
"Gimana kabar kak Tika?" tanya Meira sembari tersenyum manis dari layar ponsel milik Rizal.
"Kak Tika baik." ucap pria manis itu balas senyum.
Malam terindah bagi Meira adalah malam ini. Perasaannya sekarang seperti baru menemukan seseorang yang benar-benar ia cintai. Menatap wajah Rizal dengan kaos abu-abu polos yang berbaring di atas kasur sederhana di kamar bernuansa hitam itu membuat hatinya sejuk. Andai hubungan mereka tak terhalang keluarga. Pasti tidak akan serumit ini, pikirnya.
"Kamu ganteng deh, Nu." ucapnya tersenyum menggoda membuat lelaki manis itu menghela napas menahan salah tingkah.
"Tidur, gih." Rizal mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tau gak, gue belum pernah merasa se bahagia ini. Makasih untuk hari ini, Anu."
Rizal mengangguk sembari tersenyum. Harusnya ia yang berterima kasih karena Meira sudah memberinya kesempatan untuk memberi ruang di hatinya. "Selamat malam, Mei." ia melambaikan tangannya didepan layar ponsel. Di balas oleh Meira dengan caranya yang sama. Rizal menarik selimutnya, mencoba mengatur napas terlebih dahulu sebelum benar-benar memejamkan matanya untuk beristirahat. Semoga saja tidurnya nyenyak malam ini, karena bayangan wajah gadis cantik penghuni hatinya itu terus mengelilingi kepalanya.
Begitupun dengan Meira, hatinya kini masih berbunga-bunga. Ia belum bisa melupakan pernyataan lembut dari Rizal tadi sore. Ternyata tidak sia-sia dia pergi sendiri menemui Rizal saat sang papa memarahinya habis-habisan waktu itu. Rizal adalah tempat ternyaman nya, walaupun sekarang ia harus di hadapkan dengan situasi yang berat. Ia yakin pilihannya tidak salah.
***
Erin menyenggol bahu Riska seraya melirik Rizal yang tengah sibuk membereskan roti-roti dibelakang mesin kasir. Dari tadi pagi Rizal tampak semangat dan sumringah, tidak seperti biasanya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta saja. Seolah risih dengan kode dari Erin, Riska akhirnya bertanya juga.
"Gebetan gue lagi seneng banget kayaknya." ucapnya dengan nada sedikit kesal.
Riska menahan tawa, geli mendengar pernyataan teman kerjanya itu. Gebetan, memang panggilan itu sudah panggilan permanen dari Erin untuk Rizal.
"Sudah jadian sama cewek pilihannya mungkin, yah... Lo telat, Rin." ledek Riska lalu tertawa lagi.
Erin hanya menatap Riska sewot. Ia mendadak lemas mendengar pendapat Riska barusan. Apa benar Rizal sudah jadian dengan cewek lain? Harapan status gebetan menjadi pasangan kini pudar sudah. Sementara Riska masih tertawa meledek dirinya.
Sudah tengah hari, Rizal mengambil tas berwarna hitam itu lalu membukanya. Ia duduk di gudang yang penuh dengan barang stok itu, mengambil kotak bekal berwarna biru lalu menyantap isinya dengan lahap sampai seseorang mengejutkannya.
"Em, Zal..." Erin menepuk bahunya.
"Ya?" Ia menghentikan kegiatan makannya saat melihat Erin sudah duduk disampingnya.
"Gue mau nanya sesuatu, boleh?"
"Rizal mengangguk sembari tersenyum. "Boleh, dong. Ada apa?"
Erin menghela napas, sebenarnya perasaannya pada Rizal itu benar-benar ada. Bukan hanya sekedar candaan di toko saja. Pasalnya, sejak awal bertemu dan mengajarkan Rizal bagaimana memanaskan roti-roti yang ada di balik mesin kasir waktu itu, ia sudah menaruh hati pada pria jangkung nan manis itu. Perlakuan lembut Rizal pada setiap lawan bicaranya memang bisa membuat orang menjadi salah paham. Seperti Erin contohnya.
__ADS_1
"Lo kayaknya seneng banget hari ini?"
"Biasa aja, kok, Rin," ucap Rizal lalu menyuap nasinya. "Kamu udah makan?"
Plisss jangan kasih gue perhatian kayak gini, bisa-bisa gue meleleh. Erin menggigit bibir bawahnya.
"Udah, kok. Lanjut aja, Zal." ucapnya sedikit gugup.
Rizal menutup kotak bekal berwarna biru itu. Lalu kembali menatap Erin yang masih duduk di sampingnya. "Memangnya hari ini aku aneh, ya?" tanyanya lagi.
