My Sweet Green

My Sweet Green
Lollipop Berbentuk Bibir


__ADS_3

Rizal melirik jam tangannya, sudah hampir pukul setengah dua belas malam. Dari toko kerumah memang tidak terlalu jauh, sekitar setengah jam.


Jalanan tampak sudah sepi sekali. Untung saja jalan yang ditempuh Rizal ada lampu jalan yang menerangi. Jadi ia tak terlalu takut dengan suasana yang hampir tengah malam itu.


"Berhenti!"


Seseorang menghadang motor Rizal. Rizal kaget setengah mati. Ia sontak menghentikan motornya dengan rem penuh. Jantungnya berdebar kencang. Hampir saja ia menabrak perempuan yang muncul mendadak itu.


"Mas, nebeng, dong." ucap perempuan itu sempoyongan.


Rizal melihat ke arah sekitar. Sepi sekali, lalu dari mana datangnya perempuan ini?


Betapa terkejutnya Rizal saat perempuan itu mendongak ke arahnya. Perempuan yang ia pertanyakan kedatangannya ke toko hari ini. Perempuan yang ia doakan agar tak akan bertemu lagi dengannya. Meira.


"Kamu kenapa, Mei?"


Bukannya menjawab, Meira malah kembali berjalan terhuyung. Ia tampak tak bisa lagi menjaga keseimbangan tubuhnya. Rizal berlari mengejar Meira yang berjalan tak tentu arah itu. Membawanya kembali ke motor.


Bau alkohol menyeruak di tubuh Meira. Rizal menggeleng, cewek itu sepertinya sudah kehabisan akal. Gara-gara putus dengan sang pacar ia sampai rela membahayakan diri sendiri seperti ini.


"Ayo pulang." Rizal menarik Meira, memakaikan jaket ke tubuh Meira yang tampak kedinginan. Ia bersusah payah mendudukkan Meira di belakangnya. Mau tidak mau tangan kirinya menggenggam kedua tangan Meira yang melingkar di pinggangnya.


Meira sesekali ingin melepaskan pegangannya hingga Rizal beberapakali hampir kehilangan keseimbangan.


"Meira, diam." pinta Rizal. Tentu saja Meira tak menghiraukan ucapan Rizal.


"Eh, Mas, Stop!" Meira merasa ada yang ingin keluar dari mulutnya.


Rizal menepikan motornya. Ia menoleh kebelakang, terlihat wajah Meira yang sudah sangat pucat.


Meira turun dari motor dan memuntahkan cairan yang sudah di minumnya di klub tadi. Rizal panik, ia tak tau harus berbuat apa. Ia mencoba menggosok punggung Meira.


"Meira..."


"Gue gak apa-apa, gue kuat. Buktinya gue bisa menerima tantangan dari cewek gila itu." ucapnya ngelantur.


"Ayo kita pulang."


Rizal kembali menghidupkan motornya dan mengajak Meira naik ke atas motor. Sebaiknya ia harus cepat-cepat mengantar perempuan ini. Untung saja Meira bertemu dengan dirinya. Kalau bertemu orang jahat entah bakal bagaimana jadinya.


Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Meira. Rumahnya tampak sepi. Tidak ada kekhawatiran sedikitpun.


"Permisi!" teriak Rizal. Tapi belum ada sautan dari dalam rumah.


"Apa rumah mu selalu sepi begini?" ucap Rizal heran.


"Permisi!" Ia mencoba kembali memanggil orang yang ada di dalam rumah.


"Mas ojek, kita pulang saja. Tidak ada orang disini." ucap Meira lalu berjalan ke sembarang arah.


Rizal mencoba memegang lengan Meira tapi di hentakkan oleh si empunya. "Lepasin, gue mau pulang."

__ADS_1


"Ini rumah kamu." Rizal kembali menarik tangan Meira.


"Rumah macam apa yang tidak ada penghuninya seperti ini? Rumah hantu?!"


"Yang bisa dikatakan rumah itu didalamnya ada sebuah keluarga yang hangat. Ada mama, ada papa. Setidaknya ketika lo berteriak meminta dibukakan pintu, ada wanita cantik yang berkata. 'Nak kamu sudah pulang' Ini bukan rumah!" Meira berteriak lalu meneteskan air mata. Itulah yang ia pendam selama ini. Minum sebotol wine membuatnya berkata jujur dan meluapkan isi hati tentang keadaan keluarganya selama ini.


Rizal hanya bisa terdiam, ia bisa menyimpulkan bahwa Meira selama ini tak dapat kehangatan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia jadi merasa lebih bersyukur meskipun tidak ada sosok ayah lagi.


Rizal mencoba meraih tubuh perempuan cantik itu. Memeluknya hangat. Mengelus rambut lurus itu.


"Jangan nangis lagi, ya."


Dalam keadaan mabuk begini Meira masih sedikit sadar. Ia sadar kalau saat ini ia berada di pelukan orang yang sangat tidak asing lagi baginya. Pelukan hangat yang pernah ia rasakan sebelumnya. Pria dingin yang sebenarnya perhatian itu.


