My Sweet Green

My Sweet Green
Tanda Terima Kasih Yang Tak Terduga


__ADS_3

"Aww..." Rizal memejamkan matanya menahan rasa sakit di pipinya saat Meira mengusap dengan kain berbalut es batu itu.


"Maafin gue ya, Nu. Gara-gara gue lo jadi ditampar papa. Pasti ini sakit banget, sampe merah gini." Meira kembali mengusapnya dengan hati-hati.


Rizal tersenyum tipis. "Lebih sakit lagi kalau melihat kamu yang ditampar."


Kini wajah Meira yang memerah karena ucapan Rizal barusan. Entah itu hanya gombalan semata atau memang tulus dari hati yang paling dalam. Benih cinta sepertinya mulai tumbuh di hati mereka berdua. Perasaan berbeda muncul saat mereka bersama seperti ini. Meira mengelus pipi manis itu dengan lembut. Mencoba merasakannya sekali lagi. Ceritanya mungkin tak sesakit ini jika ia tak dilahirkan dari keluarga Wijaya.


"Nu..."


"Hmm..." Rizal menoleh gadis cantik itu.


"Ucapan lo tadi gak bohong kan?"


Rizal menggeleng. Ia menatap Meira dalam. "Kak Tika punya pengalaman buruk tentang kekerasan. Ia disakiti mantan calon suaminya dulu. Ia jadi trauma hingga depresi seperti sekarang. Sakit banget lihat orang kita sayang di sakiti seperti itu," Rizal menoleh Meira dan menghembuskan napasnya untuk melegakan perasaannya sejenak. "Dan entah kenapa... Aku gak bisa liat kamu juga disakiti, Mei." ia menunduk. Mungkin pernyataan ini salah. Tapi ia tak bisa menahannya lagi.


Meira tersenyum lalu merangkul pria manis itu. Ia terenyuh mendengar pernyataan yang tak disangka di ucapkan oleh Rizal barusan. Pria dingin itu mengungkapkan perasaannya saat ini. Ia lebih banyak bicara. Meira menatap manja kedua bola mata bewarna hitam kecoklatan itu. Ingin memberinya sedikit hadiah yang mungkin akan menjadi momen canggung setelahnya. Meira mengecup pipi merah itu lalu buru-buru memalingkan wajahnya. Entah apa yang dipikirkannya hingga ia berani melakukan hal itu.


Rizal memegangi pipinya yang baru di sentuh bibir lembut Meira. Apa ini? Ia menoleh Meira tanpa ekspresi. Entah kaget atau memang masih bingung dengan perlakuan gadis cantik itu.


"Itu... Sebagai tanda terima kasih gue sama lo." ucapnya tersenyum malu.


Rizal tertawa tipis. "Apa-apaan sih, Mei."


"Em, lo gak suka, ya?" ia cemberut.


"Suka kok." Rizal tersenyum. Manis sekali.

__ADS_1


***


"Pertunangan mereka harus dipercepat." Wijaya menghembuskan asap rokoknya.


Sherin hanya terdiam. Di lubuk hatinya paling dalam ia juga merasa kasihan dan tidak tega melihat anak tunggalnya harus selalu melakukan apa yang diperintahkan suaminya. Tapi apa daya ia juga tak punya keberanian untuk menentang kehendak sang suami. Dari dulu ia tak pernah berani memihak pada Meira dan selalu mencoba membujuk agar anak perempuannya nurut dengan apa yang diucapkan sang papa. Tapi kali ini sepertinya Wijaya sudah keterlaluan. Menikah dengan cara dijodohkan itu sangatlah menyakitkan. Ia tak mau nasib Meira sama dengan dirinya dulu. Hidup di setir oleh kedua orang tua hingga tak bisa merasakan nikmatnya masa muda. Yang dilakukan Meira saat ini mungkin ada benarnya, memberontak sedikit memang perlu dilakukan agar hidupnya tak terlalu dikekang.


"Kamu gak setuju, Ma?" Wijaya membuyarkan lamunan sang istri.


"Apa kita tidak terlalu memaksa Meira, Mas. Mama merasa kasihan sama anak kita." Sherin mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya.


"Ma..." Wijaya mengernyit, heran dengan sikap istrinya yang agak berbeda kali ini.


"Saham kita akan melesat jika bekerja sama dengan perusahaan Gunawan. Ini sangat penting, Ma."


"Pikirkan perasaan Meira, Mas." Sherin meninggalkan Wijaya yang masih menghisap rokoknya.


