
Meira menghirup udara segar di sekitarnya. Perasaannya menjadi sangat lega. Tidak salah Rizal membawanya kesini.
"Tadi lo bilang jauh." Meira melirik Rizal dengan wajah sedikit kesal karena Rizal sudah membohonginya.
"Biar cepat sampai saja." ucap Rizal.
"Ngomong-ngomong, ini sawah siapa?" tanya Meira.
"Ibuku."
Meira mengangguk. "Ini indah banget,"
"Ini ibu kamu sendiri yang ngerjain?" tanya Meira lagi.
"Bertiga, ada bude dan bibiku juga. Dulu waktu SMA aku juga sering ke sawah bantuin ibu." ucap Rizal lalu berjalan meninggalkan Meira. Gadis itu pun berlari mengejarnya.
Meira tiba-tiba senyum mendengar cerita Rizal. Bukan karena ceritanya, tapi kali ini ada yang berbeda dari ucapannya.
"Tumben..."
"Tumben apa?" tanya Rizal bingung.
"Gak formal. Tapi lebih bagus gitu tau, lo jadi lebih imut." goda Meira sambil menahan tawa.
Rizal membulatkan bola matanya, sedetail itukah Meira memperhatikannya bicara tadi?
"Itu karena kita sudah saling kenal saja."
"Iya, iya. Lalu dimana ibumu?" tanya Meira.
"Hari ini ibu tidak ke sawah, hanya ada bik Ningrum diujung sana." Rizal menunjuk petak sawah disebelah barat.
"Ayo ke sana, gue jadi pengen kenalan sama bibik lo. Biasanya orang seumuran bibik lo itu suka cerita panjang lebar."
"Sok tau."
"Beneran, tau." tekan Meira.
"Sudah gak usah, mending kita duduk di ayunan dibawah pohon sana, biar pikiranmu tenang."
Meira menghela napas, cowok ini dibilang cuek tapi perhatian. Tapi entah kenapa ia nyaman dengan sikap Rizal.
__ADS_1
"Kok ada ayunan?"
"Ini sudah lama, Almarhum ayahku yang membuatnya. Satu untukku dan satunya lagi untuk kakak." ucap Rizal. Tanpa sadar senyumnya mengembang. Teringat masa lalu yang indah bersama kakaknya.
Ayunan itu menjadi kenangan terindah untuk keluarganya. Dari kecil Rizal dan Tika selalu dimanjakan oleh ayahnya. Sang ayah selalu membuatkan mainan-mainan sederhana untuk mereka, termasuk ayunan ini. Peninggalan terakhirnya untuk kedua anak tercinta. Kesederhanaan itu melebihi dari uang atau hal mewah apapun, tak akan bisa tergantikan.
"Rizal!" teriak seseorang dari kejauhan.
Rizal menoleh, teriakan Ningrum membuyarkan lamunan indah masa lalunya.
"Kamu bawa siapa ini, Zal? Jangan nakal kamu, ya." ucap Ningrum sembarang.
Meira berdiri dan langsung mencium punggung tangan Ningrum. "Aku Meira, Bik. Temannya Rizal."
"Meira kesini mau bikin tugas kuliah, Bik. Rizal tau hari ini Bik Ningrum pasti ada di sawah, jadi aku berani membawanya kesini."
"Oh begitu... Nak Meira, kamu tau tidak, Rizal tidak pernah, loh, sedekat ini sama cewek. Sepertinya kamu spesial." ucap Ningrum dengan nada menggoda.
"Gak gitu, Bik." Rizal jadi kwalahan dibuat Ningrum.
Meira hanya tersenyum mendengar perkataan perempuan ramah itu.
"Beneran, Mas Anu?" bisik Meira terdengar menggoda.
Sudah pukul setengah satu siang, saatnya Ningrum beristirahat. Maklum hari ini ia agak kelelahan. Risma dan Dewi tidak ke sawah hari ini.
"Hei kalian berdua ayo makan sama Bibi. Hari ini Bibi masak banyak, loh. Ada makanan dari wartegnya bude kamu juga, Zal."
"Tidak usah, Bik. Itukan untuk Bibi makan nanti sore lagi. Lagian sebentar lagi kami akan pulang." tolak Rizal. Ia tak mau merepotkan Ningrum.
