My Sweet Green

My Sweet Green
Bertemu Lagi


__ADS_3

Rizal mengelap keringat dengan lengan jaketnya. Hari pertama jadi driver ojek online sangat melelahkan baginya. Jarak dari kampus Nusantara ke pom bensin lumayan jauh. Sialnya, tidak ada satupun toko bensin eceran dipinggir jalan.


Hanya ada kata semangat didalam hati Rizal. Cowok tinggi itu memang selalu bersemangat saat bekerja. Apalagi ini adalah hari pertamanya bekerja. Misinya belum selesai sampai sini. Ia berencana untuk mencari pekerjaan tetap lagi untuk menambah keuangannya. Karena ia harus mengobati sang kakak yang sedang sakit. Semenjak Tika ditinggal calon suaminya, ia jadi sering depresi mengamuk bisa sampai tiga hari. Dan sekarang Tika menjalani pengobatan terapi fisiologis.


"Alhamdulillah hari pertama ini lumayan dapat banyak orderan walaupun sudah sore." gumamnya.


Setelah lima belas menit akhirnya Rizal sampai di pom bensin.


"Penuh, Mbak." ucap Rizal sembari membuka jok motornya.


"Mulai dari nol, ya, Mas. Baru kali ini saya liat driver ojek ganteng." goda perempuan yang sedang mengisi bensin itu.


"Ah, biasa aja, Mbak." ucap Rizal tersenyum tipis. Ia tak sekalipun bangga dengan pujian perempuan berseragam merah itu. Yang ada dipikirannya hanyalah ingin cepat pulang dan istirahat.


"Saya jujur loh, Mas." ucap perempuan bernama Ranti itu.


"Kalau begitu terima kasih, Mbak." ucap Rizal lalu memberi uang pas pada petugas pom bensin.


Sudah pukul setengah tujuh malam. Rizal keluar dari masjid didekat minimarket. Ia mendapat orderan beberapa keperluan dapur. Pas sekali ada masjid di samping minimarket itu. Setelah menunaikan sholat Maghrib ia lalu membeli pesanan pelanggan. Beruntung rumah pelanggannya tak begitu jauh.


"Permisi, Ojekku..." Rizal sudah berdiri didepan rumah berwarna biru itu.


"Sebentar..." teriak seorang perempuan dari dalam rumah.


"Ini pesanannya, Bu." Rizal memberikan kantung putih itu.


"Terima kasih, Nak. Ini untukmu." Ibu itu memberikan selembar uang berwarna biru pada Rizal.


"Loh, Ibu kan sudah bayar lewat aplikasi." ucap Rizal.


"Tidak apa-apa, buat beli minum." ucapnya tersenyum.


"Terima kasih banyak, Bu. Kalau gitu saya permisi." Rizal tak henti-hentinya bersyukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan untuknya hari ini. Ia ingin membelikan Tika dan Risma sate Padang kesukaan mereka. Hanya itu yang bisa membuat Tika senang. Karena Tika jarang sekali mau makan semenjak kejadian buruk menimpanya itu.


Rizal menghentikan motornya di jualan kaki lima yang berderet menjual berbagai macam jajanan. Rizal memesan dua sate Padang untuk dibawa pulang. Sembari menunggu, ia membuka aplikasi Ojekku. Siapa tau masih ada yang order. Ia melihat sekeliling, sudah pukul delapan malam, tempat ini masih ramai saja dikunjungi orang-orang. Tiba-tiba matanya tertuju pada dua orang diseberang jalan yang sedang berdebat.


Rizal sepertinya mengenal perempuan yang sedang marah itu. Iya, dia adalah orang yang membuatnya kehabisan bensin tadi siang.


"Boy!" teriak Meira saat Boy pergi meninggalkannya sendirian dipinggir jalan.


Mereka bertengkar hebat lagi setelah tadi pagi. Hari ini saja mereka sudah tiga kali bertengkar. Tapi malam ini adalah puncaknya, karena Boy lebih memilih pergi dengan teman-temannya. Meira kesal bukan main, tega sekali Boy meninggalkan wanita cantik itu dipinggir jalan.


Meira membuka pansus nya dan duduk dipinggir jalan sembari menunggu taksi yang lewat.

__ADS_1


Rizal masih melihat Meira yang menangis tersedu-sedu dipinggir jalan. Ia lalu mengambil sate pesannya dan menghampiri Meira.


"Meira?" Rizal memegang bahu Meira, memastikan kalau gadis itu memang benar Meira penumpang pertamanya.


