
Meira mengambil selembar roti di atas meja makan. Hari ini ia punya banyak sekali jadwal kuliah. Gara-gara bolos kemarin, ia jadi kewalahan dengan tugas-tugas kampus. Ia tak habis pikir kenapa dia dengan gampang nya menerima tantangan dari Nayla yang jelas-jelas akan membahayakan dirinya.
Meira hanya bisa menghela napas, menyesali apa yang sudah terjadi kemarin. Ia juga sedikit kesal pada Dwi. Sampai sekarang anak itu belum menelponnya setelah tujuh belas kali panggilan tak terjawab tadi malam.
"Gimana keadaan Non sekarang, apa sudah baikan?"
"Lumayan, Bik." Meira meneguk susu hangatnya setelah menghabiskan roti dengan selai coklat itu.
"Syukurlah, Non. Bibik sangat khawatir melihat kondisi Non Meira tadi malam." ucap Lina lega setelah berbagai macam obat ia berikan pada Meira semalam.
"Oh, ya... Siapa Rizal itu, Non?" tanyanya lagi penasaran.
"Bukan siapa-siapa." jawab Meira singkat.
"Yang benar, Non?" Lina melirik Meira curiga.
"Lalu apa saya salah lihat tadi malam, ya." tambahnya.
Meira mengernyit. Apa yang Lina tadi malam?
"Memangnya apa yang Bibi lihat?"
"Anu... Ah tidak ada, Non?"
"Gaje banget sih, Bik." Meira kesal lalu pergi meninggalkan meja makan.
Meira mengeluarkan mobilnya, setelah sekian lama ia tak memakai mobil sendiri, akhirnya sekarang si merah kesayangannya itu keluar lagi.
Diperjalanan, telponnya berdering. Tertulis Dwi.
"Meira lo gak apa-apa?"
"Gue baik." jawab Meira singkat.
Dwi bernapas lega, akhirnya ia bisa mendengar suara Meira pagi ini setelah tadi malam ia tak bisa tidur nyenyak karna takut terjadi apa-apa pada Meira.
Setelah sampai di kampus, Meira bergegas masuk kelas. Ia tak mau bolos lagi seperti kemarin.Apalagi kalau ia diadukan pada mama atau papanya. Habis lah riwayatnya.
"Mei..." seseorang datang menghampiri Meira dan memeluknya erat.
"Lo gak apa-apa, kan? Maafin gue, ya, Mei. Gue ninggalin lo tadi malam. Gue dibohongi sama Nayla, katanya lo kabur. Pokoknya lo jangan pernah terima tantangan konyol dari cewek itu lagi ya." pinta Dwi lalu melepaskan pelukannya.
"Iya... Untung saja ada Rizal." ucap Meira keceplosan.
"Hah? Siapa?" Nama itu baru didengarnya.
"Ada lah pokoknya. Dia baik."
"Siapa, sih, Mei? Gebetan baru lo?" tanyanya tanpa henti.
"Bukan." jawab Meira tegas. "Dia cuma tukang ojek yang pernah gue sewa waktu berantem sama Boy."
Dwi hanya mengangguk. Sebenarnya ia curiga dengan Meira. Saat ia menyebut gebetan kepada Meira, sahabatnya itu langsung gelagapan dan salah tingkah. Apa benar Meira sedang menyukai seseorang yang bernama Rizal itu?
__ADS_1
***
"Saya istirahat makan sebentar, ya, Bang." izin Rizal pada Martin.
"Oke, Zal." ucap Martin lalu menggantikan posisi Rizal di meja kasir.
Risma memang tidak membawakan bekal untuk Rizal hari ini. Karena Risma sangat sibuk mempersiapkan kelengkapan panen. Pagi-pagi sekali Risma sudah berangkat ke sawah bersama Ningrum. Sedangkan makan siang untuk Tika sudah disiapkan oleh Wina. Wina memang sering mengantarkan makanan untuk Tika sang keponakan. Ia juga selalu menjaga Tika jika Risma tak sempat pulang untuk melihat kondisi Tika.
"Tunggu!" seru seseorang saat Rizal hendak menyebrang jalan.
Rizal menoleh. Betapa terkejutnya dia saat melihat perempuan yang memanggilnya itu. Mau apalagi dia?
"Lo mau kemana?" tanya Meira saat sudah berada di samping Rizal.
"Ada apa?" Rizal balik bertanya.
"Gue mau ngucapin terima kasih sudah nolongin gue tadi malam."
"Sama-sama." Rizal lalu hendak pergi meninggalkan Meira.
"Eh... Tunggu dulu." Meira menarik tangan Rizal.
Rizal berbalik. "Apa lagi? Saya lagi buru-buru."
"Memangnya mau kemana, sih?"
"Makan."