"Siapa bilang." celetuk Meira. Rizal lalu menoleh dan menyenggol bahu Meira, ia memberi kode agar jangan menerima ajakan Ningrum.
Meira menarik tangan cowok beralis tebal itu. Ia ingin memarahinya. Karena dari tadi Rizal terus melarangnya, padahal ia belum sempat menenangkan pikirannya dari Boy. Rizal membawanya ke tempat asri begini tapi suasananya menjadi jauh dari kata asri saat Rizal selalu melarangnya.
"Eh, Anu! Gue disini mau santai, ya. Terus lo mau ngajak gue pulang?"
"Bukan begitu maksudnya..."
"Sttt... Sudah diam, bibik lo juga gak ngerasa direpotkan, kok. Lo itu harusnya nurut sama gue, gue kan udah nyewa ojek lo." gerutu Meira.
Rizal hanya menghela napas, kenapa ia bisa bertemu dengan cewek menyebalkan seperti Meira.
__ADS_1
"Meira, hati-hati!" Rizal langsung berlari saat melihat Meira salah mengambil jalan. Rizal menarik tangan Meira hingga jatuh kedalam pelukannya. Sialnya, mereka sama-sama jatuh di lumpur sawah. Meira tertegun, saat berada didekat cowok manis itu, wajahnya hanya berjarak beberapa Senti dari wajah Rizal.
"Aw!" Rizal meringis, tangannya seperti terbentur sesuatu didalam lumpur itu. Meira langsung tersadar dan mencoba berdiri.
"lo gak papa?" tanya Meira merasa tidak enak dengan Rizal yang berkubang lumpur hanya demi menyelamatkannya.
"Kamu itu gak tau jalan di sawah seperti ini, kenapa sok-sok jalan duluan? Begini kan jadinya." ucap Rizal agak kesal.
Meira terdiam, kali ini memang salahnya. Karena terburu-buru malah jadi begini. Ia juga merasa tak enak, baru saja ia bilang kalau ia tak akan merepotkan. Tapi nyatanya ia sudah membuat cowok manis itu berubah menjadi cowok berkubang lumpur.
"Maaf."
"Kita pulang saja, lihat bajumu juga kotor." ucap Rizal lalu berjalan mendahului Meira.
"Anu, tangan, lo!" Meira terkejut melihat ada noda darah di siku tangan kiri Rizal.
Rizal langsung melihat lengannya yang berdarah. "Aw! Sakit banget."
Mereka duduk dibawah pohon dekat ayunan. Meira membantu Rizal membuka jaket Ojekku nya. Jaket itu tampak robek di bagian siku.
Meira membersihkan tangan Rizal dengan air yang memang sudah tersedia didekat pohon itu. Biasa air bersih itu untuk Ningrum setelah dari sawah.
Meira membulatkan bola matanya, luka dilengan Rizal cukup parah.
"Ini harus dibawa ke rumah sakit, Nu!"
"Tidak usah, luka gini sudah biasa." ucap Rizal
"Oh, sudah biasa, ya?" Meira memukul luka di lengan Rizal.
"Aw! Sakit!" Rizal meringis.
"Katanya sudah biasa." ucap Meira kesal, dalam keadaan seperti ini Rizal masih saja mendahulukan gengsinya. "Pokoknya lo harus dibawa ke rumah sakit." tambahnya.
Mau tidak mau Rizal mengikuti Meira. Luka di lengannya memang terasa cukup dalam. Ia hanya tak mau berlama-lama dengan gadis itu. Takut akan terjadi masalah lain lagi. Tapi paksaan Meira untuk pergi ke rumah sakit tak bisa dibantah.
"Eh sebentar..." Meira menghentikan langkah Rizal. "... Rambut lo penuh lumpur, sini gue bersihin. Biar nanti di rumah sakit kita gak dikira orang gila." ucap Meira lalu mengusap pelan Rambut Rizal lalu merapikannya.
Deg....
Rasanya ada yang berbeda di hati Rizal. Jantungnya berhenti berdetak beberapa detik. Cewek cantik disampingnya itu terlalu perhatian.
__ADS_1
"Makasih, Mei." ucap Rizal terdengar tulus.
Untuk kedua kalinya Meira tertegun dengan tatapan cowok tinggi itu. Ia merasa ada yang berbeda didalam tatapan itu.