
Tak bisa bisa dipungkiri rasa sakit hati masih terasa sampai sekarang. Siapa sangka hubungan yang terjalin selama dua tahun kandas hanya karena mantan kekasih yang datang kembali ke kehidupannya. Padahal Nayla sudah lama tak muncul di kehidupan Boy. Tapi entah kebetulan atau cuma memang sengaja, ia ternyata juga berkuliah di kampus yang sama dengan Boy.
"Kesel banget, gue!" Meira menghentakkan kakinya.
"Udahlah, lagian lo kenapa bisa kepincut sama playboy seperti itu, sih? Memang dia keren, ganteng dan juga populer di kampus, tapi kan dia mahasiswa abadi, Mei." ucap Dwi heran.
Cap playboy sepertinya sudah melekat dengan Boy. Siapa yang tak tau Boy Satria Gunawan. Pria tampan yang suka tebar pesona. Meira mengenalnya sejak masuk kampus ini. Saat itu, Boy tak sengaja menabrak bahu Meira di persimpangan jalan menuju fakultas teknik kampus Nusantara. Disitulah mereka mulai berkenalan. Setiap hari Boy selalu menghampiri Meira menjemput dan mengantarnya pulang, Boy pun sudah kenal dekat dengan orang tua Meira yang ternyata kolega papanya. Tapi sekarang ia malah kembali kepada sang mantan. Nayla.
"Namanya juga cinta."
"Lagian gue makin heran sama Nayla. Kok dia ngejar-ngejar Boy lagi." Dwi geleng kepala tak habis pikir.
Nayla memang satu kampus dengan mereka. Tapi beda fakultas. Nayla mengambil jurusan ekonomi. Gedung fakultasnya pun lumayan jauh dari gedung fakultas Meira dan Boy.
Tapi aslinya, bukan Nayla yang mengejar Boy. Memang Boy lah dari awal ingin mengincar Nayla lagi. Entah karena ia bosan dengan Meira dan mencoba kembali bermain-main dengan Nayla. Begitulah Boy, tanpa sepengetahuan Meira ia selama ini memang selalu mengincar perempuan lain.
"Lo harus move on dari Boy, Mei." tegas Dwi.
"Iya, Wi. Ini gue lagi berusaha. Tapi..." ucapannya tertahan. Ingin rasanya ia menangis dan teriak sekencang kencangnya.
Dwi mengelus lembut bahu Meira. Mencoba menenangkan hati sahabatnya itu. Karena dari tadi ia lah yang mengungkit dan bertanya tentang hubungan Meira dan Boy.
***
"Cewek bodoh." ucap seseorang sinis pada Meira.
"Gue?" Meira menunjuk dirinya sendiri seolah tak tau kalau Nayla sedang mengatainya.
"Boy mau sama lo cuma karna lo orang kaya, biar bisa di manfaatin. Lo gak nyadar kalau Boy gak pernah suka apalagi cinta sama lo!"
Meira masih diam, mengumpulkan luapan emosi yang ada di hatinya. Lihat saja nanti setelah perempuan yang ada didepannya ini selesai bicara.
"Lihat saja sekarang Boy malah ngejar-ngejar gue lagi. Itu berarti lo tuh udah gak ada gunanya lagi bagi dia. Kasian."
__ADS_1
Plakkk...
Sebuah tamparan melayang ke pipi kiri Nayla. Wajahnya memerah. Tak sampai disitu, Meira menarik kerah baju berwarna biru itu.
"Jaga omongan, lo!" ucap Meira geram.
Nayla menepis tangan Meira yang hampir saja mencekik lehernya. Ia juga hendak melayangkan tamparan ke pipi mulus Meira tapi tangannya lebih dulu ditahan Meira.
"Kalo lo mau balikan sama Boy, silahkan! Bagi gue mantan hanyalah sampah. Sama kayak, lo. Sama-sama sampah!" Meira melepaskan tangan Nayla yang tampak kesakitan.
"Berani-beraninya lo, ya!"
Nayla mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya ia kalah dengan bocah ingusan seperti Meira. Anak semester empat yang berani mengangkat kerah baju seniornya.