"Eh, Enggak, kok." ditatap dengan jarak lumayan dekat membuat jantung Erin kembali berdebar setelah perhatian kecil dari Rizal tadi.
"Cuma lo keliatan banyak senyumnya aja hari ini. Kayak menang Door prize." ucapnya sembari tertawa untuk menghilangkan salah tingkah.
"Ada-ada aja kamu, Rin," ucapnya ikut tertawa. "Balik ke kasir, yuk. Takut bos Martin nyariin."
Erin mengangguk, mereka sama-sama tertawa. Panggilan Bos pada Martin sudah lekat karena berawal dari Rizal. Memang sudah sedekat itu mereka berempat. Meskipun terkenal pendiam dan cuek, tapi Rizal bisa cepat beradaptasi dengan siapapun.
Orang yang dibicarakan pun nongol, ia sedang membawa kotak berisi sembako bersama Riska menuju gudang. Rizal langsung membantu mengambil alih posisi Riska. "Biar aku aja." ucapnya tersenyum.
"Makasih, Zal. Kalau gitu gue sama Erin lanjut kerja dulu."
"Duluan, ya, Bos." ledek Erin pada sang kepala tokonya itu.
"Sono, lu." ucap pria berkumis tipis itu agak sewot.
"Kayaknya Abang belum cocok, deh, dipanggil Bos. Cukur dulu tuh kumis." ledek Riska.
"Doain saja, Ris. Sekarang Bang Martin jadi bos kita aja dulu." ucap Rizal memotong.
Mereka tertawa lepas, betapa beruntungnya Rizal bisa bertemu orang-orang baik seperti ini. Walaupun pekerjaan ini sedikit melelahkan, tapi seketika hilang karena kenyamanan orang-orang terdekat.
Erin sedang sibuk merapikan roti-roti berbagai bentuk itu. Sedangkan Rizal juga sibuk dengan komputernya. Mem print harga-harga terbaru.
"Mas. Latte nya satu, dong."
"Oh, iya, Mbak."
"Disini saja, Mbak." potong Erin.
__ADS_1
Rizal menoleh setelah menyimpan beberapa lembar kertas yang di print nya tadi. Ia terkejut dengan gadis cantik yang memesan Latte itu. Sang pujaan hati...
"Meira..."
"Aw..." Erin meniup jarinya yang terkena air panas.
"Kamu gak papa, Rin?" tanya Rizal sembari melihat kondisi tangan Erin yang merah. " Biar aku saja yang buat, obati dulu tanganmu." Erin mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ini Latte nya." Rizal menyodorkan cangkir berisi kopi panas kesukaan Meira itu.
"Berapa?" tanyanya singkat, wajahnya sudah menunjukkan tidak ramah pada Rizal.
"Untukmu gratis." ucap Rizal tersenyum manis.
Apa-apaan pria ini. Apa dia selalu bersikap manis pada siapapun? Meira semakin kesal.
"Makasih kalo gitu. Aku pulang dulu, cepat lihat kondisi temen cewek kamu, tuh, nanti terluka parah lagi gara-gara Latte ini." ia mengangkat cangkir itu menyindir.
Rizal hanya tersenyum lalu memegang tangan Meira lembut. "Pulangnya hati-hati, ya. Maaf aku gak bisa nganter kamu."
"Iya." jawabnya singkat.
"Beri aku semangat, dong, Mei." goda Rizal.
Ingin rasanya ia menjerit saat seorang Rizal mengatakan hal demikian. Kalau tidak mengingat sedang banyak orang disini, ia mungkin sudah mengecup pipi pria manis itu atau memeluknya erat untuk memberi semangat dan menghilangkan rasa rindunya juga. Tapi kali ini ia hanya memberi senyum terbaiknya lalu berbisik. "Semangat, Sayang."
Rizal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Ucapan semangat dari Meira tadi membuatnya tak bisa berhenti tersenyum. Hingga tak disadarinya Erin melihat mereka dari awal.
"Gimana tanganmu, Rin?" Ia menghampiri Erin setelah tak lama Meira pergi.
"Gak papa, aman, kok. Tadi itu anak Kampus Nusantara, gak, sih."
Rizal mengangguk."Iya, Rin."
"Jadi namanya, Meira."
Rizal kembali mengangguk dan tersenyum.
"Oh jadi dia yang membuat kamu sumringah banget hari ini." ledek Erin. Bukan benar-benar ledekan, dalam hatinya merasa kecewa. Hawa ruangan ber-AC itu rasanya tiba-tiba menjadi panas.
__ADS_1
Sama halnya dengan Meira. Saat melangkahkan kakinya masuk dan melihat Rizal yang sangat perhatian saat Erin terluka tadi, rasanya panas terik matahari menembus minimarket yang identik dengan warna hijau tersebut.