"Kebetulan gue mau traktir lo. Sebagai ucapan terima kasih dan permintaan maaf gue karena udah bikin lo repot tadi malam." tambahnya.
"Tidak usah, aku ikhlas." Rizal buru-buru menyebrang tapi Meira tetap saja mengikutinya dari belakang.
Titttt....
Suara klakson terdengar keras, sontak saja Rizal menoleh. Ternyata Meira sedang mengikutinya tapi tak melihat kondisi jalanan lagi. Ia menghela napas, lalu menggenggam tangan Meira hingga sampai diseberang jalan.
"Huh... Kaget banget gue tadi." Meira mengelus dada.
Rizal melepaskan genggamannya. "Apa kamu tidak pernah diajari menyebrang jalan sama orang tua mu, ya?" ucapnya sedikit kesal.
Meira seketika langsung diam mendengar pertanyaan Rizal. Ia menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sesak. Kalau saja Rizal tau sejak kecil ia sangat jarang bertemu orang tuanya. Orang tua yang ia kenal hanya Lina dan Burhan yang tak lain adalah suami Lina.
Kalau hidup boleh memilih, ia akan memilih terlahir dari rahim Lina saja. Biarkan Lina dan Burhan yang menjadi kedua orang tuanya.
Meira menyeka air matanya yang hampir saja menetes karena ucapan Rizal.
"Mei..." Rizal memegang pelan pundak Meira. Meskipun Meira menyembunyikan kesedihannya itu, Rizal tetap dapat melihatnya.
"Ayo kita makan, katanya kamu mentraktir aku." tambah Rizal. Ia jadi merasa tak enak hati. Saking kesalnya ia jadi tak sadar dan sembarang bicara. Baru saja tadi malam iya menenangkan hati gadis cantik ini karena masalah keluarganya. Dan sekarang ia malah memberi pertanyaan yang membuat Meira sakit hati.
Mereka duduk di kursi biru warung pecel lele itu. Rizal memesan dua porsi, satu untuknya dan satu lagi untuk Meira.
"Wah... keliatannya enak banget." ucap Meira dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Mei..." Rizal menatap Meira. " Maaf atas perkataan ku tadi, aku cemas melihat kamu yang hampir tertabrak."
"Gak apa-apa, gue yang salah, kok." ucap Meira tersenyum.
Meira mencicipi nasi pecel lele itu, ia menyantapnya dengan lahap. Makanan ini sungguh enak.
"Ini enak banget, Nu. Gue baru pertama kali loh makan ini. Kok gue baru tau ya kalau di dekat kampus ada makanan seenak ini." ucap Meira lalu menyantap makanannya lagi.
Rizal hanya tersenyum. Meira benar-benar anak sultan. Meira sama sekali tak pantas jika bergaul dengannya. Pecel lele saja ia tak pernah makan. Sedangkan itu adalah makanan favoritnya.
Rizal menyantap makanannya kembali. Ia harus buru-buru. Tidak enak jika izin keluar lama. Takutnya Martin akan memarahinya.
Kali ini Meira yang menghentikan kegiatan makannya. Ia menatap Rizal dalam, melihat wajah manis itu yang sedang makan dengan lahap.
Bibir itu...
"Nu... apa yang gue lakuin ke lo malam itu?"
Pertanyaan Meira membuat Rizal tersedak. Ia segera mengambil minum.
"Kenapa? Apa gue nyium lo?" tanya Meira spontan.
" Lupakan saja." Rizal kembali meneguk air putih untuk melegakan perasaannya.
"Berarti iya." Meira membuat kesimpulan.
"Maafin gue, ya, Nu. Gue gak sadar sama apa yang gue lakuin. Sekali lagi gue minta maaf." ucapnya memohon.
"Em, sudah lah. Tidak apa-apa." ucap Rizal
"Kenapa kamu membahayakan diri seperti itu?" tanya Rizal mengalihkan pembicaraan.
"Gue ditantang selingkuhan Boy. Gue gak suka diledekin. Gue terima lah tantangannya minum sebotol Wine." tutur Meira.
Rizal hanya bisa menggeleng menanggapi cerita Meira.
"Ya sudah gue mau bayar dulu. Kali ini lo gak boleh nolak." ancamnya.
"Iya." Rizal mempersilahkan Meira membayar.
Mereka pun kembali, saat Meira ingin kembali lagi ke kampus. Rizal memanggilnya.
"Makasih traktirannya." ucap Rizal tersenyum pada Meira.
"Harusnya gue yang makasih." ucap Meira membalas senyum Rizal.
"Gue balik dulu, ya."
Rizal mengangguk.
"Dadahhh..." Meira melambaikan tangannya pada Rizal.
Rizal pun melambaikan tangannya diiringi dengan senyuman.
__ADS_1