
"Dasar mobil rese!" Meira menendang ban belakang mobil yang tiba-tiba kempes.
Meira melirik jam tangannya, sudah pukul setengah lima sore. Dia sangat menyesal menyuruh Dwi dan Dea pulang duluan tadi. Rencananya malam ini mereka ingin pergi menghadiri konser band Smokey. Sebelum pergi, ia ingin ke mal sebentar untuk membeli beberapa baju untuk dikenakan nanti malam. Dwi dan Dea memang sengaja ia suruh duluan, karena kalau pergi ke mal bertiga suka lupa waktu. Sedangkan konser dimulai jam setengah tujuh malam.
Meira duduk di pinggir jalan yang tampak sepi itu. Ia mengambil ponselnya di tas, mencoba menghubungi Burhan ataupun Sarni. Tapi niatnya urung saat ia melihat motor hitam berhenti tepat didepannya. Dia adalah pria berjaket hijau bertuliskan Ojekku di dada kirinya.
Rizal datang di waktu yang tepat. Meira sama sekali tak kepikiran untuk meminta bantuan pada Rizal. Tapi takdir berkata lain, pria ini datang dihadapan Meira dengan raut wajah agak panik.
"Mei..." panggilnya.
"Nu, lo emang benar-benar penyelamat gue."
"Memangnya aku ini pahlawan," ia turun dari motornya lalu menghampiri Meira yang sedang duduk kelelahan.
"Mobilmu kenapa?" tanyanya.
"Lihat, tuh." ia menunjuk ban mobilnya yang bocor.
"Kamu ada ban cadangannya gak?" tanya Rizal.
Meira menggeleng.
"Gak punya?" tanya Rizal memastikan.
"Gak tau."
"Coba buka bagasinya." perintah Rizal.
Meira menuruti Rizal, ia membuka bagasi dan ternyata semua peralatannya masih lengkap. Ada ban cadangan beserta dongkraknya. Meira menghela napas lega.
"Duduk aja dulu, Mei. Biar aku ganti ban mobilmu. Sepertinya butuh setengah jam, gak papa?" tanya Rizal.
Meira mengangguk cepat. "Gak papa, gue seneng malahan."
Rizal mengernyit. Melirik Meira heran, ini bukan situasi yang menyenangkan baginya.
"Maksudnya, gue seneng ada lo disini bantuin gue."
"Eh, lo, tuh keren banget tau, Nu. Serba bisa." ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Lebay, dulu aku pernah kerja di bengkel makanya bisa."
"Dua jempol deh buat lo." puji Meira.
Rizal tak menghiraukan ucapan Meira, ia fokus melanjutkan pekerjaannya. Dalam hatinya tadi tidak ingin membantu cewek ini. Selain tidak ingin bertemu dengan Meira, ia juga mau cepat-cepat ke pangkalan. Mumpung masih sore, pikirnya.
Tapi hatinya menolak pikirannya. Ia sama sekali tak tega melihat Meira duduk dipinggir jalan dengan wajah kebingungan.
"Masih lama, ya, Nu?" tanya Meira lalu melirik jam tangannya.
__ADS_1
"Sebentar lagi." ucap Rizal ditengah kesibukannya memasang ban.
"Memangnya mau kemana?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Rizal, setelah ia menahan untuk tidak mau tau urusan cewek ini. Tapi rasa penasarannya yang mendorong untuk bertanya.
"Rencananya mau ke mal, sih. Terus habis itu mau nonton konser band Smokey," ucapnya sembari men-scroll ponselnya, memastikan Dea sudah memesan tiket untuknya.
"Lo mau ikut, gak? Sebagai tanda terimakasih, gue beliin tiket deh buat lo." ucapnya lalu menoleh Rizal.
"Enggak, makasih, Mei. Aku gak tahan asap. Lagian, mendingan aku ngojek aja." ucapnya tanpa menoleh.
Rizal menghentikan kegiatannya sebentar dan Menatap Meira yang duduk memperhatikannya.
"Bukannya... Band itu suka rusuh, ya?" Ia mengencangkan baut yang tadi dilepaskan.
"Iya, sih. Tapi kalo terjadi kerusuhan gue bakal kabur secepatnya, gampang kan?" ucapnya dengan senyum santai.
"Jangan gila kamu. Itu bahaya tau."
Meira tersenyum. "Lo perhatian banget sama gue, Nu."
Mendengar perkataan Meira membuat Rizal langsung terdiam.
Kok, bisa...
Ia buru-buru memasukkan peralatan untuk mengganti ban mobil ke dalam bagasi. Akhirnya selesai juga. Ingin ia menepuk mulutnya sendiri yang sudah berucap seperti tadi. Benar. Sangat perhatian.
