gudang OB yang di maksud Meira. Ia sudah berkeliling hampir setengah jam.
Akhirnya ia mencoba menaiki lantai atas, siapa tau gudang itu ada disana. Benar saja, gudang OB yang ia cari ada di dekat gudang alat-alat olahraga yang sepertinya jarang sekali dibuka.
"Meira!" Ia menggedor pintu yang terkunci itu.
"Meira, kamu bisa dengar aku?"
Gadis cantik yang kini terkulai lemas itu tak sanggup lagi untuk bergerak merespon suara yang memanggilnya dari luar pintu.
Rizal melihat-lihat sekitar, siapa tau ada kunci gudang yang tersimpan. Tiba-tiba matanya tertuju ke pojok dinding. Terlihat ada beberapa kunci yang nampak sengaja di sembunyikan. Ia segera mengambil kunci itu dan mencobanya satu per satu.
__ADS_1
Matanya terbelalak saat pintu terbuka, melihat perempuan yang tak ia sadari sudah mencuri hatinya itu tergeletak di bawah alat-alat pembersih yang menumpuk. Ia langsung berlari ke arah Meira.
"Mei, bangun!" Rizal mencoba menggoyangkan tubuh lemah itu.
Mata itu terbuka dan meneteskan air bening. Bukan menahan rasa sakit, tapi ia sangat senang melihat orang yang sedang panik di depannya ini. Sebanyak-banyaknya teman yang ia punya, hanya pria yang baru menjadi temannya ini lah yang hanya bisa membantunya.
Rizal membuka lakban ditangan dan mulut Meira perlahan. Ia tak kuasa melihat tubuh cantik itu penuh lebam dan lecet.
"Aku lapar." celetuk Meira di boncengan.
Rizal hanya tersenyum tipis. Di saat badannya yang penuh luka, gadis itu selalu menomor satukan makanan. Akhirnya ia berhenti di minimarket untuk membeli mie instan siap saji dan beberapa cemilan. Tak lupa juga membeli obat merah dan plaster untuk mengobati luka Meira. Mereka duduk di depan minimarket. Menikmati mie kap berkuah itu.
"Siapa yang tega menyakiti kamu seperti ini, Mei?" tanya Rizal menahan napasnya tak tega.
"Nayla." jawabnya singkat.
"Soal mantan pacarmu lagi?"
Jelas saja Rizal kaget. Apa urusannya dengan dirinya?
"Foto kita waktu di taman tersebar luas di Kampus Nusantara. Nayla mengedit foto-foto itu menjadi foto yang mesra."
Rizal terdiam. Ia merasa sangat bersalah. Sudah dari awal ia berpikir kalau berteman dengan Meira adalah salah. Dia bukanlah level Meira. Ia juga sudah dapat menyimpulkan dari cerita Meira barusan, kalau Meira bertengkar karena malu akan kehadirannya.
"Maaf." Rizal menunduk merasa bersalah.
Meira menoleh." Kenapa harus minta maaf?"
"Aku tau kok kalau sebenarnya kamu itu malu berteman denganku, Mei."
__ADS_1
"Apaan, sih," Meira langsung memasang wajah cemberut. Kesal dengan pernyataan Rizal barusan.
"Gue cuma gak terima aja dengan segala fitnah dari Nayla."
Mereka berdua sama-sama terdiam setelah Rizal mengobati luka di kening dan lutut Meira. "Gue nyaman sama lo, Nu," Meira tiba-tiba meraih tangan Rizal.
Rizal menoleh tak menyangka dengan pernyataan mengejutkan itu. Kalau boleh jujur, ia juga ada perasaan lebih dengan gadis cantik yang ada disampingnya itu. Ia mencoba melepas tangan Meira perlahan.
"Kamu itu bagai kupu-kupu, Mei," ia tersenyum lalu melirik gadis berambut sebahu itu. "Cantik dan indah tapi sulit digapai."
Tak terasa air mata menetes di pipi mulus Meira. Baru kali ini ia mendapat kenyamanan dari seorang laki-laki yang tulus. Tapi sepertinya hanya ia yang merasakannya, lain hal nya dengan Rizal yang tampak selalu ingin menghindarinya.
"Ayo pulang."
Meira mengusap air matanya. "Makasih sudah menolongku."
Rizal mengangguk sembari tersenyum. Ia membantu Meira berdiri dan merangkul gadis yang sebenarnya ia sukai itu. Suasana kembali hening. Tak ada suara dari dua orang yang berboncengan itu. Setelah mendengar pernyataan Meira yang mengejutkan Rizal tadi, ia lebih memilih untuk diam. Semua itu tidak mungkin terjadi. Baru berteman seperti ini saja sudah banyak sekali halang dan rintangannya, apalagi menjalin hubungan lebih jauh dengan perempuan ini.
"Aku mohon jangan berantem lagi, ya." ucap Rizal lalu melepaskan helm yang dipakai Meira itu.
Meira hanya mengangguk manja, semakin Rizal memberinya perhatian, disitulah ia semakin menyukai pria manis itu.
"Dan juga sepertinya..."
"... Kita harus jaga jarak, Mei. Biar kamu gak malu." Rizal menunduk.
"Ngapain harus malu. Gue gak mau denger lo ngomong gitu lagi, Nu."
"Sudah lah, Mei. Terima perjodohan papamu, setiap orang tua pasti punya tujuan baik untuk anaknya. Kamu harus turuti perintah papa mamamu."
__ADS_1
Meira terdiam. Kini bukan lagi seluruh badannya yang sakit, tapi hatinya juga terasa perih seperti teriris.
"Tega lo, Nu!" ia kemudian pergi meninggalkan Rizal yang masih tertunduk di depan gerbang.