
"Kakak!" Meira berlari memeluk pria tinggi nan tampan itu.
Ya, Ardi sudah pulang setelah dua tahun lamanya ia merantau ke luar negeri untuk menenangkan diri.
"Apa galau Kakak sudah berakhir?" ledek Meira.
"Sebelum aku mendapat yang baru, aku masih merasakan kesedihan." ucapnya memelas.
"Jangan tunjukkan wajah memelasmu yang palsu itu." tepuk Meira sedikit kuat hingga pria tampan itu meringis.
Meira mendudukkan diri sofa berwarna coklat itu. Ia terdiam, barusan dengan mudah ia mempertanyakan suasana hati sang sepupu. Tapi bagaimana dengan suasana hatinya sendiri saat ini. Kelam.
"Apa kamu sudah benar-benar putus dengan pria kasar itu?" tatap Ardi tajam.
Meira menggeleng, air matanya mengalir membasahi pipi mulus itu. Memang sudah putus, tapi ada hal yang belum bisa ia atasi sampai saat ini. "Papa memaksa aku bertunangan dengannya." dadanya terasa sesak saat mengatakan itu.
Ardi hanya bisa terdiam. Ia tau sebab masalah pertunangan ini. Dari dulu Wijaya memang orang yang sangat keras kepala dan egois.
"Apa adik kesayangan ku ini sudah ada pengganti pria brengsek itu?" Ardi mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk mata gadis cantik itu.
Butuh beberapa menit ia menjawab pertanyaan Ardi. Karena besar kemungkinan Ardi juga tidak akan menyetujui hubungannya dengan Rizal yang hanya pria biasa.
"Kenapa?" tanya Ardi sekali lagi. "Sudah punya belum?"
Meira perlahan mengangguk.
"Bagus!" ia mengepalkan tangan tanda senang melihat jawaban dari Meira. "Besok kita ajak dia ketemu om Wijaya, biar dia tau."
"Itu masalahnya..." Meira menunduk.
"Dia pria biasa, hanya tukang ojek dan pegawai supermarket."
__ADS_1
Kali ini Ardi yang terdiam. Apa kisahnya dulu akan terulang lagi pada adik sepupunya itu? Tidak akan terjadi, wajar saja Wijaya tak menyetujui hubungan mereka.
"Kamu tau kisah ku kan, Mei?" Ardi memegang bahu Meira yang masih menunduk. "Jangan sampai terjadi lagi padamu, putuskan hubungan dengannya, aku bisa cari jodoh yang tampan dan mapan untukmu." ia menegakkan wajah Meira untuk meyakinkan.
"Kamu gak tau, aku sangat mencintainya, Kak."
"Kamu juga gak akan tau betapa sakitnya kehilangan. Hidup orang-orang seperti kita ini sudah diatur oleh orang tua. Bisa bebas memilih asalkan setara. Kakakmu ini sudah mengalami itu, Mei."
Meira hanya diam. Tak ada jawaban untuk membela dirinya sendiri. Semua yang dikatakan Ardi membuat dirinya semakin jatuh ke jurang kesedihan.
"Kakak juga pernah mencintai gadis sederhana. Tapi mereka tidak bisa dipercaya dengan hanya melihat wajah polos. Terkadang orang-orang seperti mereka juga suka memanfaatkan atau bahkan menyusahkan kita."
"Rizal tidak seperti itu, dia pria yang mandiri." Meira berdiri lalu meninggalkan Ardi. Ia sudah menyangka pasti Ardi tidak setuju dengan hubungan yang ia jalin dengan Rizal.
Pertemuan pertamanya dengan Ardi tidak berjalan dengan baik. Bukan hanya melepas rindu, tapi Meira juga mendapat ocehan tidak mengenakkan dari sang sepupu. Rasanya sakit sekali, tidak ada satupun yang mengerti perasaannya. Bahkan satpam rumahnya juga ikut-ikutan mengatur hidupnya demi sejumlah uang.
Apakah seberat ini menjalin hubungan yang tak direstui?