"Ingat, Mei. Patuhi perintah Papa, kalau tidak kamu akan tau akibatnya!" tunjuk Wijaya di hadapan Meira yang sedang menunduk.


Mereka pergi meninggalkan Meira. Sementara Meira hanya berdiri menatap langkah kaki kedua orangtuanya yang semakin menjauh. Sedih rasanya dikunjungi orang tua bukan untuk melepas rindu tapi ia malah mendapat ancaman. Begitulah jika ia keluar dari alur yang sudah papanya buat.


***


Mobil sedan hitam sudah menunggu didepan rumah Meira. Pria itu dengan santainya menyender sembari memainkan ponselnya. "Cepat keluar." tulisnya lalu mengirim pesan itu pada penghuni rumah berwarna abu-abu itu.


Meira menghentakkan kakinya kesal. Tak seharusnya ia berangkat kuliah dengan pecundang itu. Baru saja ia merasakan hangatnya genggaman Rizal kemarin, hari ini ia malah dapat kejutan buruk dari sang papa. Ya. Wijaya lah yang menyuruh Boy menjemput Meira pagi ini. Ia juga mengancam Meira agar tidak menolak perintahnya. Meira hanya bisa pasrah, mungkin kali ini ia harus menuruti ucapan papanya saja dulu. Hanya berangkat bareng ke kampus bukan masalah besar, lalu ia akan mencari cara untuk pulang sendiri.


Meira masuk kedalam mobil tanpa berkata apa-apa. Tampak raut wajahnya yang sama sekali tak ingin di jemput oleh Boy.

__ADS_1


"Tuan putri dijemput kok manyun, sih," ucap Boy tersenyum merayu. "Kamu gak kangen apa dijemput sama aku, sayang?" Ia berusaha meraih tangan Meira tapi dengan cepat ditepis si empunya.


"Heh, Boy! ingat, lo itu udah punya pacar."


"Tapi kamu kan calon tunangan ku."ia berdalih.


"Sampai kapanpun gue gak akan mau tunangan sama lo."


Boy menahan napasnya. Ia mencoba bersikap lembut pada gadis yang pernah luluh padanya itu. Mencoba untuk tidak berbuat kasar agar hati gadis cantik itu luluh kembali.


"Kamu sudah dibutakan sama si tukang ojek belagu itu, Mei." ucapnya tanpa menatap.


"Tidak ada hubungannya dengan Rizal. Semua yang terjadi diantara kita itu karena ulah lo sendiri."


Boy terdiam. Bukan menyesali perbuatannya, tapi ia memikirkan cara untuk membuat pria berjaket hijau itu sakit hati. Ini adalah saat yang tepat untuk membuat hati pria itu teriris dan sadar bahwa dirinya tak pantas untuk Meira. Ia membelokkan setirnya ke arah minimarket SweetMart. Menggenggam paksa tangan Meira dan masuk kedalam toko bertema hijau itu. Tanpa lama-lama, ia langsung menuju ke arah kasir yang tepat sekali Rizal ada didepannya.


"Tolong ambilkan saya dua roti coklat dan dua Latte untuk saya dan tunangan saya ini, Mas." ucap Boy tersenyum sinis. Sementara Meira masih berontak berusaha melepaskan genggamannya.


Rizal tertegun. Ia menahan napas, berusaha tenang seperti seolah tak terjadi apa-apa didepannya saat ini. Tega sekali Meira padanya. Baru saja kemarin ia di kecup manja gadis itu, hari ini ia malah dapat tontonan yang mengejutkan. Hanya ada satu kata di hatinya. "Aku memang tak pantas."


"Ini roti dan Latte nya, Mas. Totalnya seratus ribu." Ia berusaha tak menoleh gadis cantik yang sebenarnya sudah jadi penghuni hatinya itu.


"Ini uangnya, lebihnya untuk kamu saja, saya tau kamu butuh." ucapnya tersenyum meledek.


Rizal mengembalikan beberapa lembar uang berwarna merah itu pada Boy. "Saya tidak butuh dikasihani, apalagi sama orang yang saya tidak kenal. Sekali lagi terima kasih, Mas dan Mbak sudah berbelanja di toko kami."


Rizal meninggalkan mereka dengan tatapan yang begitu kesal. Untuk kali ini Boy menang, ia bisa menebak raut wajah Rizal yang begitu menahan emosi tapi tak bisa berbuat apa-apa. Tak sia-sia ia melobi papanya Meira tadi malam.

__ADS_1


__ADS_2