Saat mereka hendak adu mulut lagi, seseorang menarik lengan Meira. Dwi memohon pada Meira agar tak melanjutkan cekcok nya dengan sang senior. Melihat situasi sekitar yang sudah ramai melihat mereka yang adu mulut, Dwi langsung membawa Meira pergi dari tempat itu.
"Gak usah lo ladenin kenapa, sih, Mei." gerutu nya.
"Untung gue cepet datangnya. Kalau gak, lo bakalan berantem hebat sama dia dan anak-anak kampus bakal liatin kalian." ucap Dwi tak kalah kesalnya.
"Hanya karna cowok seperti, Boy. Ya ampun." tambahnya lagi.
"Sorry, gue gak ada rasa lagi sama Boy." ucap Meira tertahan.
"Yakin, lo?"
Meira terdiam, dadanya terasa sesak. Apa benar ucapannya barusan? Apa benar tidak ada rasa lagi?
Dua tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalin hubungan. Banyak kenangan manis yang tersimpan di lubuk hatinya. Biar bagaimanapun Boy adalah cinta pertamanya. Boy yang sudah mengisi hatinya saat duduk di bangku kuliah. Mereka sudah melewati banyak sekali hari-hari menyenangkan. Bahkan sudah beberapa kali pergi liburan bersama keluarga. Itulah momen-momen indah saat bersama sang mantan kekasih.
Tapi sekarang Meira memutuskan hubungannya dengan Boy karena sudah tak tahan lagi dengan sikap kekanakan pria itu. Bukan itu saja, Boy sering kali berbohong kepada Meira. Sudah banyak kesempatan yang Meira berikan padanya. Tapi Boy selalu saja mengulang kesalahan yang sama. Tanpa sepengetahuan Meira, Boy pun sering kali pergi bersama perempuan lain atau cuma sekedar menggoda junior-junior di kampus. Hingga kemarahannya memuncak saat kejadian di bioskop waktu itu. Boy tak bisa dimaafkan lagi. Hatinya hancur, kesetiaannya dibalas dengan penghianatan.
"Jangan sedih lagi ya." Dwi mengelus punggung sahabatnya itu. Mencoba untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
Meira tersenyum. Baginya semua ini hanyalah tentang perasaan dan kejujuran. Perjalanan cinta walau puluhan tahun jika selalu di selimuti dengan kebohongan juga tidak akan berakhir dengan baik.
"Malam ini kita akan bersenang-senang." ucap Dwi.
"Kemana?"
"Tempat biasa." Dwi melirik Meira dengan tatapan jahil.
"Klub?"
"Iya, dong. Party, girl." Dwi mengedipkan matanya.
"Boleh." angguk Meira.
Pukul tujuh malam, Meira sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Dwi. Rencananya Dwi yang akan menjemput dirinya. Mumpung papa dan mama tidak ada dirumah, jadi ia bisa pergi dengan mudah. Orang tua Meira memang jarang sekali dirumah. Keduanya memang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Di rumah hanya ada dua pembantu harian dan satu yang menginap. Dan merekapun tak ada yang berani membantah ucapan Meira.
Dwi datang dengan mobil merahnya. Ia sudah menunggu di depan rumah Meira. Meira keluar dengan celana jeans hitam di padukan dengan kemeja pendek kotak-kotak berwarna mocca.
"Sudah, siap?" tanya Dwi antusias.
"Tentu saja."
Mereka pun melajukan mobilnya menuju klub. Sesampainya disana, mereka memesan dua gelas milkshake berukuran sedang. Walaupun mereka sering ke klub, dua sejoli itu tak pernah meminum minuman aneh yang ada disana. Mereka hanya ingin bersenang-senang mendengar kan musik yang menggemparkan seluruh ruangan dengan lampu kelap-kelip itu.
"Malam ini musiknya tak terlalu bagus." celetuk Meira.
"Bagus, kok. Mungkin suasana hati kamu saja yang masih terlalu mendalami kesedihan. Jangan dipikirkan lagi, Mei. Nikmati saja malam ini." ucap Dwi lalu meneguk minumannya.
Meira mengangguk.
"Bocah ingusan ternyata anak nakal juga, ya." ucap seseorang dari belakang mereka berdua.
Meira tertegun. Ia mengepalkan tangannya. Kenapa ia bertemu lagi dengan perempuan itu.
__ADS_1