Meira mendongak keatas. Matanya sembab.


"Mas Ojek..."


"Kamu kenapa?" tanya Rizal heran.


"Pacar gue ninggalin gue lagi..." Meira kembali mengeluarkan air mata.


"Lagi?" Apa saat ia menemukan Meira di halte tadi Meira juga ditinggalkan oleh kekasihnya?


"Tadi lo pasti udah liat kan gue ribut sama pacar gue?"


Rizal mengangguk pelan.


"Mau saya antar pulang?" tanya Rizal.


"Boleh, gue pesan Ojekquick lagi lo lagi, deh." ucap Meira mengambil ponselnya di tas.


"Jangan, tidak usah pakai aplikasi." ucap Rizal.


"Aww... Kaki gue sakit banget."


Rizal langsung membantu Meira berdiri. Ia paling tak bisa melihat perempuan tersakiti seperti ini. Ia jadi teringat Tika sang kakak.


"Sebaiknya pakai ini." Rizal mengambil sandal jepit didalam jok motornya. Ia memang selalu membawa sandal untuk jaga-jaga.


"Hah, sandal jepit? Gue kelihatan seperti bapak-bapak kalau pakai itu." ucap Meira menolak.


Dalam keadaan darurat seperti ini, dia masih saja memikirkan penampilannya...


"Begitu, ya..." Rizal mengangguk pelan lalu memasukkannya lagi kedalam jok motornya.


"Eh, tunggu.." Meira memegang tangan Rizal.


"Ada apa?"


"Biar aku pakai saja." Meira mengambil sandal ditangan Rizal.


"Ya sudah, ayo naik." ucap Rizal lalu melajukan motornya.

__ADS_1


Diperjalanan Rizal dan Meira tak mengeluarkan sepatah katapun setelah Meira menunjukkan alamat rumahnya. Rizal juga merasa canggung dekat dengan perempuan yang baru ia kenal. Sementara Meira sangat lelah dan kehabisan tenaga karena menangis tadi. Tanpa sadar ia sudah bersandar di bahu Rizal.


"Meira..." Rizal merasa risih karena sepanjang perjalanan Meira tidur di bahunya.


"Meira bangun, bahaya kalau tidur di motor seperti ini." ucapnya lagi.


Rizal menghentikan motornya. Ia kembali mencoba membangunkan Meira.


"Ada apa sih Mas Anu?" ucap Meira masih memejamkan matanya.


"Saya Rizal." protes Rizal tak terima.


"Nama lo kan Rizal Anugerah. Jadi boleh, dong, gue panggil Anu. Itukan nama lo juga. Ayo cepat jalan."


"Terserah kamu, deh. Saya gak akan jalan kalau kamu masih tidur. Saya takut terjadi apa-apa, kalau kamu jatuh dibelakang gimana?"


"Iya, iya, gue gak tidur."


Rizal kembali melajukan motornya. Ia harus cepat-cepat mengantar Meira pulang karena sate yang dibelinya tadi sudah mulai dingin. Kalau terlambat Tika akan merajuk dan tak mau makan seharian.


"Stop! Stop! Ini rumah gue." Meira menunjuk rumah berwarna biru muda itu.


"Akhirnya sampai juga." ucap Rizal lega.


"Lo keberatan, ya, bantuin gue."


"Bukan begitu, saya lega karena kita sampai dengan selamat. Kamu juga bisa cepat istirahat."


"Makasih, deh." Meira berusaha berjalan sekuat tenaga. Karena keram di kakinya masih terasa. Kakinya juga terlihat lecet karena pansus yang ia pakai tadi.


"Bisa jalan?" tanya Rizal yang merasa kasihan melihat Meira kesakitan.


"Bisa, kok." Meira membuka gerbang rumahnya dengan susah payah.


"Biar saya bantu." Dengan cepat Rizal membukakan gerbang rumah Meira. Terlihat satpam rumah sedang sibuk dengan headset di telinganya.


"Kebiasaan..." gumam Meira kesal melihat Didit satpamnya itu.


"Meira... Saya pulang dulu, ya. Sudah larut malam soalnya."


"Iya, Anu. Makasih sudah mau nganter gue. Dan gue mohon sama lo. Lupain kejadian yang lo liat tadi." Meira merapatkan kedua tangannya memohon pada Rizal.


"Iya, sama-sama." ucap Rizal tersenyum geli. Aneh saja ia dipanggil Anu oleh Meira.

__ADS_1


__ADS_2