
"Capek?" tanya Meira sembari menyodorkan minuman berwarna oranye tersebut pada Rizal.
Rizal hanya mengangguk lalu tersenyum padanya. Ia kemudian meneguk minuman rasa jeruk itu. "Terima kasih, Mei."
"Oh, ya, gimana tangan temanmu yang terkena Latte panas tadi siang?" tanyanya.
"Gak papa, kok."
"Hmm." Meira menghembuskan napas lega.
"Kenapa?" tanya Rizal bingung.
Meira menggeleng. Ia sedikit kesal dengan ketidakpekaan Rizal. Ingin ia berteriak mengeluarkan kata-kata yang ia pendam dalam hati. Aku cemburu!
"Apa kamu memang se humble itu sama temen cewek kamu, Nu?"
Rizal mengernyit. Ia mulai menelisik sikap Meira yang sedari tadi terus mengungkit cerita di toko tadi siang.
"Nggak juga, biasa aja, Mei." ucapnya tersenyum lembut pada Meira.
Meira hanya mengangguk. Percakapan mereka terjeda sejenak. Rizal kembali meminum air jeruk yang diberi Meira barusan. Suasana canggung kembali terjadi sampai Meira mengatakan kalau ia ingin pulang duluan.
"Aku akan mengantarmu." Rizal mengambil ranselnya lalu berjalan mengikuti Meira.
"Kayaknya gak usah deh, Nu." ucapnya lesu. Apa sebaiknya ia sadar diri kalau kebaikan Rizal hanyalah bentuk simpati sebagai manusia biasa. Apa dia menerima hubungan ini hanya karena rasa kasihan atas cerita keluarga Meira yang berantakan?
Rizal tiba-tiba menggenggam tangan Meira. Setelah menelisik sikap Meira yang berubah dingin padanya, ia tau kalau Meira sedang ngambek karena insiden Latte di toko tadi.
"Kamu marah, ya?"
Meira menoleh dengan tatapan mata yang tajam. "Marah kenapa?" ia balik bertanya.
"Cemburu?" goda Rizal.
__ADS_1
"Nggak. Mungkin cuma aku yang geer sama perasaan sendiri."
"Ngomong apa, sih, Mei?" Rizal menarik tubuh Meira kedalam dekapannya. Ia mengelus lembut rambut lurus itu. "Aku sangat menyayangimu."
Pernyataan yang memang tulus dari hati Rizal yang paling dalam. Rasa sayang nya terhadap Meira semakin hari semakin besar. Walau berat untuk menjalin hubungan yang sangat berbeda status ini, ia berjanji akan siap menghadapinya.
"Bukan karena kasihan melihat kondisiku kan?" tanya gadis manis yang masih nyaman didalam pelukan sang pujaan hati tersebut.
"Berhenti merasa selalu kesepian. Aku akan selalu ada buat kamu."
Meira tersenyum, kedua tangannya meraih pipi manis itu. "Gak nyangka, ya, Rizal yang aku kenal cuek setengah mati bisa romantis juga." ia terkekeh.
"Itu romantis, ya?" ucap Rizal pura-pura polos. Keduanya tertawa, saling menatap hingga Meira kembali ke pelukan yang membuatnya nyaman itu.
***
Meira menutup telpon nya dengan senyum sumringah. Bulan depan 'Si Buaya' akan pulang. Teman masa kecilnya hingga tempat curhat nya kini telah kembali setelah menghilang akibat gagal menikah dua tahun lalu.
"Akhirnya kak Ardi pulang juga. Kalau nanti dia sudah disini, akan aku kenalkan dengan Rizal." Ia bergumam sendiri.
Begitupun dengan Ardi. Seandainya ia bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu, ia akan pura-pura tidak mengenali. Begitu tidak sukanya mereka pada calon menantunya dulu.
Semua cerita pernikahan gagal dua tahun lalu tidak diketahui oleh Meira. Karena ia masih bersekolah di luar negeri. Cerita buruk itu tak pernah di keluarkan Ardi. Ia tau hanya Ardi yang gagal menikah, ia pun turut prihatin.
***
"Kak Ardi mau pulang bulan depan."
