
Plakkk...
Sebuah tamparan melayang ke pipi mulus pria yang sedang duduk santai di kantin itu. Tiga temannya kaget bukan main. Meira datang dengan wajah merah merona penuh amarah dan menampar Boy dengan kasar.
"Kamu gila, ya, Mei?" Boy memegangi pipinya yang terasa sakit karena ditampar itu.
"Lo yang gila!"
"Lo tega menghabisi Rizal yang gak tau apa-apa."
Boy berdiri menatap Meira geram. Sepertinya Meira sudah dikelabui oleh tukang ojek sialan itu.
"Kok lo segitunya belain dia, Mei?" Boy menyipitkan matanya, menaruh curiga pada Meira.
"Emang kenapa?"
Boy berdecak kesal. "Dia cuma tukang ojek, Mei. Mending lo balikan sama gue." Boy mencoba menarik tangan Meira.
"Sorry, gue udah gak ada rasa apa-apa lagi sama, lo." Meira menghentak kan tangannya.
"Dan ingat jangan ganggu Rizal lagi, kalau gak gue lakuin hal yang bisa buat lo menyesal seumur hidup." ancamnya lalu pergi dari hadapan empat pria itu.
Boy menggeleng. Tak terima dengan perlakuan Meira. Ia menghempaskan dirinya di kursi dengan kasar. Seorang Boy kalah dengan tukang ojek dan pegawai minimarket biasa seperti Rizal. Itu mustahil baginya.
"Apa perlu dikasih pelajaran lagi, Bos?" tanya Rion.
Boy mengangkat tangannya yang berarti jangan dulu. Tunggu seberapa jauh hubungan mereka.
Tentu saja Boy tak akan tinggal diam. Ia masih mempunyai satu cara yang akan membuat Meira tak bisa berkutik, yaitu orangtuanya. Senyum jahat terukir di wajah Boy.
Meira berjalan menuju aula kampus. Rasa marah terhadap Boy belum hilang sepenuhnya. Pria itu selalu punya cara untuk mengganggunya.
"Hey, Mei." seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Meira menoleh tanpa menjawab.
"Lo kenapa, sih?" tanya Dwi heran.
"Gue kesel sama Boy."
"Boy lagi." keluh Dea yang tak ia sadari sudah ada disampingnya.
"Dia dan para ajudannya itu sudah mengeroyok Rizal sampai babak belur."
Dwi menelisik ucapan Meira. Kalau tidak salah ia pernah mendengar nama itu. Rizal. Ia menarik Meira hingga duduk di kursi samping aula. Sedangkan Dea hanya diam dan ikut saja.
"Rizal siapa, sih?" tanya Dwi yang sudah penasaran dari lama.
"Dia temen gue."
"Yakin?" sahut Dea yang juga penasaran.
Meira mengangguk pelan.
Gak yakin, sih...
"Anak fakultas mana, Mei?" tanya Dea yang makin penasaran. Pasalnya, dia memang belum tau cerita Meira setelah baru seminggu pulang dari liburan.
"Dia... tukang ojek dan juga kasir di SweetMart."
__ADS_1
Dwi mengangguk paham. Rupanya Rizal itu pria yang ia sembunyikan selama ini darinya.
"Kok selera lo nurun, sih." ucap Dea yang membuat Meira spontan menoleh kearahnya sinis.
"Gue kan cuma temenan. Mana mungkin gue suka sama tukang ojek." jawabnya tegas.
Dea bernapas lega, tapi Meira harus segera jauh dari yang namanya Rizal itu.
"Gue gak bakal setuju kalo lo punya hubungan lebih sama cowok itu."
"Gak mungkin lah" jawab Meira tegas.
Tapi kemudian ia terdiam sejenak. Betapa sakitnya hati Rizal jika mendengar pernyataannya tadi. Ia rela berbohong ke temannya demi gengsi.
***
Risma menghela napas, menyeduh teh hangat itu dengan perasaan campur aduk. Disaat ia sedang sibuk mengobati si sulung, malah si bungsu juga tertimpa musibah. Dua anak kesayangannya sekarang sedang mengalami kesulitan.
"Apa salahmu, Nak?" Risma mengelus rambut hitam lebat itu.
Sekali lagi ia menghela napas untuk melegakan perasaannya sejenak. Melihat kondisi Rizal yang penuh lebam di sekujur tubuh membuat hatinya semakin teriris.
Perasaan seorang ibu memang tak bisa dibohongi. Saat ia menjatuhkan gelas di rumah Neni sang kakak, ia sudah mempunyai kekhawatiran terhadap Rizal. Benar saja, siang ini ia pulang dan mendapati anak bungsunya yang sudah babak belur.
"Assalamualaikum, permisi."