***
"Ardi!" Ia tiba-tiba berteriak dan berlari mengejar mobil yang melaju pelan melewatinya. Ia yakin matanya tak salah lihat. Itu adalah Ardi sang mantan kekasih.
"Kamu jahat, Ardi!" Ia terus berlari sembari melempar batu kerikil yang sudah ia genggam di kedua tangannya. "Kali ini aku tidak takut denganmu." ia terus melempari mobil itu.
"Dasar orang gila!" pria berjaket hitam itu menghempas setirnya. Ia menghentikan laju mobil nya setelah mendengar dentingan kerikil yang mengenai belakang mobil.
"Lecet mobil gue." gerutunya.
Tiba-tiba ia tertegun, tangannya gemetar. Sekali lagi ia menelan ludah. Setelah dua tahun menghindar, dalam beberapa detik ia kembali melihat masa lalunya. Gadis cantik sedikit lusuh itu berlari sembari mengumpat ke arahnya.
Ia menutup mobil lalu segera melajukan sedan hitam itu dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia melihat kaca spion, mencoba meyakinkan bahwa penglihatannya salah.
__ADS_1
"Itu bukan Kartika. Bukan!" Ardi kembali gemetar, ia menggigit bibir bawahnya.
"Kalau bukan Tika, kenapa dia mengejar mobilku?"
Semua cerita tentang Tika yang mengalami depresi akibat gagalnya pernikahan mereka sudah lama diketahui Ardi. Dua tahun di negeri orang tak membuatnya hilang informasi. Semenjak ia tau Tika mengalami depresi berat saat itu pula ia memutuskan tidak akan pernah mau bertemu kembali walau ia sudah pulang nanti.
"Kamu jahat! Hu..hu..hu." Isak tangis Tika semakin menjadi-jadi, mengiringi langkah kakinya yang semakin jauh meninggalkan taman tempat ia duduk mengenang masa lalu.
"Kakak!" Rizal berlari dan langsung memeluk Tika yang tersungkur di aspal. Rizal memejamkan matanya, mengeratkan pelukannya pada sang kakak. Salahnya, ia yang berinisiatif membawa Tika ke taman supaya Tika bisa menghirup udara segar di sore hari. Harusnya ia tak meninggalkan Tika sendirian walau hanya sekedar membeli minum.
"Dia ada disini..." Tika kembali menangis.
"Siapa, Kak?" tanya Rizal semakin bingung. Siapa yang dilihat kakaknya tadi.
"Pria jahat itu!" Tika mengepalkan tangannya.
"Ayo pulang, Kak. Sudah hampir mau maghrib." Rizal mengelus lembut rambut sang kakak. Ia perlahan mengusap air mata Tika dan memasangkan jaket hitam yang dipakainya.
***
"Siapa dia?" Rizal merenung di atas kasur berwarna abu-abu itu. Menyenderkan kepalanya sembari berpikir siapa yang ditemui Tika hingga sang kakak menjadi histeris seperti Tadi. Apa mungkin dia adalah Ardi si Bajingan itu.
Ia berjanji jika memang pria itu ada disini, ia tak akan segan-segan menghabisinya. Rasa sakit yang Tika rasakan selama hampir dua tahun lamanya tak bisa di bayar dengan apapun. Luka yang sudah Ardi berikan pada kakaknya begitu menyakitkan. Pria macam Ardi tak pantas hidup tenang. Itu tidak adil untuk kakaknya. Jika ia bertemu dengan mantan kekasih kakaknya itu, ia akan memberi balasan yang setimpal.
"Apa kamu sudah tidur?" Pesan dari Meira membuyarkan lamunannya. Ia mengambil ponselnya yang terletak di meja sederhana itu. Ia membalas pesan itu sembari tersenyum. "Belum."
"Kakakku yang ku juluki 'Si Buaya' itu pulang tadi pagi. Aku langsung kerumah tante Melinda dan bertemu dengannya."
Deg...
Apa mereka orang yang sama?
__ADS_1
Rizal mengakhiri percakapan mereka dengan perasaan campur aduk.