"Anu..."


Tak lama seseorang membuka gerbang. Lina sangat terkejut Melihat majikannya yang tampak sangat kacau.


"Ya ampun, Non Meira!" teriak Lina histeris.


"Saya tadi bertemu Meira di jalan, Bu. Ia sepertinya mabuk."


Lina menutup mulutnya. Ia merasa bersalah karena percaya-percaya saja ucapan Dwi ditelepon tadi. Perasaannya memang sudah tidak enak sejak awal Meira pergi.


"Mas bisa bantu saya membawa Non Meira masuk kedalam?" pintanya.


Rizal mengangguk. Ia lalu merangkul Meira dan membantunya berjalan. Lina mengiringi sembari menunjukkan arah kamar Meira.


"Baik, Bu."


"Saya akan membuatkan teh hangat untuk Non Meira. Mas tolong antar ke kamarnya, ya." pinta Lina.


Akhirnya setelah bersusah payah membawa Meira, mereka pun sampai di kamar Meira. Rizal membaringkan Meira di atas kasur berwarna coklat itu.


"Anu... Gue tau lo itu anu." ucapnya lalu menarik tubuh Rizal hingga mendekati wajahnya.


Rizal yakin jantungnya sekarang berhenti beberapa detik.


"Meira, lepaskan." pinta Rizal lalu mencoba melepaskan dekapan Meira.


"Gue mau lo disisi gue terus, Nu." Meira memejamkan matanya. Kini Badannya terasa panas sekali. Ia mendudukkan dirinya, membuka kancing bajunya. Dengan cepat Rizal menghentikan aksi Meira itu. Ini sangat kacau. Siapa yang sudah membuat Meira seperti ini.


"Meira, hentikan." ucap Rizal.


Meira diam, ia menatap Rizal tajam. Mengamati wajah manis itu. Lalu mengalungkan kedua tangan nya di pundak Rizal.


"Lollipop..."


Meira mendekatkan wajahnya. Mengecup bibir merah jambu itu hingga si empunya tertegun. Kini Rizal tak bisa berkata kata. Jantungnya berdegup kencang.


"Manis..." ucapnya lalu mencoba kembali mendekati Rizal.

__ADS_1


Rizal buru-buru menjauhi Meira. "Mei, sadar..."


Lina kemudian datang membawa segelas teh hangat dan air putih. Ia meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih sudah mengantar non Meira. Beruntung non Meira bertemu orang baik seperti Mas." ucap Lina.


"Sama-sama, Bu." Rizal kemudian berdiri hendak pamit pulang.


"Oh, ya, Mas tukang ojek, kan?" tanya Lina.


Rizal mengangguk.


"Kalau begitu saya akan bayar ongkos ojek non Meira. Berapa, ya, Mas?" tanyanya lagi.


"Tidak usah, Bu. Saya ketemu Meira tidak sedang ngojek, kok." ucap Rizal tersenyum pada Lina.


"Ngomong-ngomong, Mas kenal dengan non Meira?"


"Kenal, Bu. Meira pernah nyewa ojek saya sehari penuh. Dan juga ia sering ke toko tempat saya bekerja." tutur Rizal.


"Ya ampun, kalau begitu saya sangat bersyukur karena non Meira bertemu dengan orang yang ia kenal. Saya sangat berterimakasih, Mas." Lina menundukkan badannya hormat.


"Iya, Bu. Sesama manusia memang harus saling membantu bukan. Apalagi saya kenal dengan Meira."


"Mas namanya siapa?" tanya Lina penasaran.


"Rizal, Bu." Rizal mengulurkan tangannya pada Lina.


"Saya Lina. Asisten rumah tangga disini." ucap Lina.


Rizal mengangguk.


"Kalau begitu saya pulang dulu, Bu. Sudah larut malam. Semoga besok kondisi Meira sudah membaik. Dia sepertinya minum terlalu banyak." ucap Rizal lalu menghidupkan motornya.


"Sekali terimakasih, Rizal."


Rizal kembali melihat jam tangannya. Sudah pukul satu malam. Ia melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Ia takut nanti sang ibu khawatir.


Setelah sampai di rumah ia melihat Risma sedang duduk di depan rumah. Wanita itu duduk dengan perasaan cemas.


"Maaf Rizal agak telat pulangnya." Rizal mencium punggung tangan Risma.


"Ibu sangat khawatir, Nak."


"Tadi ada beberapa kerjaan tambahan, Bu." ucap Rizal berbohong. Ia tak mau nanti Risma berpikir yang tidak-tidak.


"Iya...iya, ayo kita masuk. Ibu sudah buatkan teh hangat untukmu. Setelah minum, kamu harus langsung istirahat, ya, Nak." ucap Risma.


Rizal mengangguk lalu meneguk teh hangat yang dibuat sang ibu.


Apa itu tadi?

__ADS_1


Rizal memegangi bibirnya yang sudah di sentuh oleh Meira. Walau Meira melakukannya secara tidak sadar, tapi bagi Rizal itu adalah hal yang sangat mengejutkan.


__ADS_2