Seseorang dari luar membuyarkan lamunan Risma. Ia heran, siapa yang bertamu di siang bolong seperti ini.
"Waalaikumsalam," sahutnya.
Meira datang dengan membawa lumayan banyak buah-buahan. Ia menunduk hormat saat Risma membuka pintu.
"Ah, iya, Bu. Saya Meira temannya Rizal," ia memperkenalkan diri untuk kedua kalinya setelah di sawah beberapa waktu lalu.
"Saya mau menjenguk Rizal, Boleh, Bu?" tanyanya.
"Tentu, Nak. Silahkan masuk."
Risma menyuruh Meira duduk di ruang tamu sementara ia membuatkan teh hangat.
"Dia sudah agak baikan, tapi panasnya saja belum turun," ucap Risma lalu menyodorkan segelas teh hangat pada Meira.
"Silahkan diminum, Nak Meira."
"Terimakasih, Bu. Tidak usah repot-repot."
"Saya tidak habis pikir sama orang-orang jahat itu, tega mereka memukuli Rizal sampai babak belur. Memang jaman sekarang begal sudah ada dimana-mana." ucap Risma tersengal.
Meira hanya bisa diam. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.
Akulah penyebabnya.
"Semoga kejadian ini tak akan menimpa Rizal lagi, ya, Bu." Meira mengelus bahu wanita setengah baya itu lembut. Mencoba menenangkan hatinya.
"Ibu..."
Terdengar suara Rizal pelan dari dalam kamar. Sontak Risma dan Meira menoleh ke sumber suara.
"Sebentar, ya, Nak Meira." Risma berjalan menuju kamar Rizal.
__ADS_1
"Ada apa, Nak?"
"Rizal haus, tolong ambilkan Rizal minum, Bu." pintanya dengan nada lemas. Saat ini kerongkongannya terasa mau terbakar saking panasnya.
Risma mengangguk lalu segera keluar.
"Rizal kenapa, Bu?" tanya Meira sedikit cemas.
"Ah, tidak, Nak Meira. Dia hanya haus." ucapnya lalu hendak pergi ke dapur.
Saat Risma kembali dengan segelas air putih di tangannya, Meira menahan perempuan itu untuk masuk ke kamar Rizal.
"Boleh tidak kalau Meira saja yang berikan?" tanyanya sopan.
"Soalnya sekalian mau pamit juga, Bu." Meira beralibi.
"Kalau begitu, silahkan, Nak." Risma memberi segelas air putih itu pada Meira.
Ia berjalan menuju kamar Rizal. Terlihat pria manis itu sedang terbaring lemah dengan kain tipis di keningnya.
Kok makin manis, sih...
Meira meletakkan air itu di meja samping ranjang.
"Anu..." panggilnya.
Alangkah terkejutnya Rizal saat ia melihat perempuan disampingnya itu bukan lah sang ibu. Tubuhnya seakan-akan punya tenaga yang kuat untuk menjauhi perempuan ini.
"Ngapain kamu kesini?"
"Lo kayak ngeliat setan aja, Nu," ucap Meira sedikit kesal dengan ekspresi Rizal yang sangat terkejut seperti tadi.
"Gue cuma mau jenguk, lo, kok."
"Pulang aja, Mei." ucap Rizal to the point.
"Jahat banget, sih, lo."
Rizal tak tau betapa sulitnya ia untuk datang kesini. Ia harus mengeluarkan beribu alasan ampuh kepada Dwi dan Dea agar tak dicurigai akan kepergiannya kemana. Ia rela tidak ikut nongkrong asik bersama kedua temannya itu demi ingin melihat kondisi Rizal. Tapi Rizal malah spontan mengusirnya.
"Ya, udah gue pulang!" ucapnya jengkel.
"Oh, ya, ini minum lo tadi." ia menyodorkan segelas air putih itu dengan wajah cemberut.
"Makasih."
Meira terkejut saat tangannya tak sengaja menyentuh tangan Rizal. Suhu badan pria ini begitu tinggi.
"Badan lo panas banget," ia kemudian menempelkan telapak tangannya ke leher Rizal untuk memastikan suhu badan Rizal memang benar-benar masih tinggi.
"Menurut gue lo harus ke rumah sakit, si, Nu."
"Suhu badan lo tuh kayanya lebih dari empat puluh derajat, deh." tambahnya.
"Palingan besok juga udah turun." jawabnya mencoba sesantai mungkin setelah apa yang dilakukan Meira padanya.
Sebenarnya kamu lah penyebabnya, Mei. Tapi kenapa aku gak bisa nolak untuk dekat dengan kamu?
Rizal menggeleng. Menatap kepergian Meira dengan senyuman. Tak bisa dipungkiri, rasa senang menyelimuti hatinya saat Meira datang menjenguknya.
__ADS_1