My Sweet Green

My Sweet Green
Putri Raja


__ADS_3

Ah. Pria itu sungguh membuat Meira benar-benar dimabuk cinta. Ia membuka jendela kamarnya, menghirup udara pagi yang segar di hari minggu. Dia lagi ngapain, ya?


Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benaknya, kini otaknya memang sudah dipenuhi dengan pikiran tentang si Dia. Rizal sudah membuat ia menjadi lebih dari budak cinta. Jika ia disuruh memilih antara kehilangan semua yang ia miliki sekarang atau kehilangan Rizal, maka ia akan mantap memilih pilihan pertama daripada kehilangan pria manis itu.


"Mau jalan-jalan?"


Meira menggenggam benda pipih itu lalu melemparkan tubuhnya di kasur berwarna abu-abu itu. Betapa senangnya ia saat mendapat pesan dari orang yang memang sedari tadi ia pikirkan. Ralat. Bukan sedari tadi tapi belakangan ini yang sudah memasuki pikirannya terus menerus.


Tentu saja ia sudah siap menghabiskan minggu yang indah ini bersama orang yang spesial. Ini akan menjadi dilema baginya untuk memilih pakaian yang cocok dan cantik.


Perasaan gelisah karena cinta tidak hanya dirasakan Meira saja. Tapi di sisi lain ada hati yang sedang berdebar kencang saat setelah mengirim pesan tadi. Rizal menggeleng, logikanya seolah sedang bertengkar hebat dengan hatinya saat ini. Pikirannya terus memaksanya untuk menjauh dari gadis cantik anak konglomerat itu, sementara dorongan hatinya sangat kuat untuk terus berada di sisi Meira. Entah sampai mana ia bisa bertahan, yang jelas saat ini ia berjanji akan selalu menjadi pelindung untuk sang pujaan hati. Ya. Mungkin Meira sudah menjadi pujaan hatinya.


"Gimana penampilanku?" gadis itu sudah berdiri di depan rumah.


"Cantik." ucap Rizal sembari tersenyum.


"Lo juga keren." Itu bukan basa-basi, tapi Meira memang sangat terpesona dengan cowok manis berkaus hitam dibalut kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu itu. Rambut belah pinggir yang khas membuat Meira tak berhenti menatap pria tinggi itu.


"Ayo naik." Rizal memberi helm pada Meira lalu melajukan motornya untuk menikmati hari yang indah ini.


Mereka sampai di taman kota yang agak lumayan ramai itu. Suasana yang asri serta banyak sekali makanan yang tersedia membuat Meira tak bosan datang kesini walau sudah seringkali. Apalagi datangnya bersama cowok manis ini.


"Bagaimana keadaan kakak, lo?" tanyanya membuka topik pembicaraan terlebih dahulu.


Rizal tersenyum tipis sembari membukakan es krim rasa coklat untuk Meira. "Belum ada perubahan yang baik."


"Terima kasih," Meira mengambil es krim yang dibukakan oleh orang spesial itu. "Semoga kakak lo segera sembuh, deh." ucapnya tersenyum menyemangati.


"Oh, ya, uangmu sudah aku transfer. Walaupun baru sedikit, aku bakal lunasi." ucap pria beraroma vanila itu pada Meira.


Meira mengambil ponselnya untuk mengecek berapa uang yang sudah dikirim Rizal padanya. Ia memasang muka cemberut, harusnya Rizal tidak perlu mengembalikan uang itu.


"Lo itu orangnya keras kepala banget, Nu."


"Hutang ya tetap hutang dan harus dibayar."

__ADS_1


"Terserah lo deh, Nu. Daripada mood gue rusak gara-gara bahas ini." ia kembali memakan es krimnya kesal.


Rizal hanya tersenyum tipis, Ia menatap wajah gadis cantik itu sejenak. Sekali lagi, apa dia pantas duduk berdampingan seperti ini?


"Bulan depan kakak sepupu gue pulang. Gue seneng banget, Nu. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa gue percaya selama ini." ucapnya sembari menebar senyum tipis.


"Oh, ya?" tanya Rizal antusias.


Meira mengangguk. "Kalau gue ceritain masalah gue saat ini, dia pasti gak terima banget. Dia bakal ngabisin si pria jahat itu." pria jahat yang dimaksud Meira adalah Boy.