"Baguslah. Langsungkan saja pertunangan mu dengan Boy. Biar jadi kejutan." ucap Wijaya lalu mengunyah roti dengan selai coklat itu.
Meira langsung terdiam. Sudah puluhan bahkan ratusan kali ia menolak pertunangan ini. Tapi tidak ada respon sama sekali dari sang papa. Papanya hanya menganggap tolakan Meira cuma angin lalu. Sebab dulu dirinya juga begitu. Sherin juga tidak mau dijodohkan dengannya, tapi sekarang semua berjalan dengan baik.
"Menjauh lah dari laki-laki dekil itu, atau papa akan turun tangan," ucapnya santai tapi sangat menusuk hati Meira. "Papa tau kamu masih berhubungan dengannya."
__ADS_1
Dia satpam atau lambe turah sih!
Meira mengepal tangannya kesal. Ia menggerutu dalam hati. Sarni selalu mengadukan ke papa jika ia terlihat sedang bersama Rizal. Lebih tepatnya cari muka.
"Pa... Tolong, kali ini saja papa mau mendengarkan Meira. Boy bukan laki-laki yang baik untuk Meira. Kalaupun Meira tidak menikah dengan Boy. Perusahaan papa juga tidak akan bangkrut kan."
Wijaya berdiri dan menatap tajam anak semata wayangnya. "Keputusan papa sudah bulat. Kalau kamu macam-macam, kamu akan menerima akibatnya."
"Bagaimana kalau Meira balikkan ancaman Papa?" Ia menatap lekat pria paruh baya itu. "Meira tidak akan mau bertunangan apalagi menikah dengan pria kasar seperti Boy. Kalau Papa tetap memaksa, Papa tidak akan melihat Meira lagi untuk selamanya."
Ia kemudian pergi meninggalkan Papa yang masih berdiri diam di ruang keluarga. Meira mengambil kunci mobil lalu pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Hatinya sangat dongkol, setiap ada pertemuan dengan papanya pasti selalu ada pertengkaran. Sepertinya sang papa ingin bertemu dengannya hanya untuk membahas soal pertunangan. Lagi dan lagi.
Keluarganya jauh dari kata harmonis walau bergelimang harta. Meira merasa hidupnya terasa hampa. Ia meninju setir, menyesali pertemuannya dengan Boy. Kalau saja ia tak termakan rayuan gombal buaya kampus itu, mungkin masalahnya jadi tak serumit ini.
Di sisi lain, ia juga merasa punya tempat mengadu. Rizal... Pria sederhana yang ia temui waktu bertengkar dengan sang mantan di jalan Kenanga waktu itu, sekarang tak disangka menjadi bagian hidupnya.
***
Ia menatap lekat pria berjaket hijau yang sedang duduk di pangkalan ojek itu sendirian. Dengan mata berlinang dan tatapan sendu ia berlari dan memeluk erat pria yang tadinya sedang santai menunggu orderan. "Kenapa, Mei?"
"Papa..." ucap gadis itu sembari membenamkan wajahnya di dada bidang milik Rizal.
Rizal mengelus lembut rambut Meira. Ia mencoba menenangkan gadis cantik itu. "Tenangkan dulu pikiranmu, lalu ceritakan padaku."
"Masalah pertunangan..." Ia mendongak dengan mata sedikit bengkak.
"Sudahlah, Mei. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kita cari jalan keluarnya agar papamu luluh."
"Bawa aku," tatapan sendu itu kini berubah menjadi lekat dan penuh harap. "Hadapi papaku."
Rizal termenung. Apakah ia akan sanggup? Ini sungguh berat. Ia sayang dengan perempuan yang ada di dekapan nya saat ini, tapi disisi lain, ia juga harus menyiapkan mental untuk bertemu dan menghadapi masalah yang pastinya tidak akan mudah di jalani nanti nya. Belum lagi ia harus memastikan kesembuhan Kak Tika.
"Baiklah, mungkin permintaanku terlalu berat." Meira memundurkan tubuhnya dari cowok manis itu.
__ADS_1
"Aku mau." Rizal menarik tangan Meira. Merasakan pelukan hangat itu sekali lagi.