"Eh, tunggu dulu, Nu!" Meira berlari ke dalam mobil. Ia buru-buru mengambil kantong berisi sekotak donat kentang itu lalu kembali menghampiri Rizal.
"Lo pasti capek banget, kita makan ini dulu, yuk." Meira menunjukkan kantong berwarna oranye itu.
"Gak usah, Mei. Aku buru-buru soalnya." tolak Rizal. Sebenarnya ia tak sedang buru-buru, hanya saja tidak ingin berlama-lama dengan cewek itu.
"Kok lo gitu, sih." ucap Meira menunduk memasang wajah sedih supaya Rizal luluh.
"Tapi..." Rizal tampak menimbang-nimbang.
"Ayolah, lo bakal nyesel nolak ini. Ini donat kentang paling enak se Jakarta, loh." goda Meira dengan wajah yang sangat meyakinkan.
Rizal menghela napas, akhirnya ia mengiyakan ajakan Meira. Lagi pula hanya makan donat lalu pergi. Mereka duduk di taman Jalan Kenanga itu. Yang memang tak jauh dari mobil Meira mogok tadi.
Tentu saja Meira sangat senang saat Rizal mengangguk. Tidak sia-sia juga ia menerima bingkisan dari tantenya yang khusus datang ke kampus hanya untuk memberikan cemilan manis itu.
Ceritanya saat jam kuliahnya terakhir selesai, ia disuruh ikut keruangan Dewanto. Karena ada seseorang menunggu disana. Meira menurut saja, saat sudah berdiri di depan pintu. Ia tersenyum saat melihat sosok wanita cantik berambut keriting itu datang menghampiri dan memeluknya.
"Apa kabar sayang?" tanyanya.
"Baik, Tan." Meira membalas pelukan sang tante.
__ADS_1
"Ini ada bingkisan buat kamu, sayang. Tadi Tante teringat dengan kamu saat mau menjemput Om mu." ucap Melinda.
"Makasih banyak Tante Meira yang paling Meira sayang." Meira menerima bingkisan berwarna oranye itu.
"Kalau begitu Meira pulang dulu, Om, Tan. Oh, ya, salam buat kak Ardi yang masih sibuk dengan dunianya sendiri itu." Meira terkekeh.
"Kamu ini." Melinda hanya tersenyum mendengar ucapan Meira yang memang benar itu.
Suasana sore membuat udara taman semakin asri. Ada banya anak-anak berlarian sembari membawa bola ditangannya.
"Cobain, Nu."
Rizal mengambil donat dengan toping coklat itu lalu memakannya.
"Enak, kan."
Rizal mengangguk. "Enak, kok. Enak banget malah." ucapnya sembari memakan donat itu dengan nikmat. Ternyata Meira tidak bohong, donat ini benar-benar enak.
"Tuh, kan, udah gue bilang." ucapnya dengan senyum penuh kemenangan.
Meira menatap kening Rizal lalu tertawa.
"Lo kayak Gaara, Nu." ucapnya tertawa lagi.
"Kenapa?" tanya Rizal yang masih mengunyah donatnya.
"Sini." Meira menarik badan Rizal agar bisa agak dekat dengannya. Ia membersihkan kening Rizal yang hitam karena oli yang tertempel di kunci saat mengganti ban mobil tadi.
Tapi hal yang tak terduga terjadi, salah satu dari anak-anak yang berlarian tadi melempar bola tepat kena kepala Rizal hingga tak sadar wajahnya sangat dekat dengan wajah Meira.
Deg...
Hati Meira seketika menjadi tak karuan. Ia tak bisa berkata-kata karena bibirnya di bungkam oleh benda lembut selembut donat kentang itu. Tapi... Kenyal juga.
Ia sontak menjauhkan tubuhnya. Memegangi bibirnya, tak percaya akan hal yang terjadi beberapa detik lalu.
"Aww..." Rizal meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya setelah sadar dari kejadian tak terduga barusan.
"Lo gak papa, Nu?" tanya Meira yang masih dengan wajah merah merona.
"Gak papa." jawabnya cepat. Rasa gugup masih belum hilang.
"Dasar anak-anak bandel." gerutu Meira. padahal dalam hatinya mengukir senyum lebar.
"Mungkin mereka gak sengaja," Rizal menunduk, belum berani menatap wajah cantik itu.
"Maaf atas kejadian tadi, Mei. Maaf banget."
"Bukan salah lo, kok."
__ADS_1
Sudah dua kali...
Meira masih duduk diam setelah Rizal pamit padanya. Ia masih membayangkan sentuhan tak terduga beberapa menit yang lalu.