"Itulah mengapa kamu harus bersyukur, Mei. Kakak sepupumu pasti sangat menyayangimu," ucap Rizal tersenyum.


"Kenapa kamu memanggilnya Si Buaya?"


"Karena dia dulu juga suka main cewek. Tapi ada satu perempuan yang membuat ia berhenti menjadi playboy. Perempuan itu adalah pacar pertama yang membuat ia benar-benar tau artinya cinta. Tapi salahnya, saking cintanya kakak sampai egois hingga mementingkan diri sendiri."


"Egois?"


Meira mengangguk. "Gue juga gak tau banyak ceritanya, yang jelas mereka berpisah. Dan itulah alasan kenapa kakak gue pindah ke luar negeri."


"Padahal pondok ini gak terlalu jauh, tapi kita lumayan basah." kekeh Meira.


Rizal melepas kemeja abu-abunya dan memberikannya pada Meira. "Pakai ini."


Meira menoleh Rizal bingung. Padahal kemeja itu juga agak basah. Apa untungnya bagi Meira jika memakai kemeja itu?


"Ini buat apa?"


"Pakai aja biar tidak terlalu dingin." ucap Rizal tanpa menoleh.


Meira baru sadar kenapa Rizal bersikap seperti itu. Baju putih yang dipakainya basah hingga tampak seperti transparan. Ia tersenyum lalu memakai kemeja abu-abu beraroma sangat manis itu.


Hujan semakin deras membuat mereka terjebak di taman hampir setengah jam lamanya.


"Hujannya lama sekali." ucap Rizal melirik jam tangannya.

__ADS_1


"Kalau gak berhenti kita bisa pulang sambil hujan-hujanan. Seru tau."


Rizal menggeleng. " Kamu bisa sakit, tau. Mana sebelumnya kita makan es krim lagi."


"Gue jadi salting di perhatiin kayak gini." ucap Meira tersenyum seperti menggoda.


"Apaan, sih, Mei." Rizal menoleh Meira. Tiba-tiba ia tertawa melihat daun dan ranting kecil di kepala Meira. Meira jadi terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain putri raja.


"Lo ketawa, Nu?" tanya Meira bingung. Bingung entah apa yang ditertawakan Rizal dan baru kali ini ia melihat Rizal tertawa se renyah ini.


"Maaf," Rizal mengambil daun dan ranting itu dari kepala Meira.


"Kamu dapat mahkota ini dari mana?" ucapnya sembari tertawa geli. Benda itu sangat mirip dengan yang dibuat anak tetangganya yang sedang bermain menjadi putri raja kemarin.


"Jadi ini yang bikin lo ketawa selepas ini?" tanya Meira.


"Tapi jujur, baru kali ini gue liat lo ketawa lepas, Nu. Biasanya lo pelit senyuman. Senyum lo aja tipis banget walaupun manis, sih."


"Apa?" Rizal menoleh.


"Enggak, enggak. Jadi gue udah mirip putri raja belum?" Ia mengambil daun dan ranting itu di tangan Rizal lalu meletakkan ke rambutnya lagi untuk menghilangkan jejak pernyataan yang membuatnya seketika menjadi benar-benar salting.


"Kamu cantik, Mei. Seperti Putri" Rizal menatap Meira dalam.


"Boleh gak kalau kamu jadi Rajanya?" ucap Meira membalas tatapan Rizal.


***


"Apa si tukang ojek itu masih menemui Meira?" tanya sang Bos dari seberang telepon.


"Masih, Pak. Hari ini mereka pergi berdua." jawab Sarni.


"Awasi saja dulu. Jika dia datang lagi, buat dia tidak nyaman."


"Baik, Pak." Sarni menutup telpon.

__ADS_1


Sarni adalah satpam yang ditugaskan Wijaya untuk menjaga rumah. Ia baru dipindahkan saat mengantar Meira pulang beberapa bulan yang lalu. Karena Wijaya sudah kurang percaya dengan laporan-laporan yang diberikan oleh Burhan dan Lina, jadi ia menugaskan Sarni agar bisa mengawasi Meira lebih ketat lagi.


__ADS_2