My Sweet Green

My Sweet Green
Cemburu?


__ADS_3

Orang-orang silih berganti masuk dan keluar dari SweetMart. Ada yang hanya sekedar untuk sarapan pagi, ada juga yang berbelanja kebutuhan dapur. Hari ini lumayan sibuk, banyak sekali orang yang datang sejak pagi tadi.


"Gini nih kalo hari senin." gerutu Erin.


Wajar saja, tangannya sudah pegal memanggang roti dan membuat minuman berbagai macam rasa itu.


"Semangat, dong, Rin." ucap Rizal sembari tersenyum melihat wajah cemberut Erin.


Erin langsung berdiri dan merapikan roti-roti berbentuk bulat itu lagi. Ia membalas senyum Rizal. "Energi gue langsung bertambah nih berkata ucapan semangat dari lo."


"Gombal terus, Rin." Rizal geleng kepala tak habis pikir.


Ya. Dari pertama bertemu, Erin memang selalu mengeluarkan jurus-jurus gombalnya pada Rizal.


"Udah dapat kabar dari kantor belum, Rin?" tanya Martin menghampiri mereka berdua.


Erin menggeleng.


"Pasti lo kepilih lah, Rin. Secara lo kan selebgram." celetuk Riska yang memang membuntuti Martin dibelakang.


Sudah agak siang jadi minimarket lumayan sepi sebelum Dzuhur tiba. Mereka berempat bisa santai sejenak sembari bercerita tentang Erin yang di pilih jadi perwakilan toko untuk menjadi Brand ambassador SweetMart tahun ini.


Teman-teman nya sepakat menunjuk ia menjadi icon toko. Selain cantik, Erin juga mempunyai pengikut Instagram lebih dari dua puluh ribu. Orangnya aktif di media sosial.


"Memang yang cowoknya siapa?" tanya Rizal penasaran. Maklum ia anak baru yang tak tau apa-apa.


"Dulu sih, yang ini." Riska melirik Martin yang sedang sibuk mem print harga-harga barang terbaru.


"Sekarang Bang Martin udah berewok makanya gak kepilih lagi. Hahaha..." Erin tertawa diiringi Riska. Rizal hanya senyum, padahal pertanyaannya hanya sederhana. Tapi dua cewek cantik itu malah memojokkan sang kepala toko.


"Tapi gue mirip Refal Hady kan?" Martin berkaca didepan laptop dengan penuh percaya diri.


"Kok lo narsis, sih, Bang." Erin berucap heran melihat tingkah sang kepala tokonya itu.


"Eh!"


Erin melompat kegirangan dan menyambar Rizal yang tengah duduk membereskan rokok yang ada di rak samping mereka berempat.


"Gue dipilih, Guys!" teriaknya lagi.


"Kok lo meluk Rizal?"


Celetukan Riska membuat Erin menjauh sedikit dari Rizal. Ia refleks karena Rizal ada didepannya.


"Artisnya SweetMart, Nih." ledek Martin.


"Apaan sih, Bang. Makasih, ya, kalian udah ngajuin gue. Sini semuanya peluk." Erin merentangkan kedua tangannya ingin merangkul teman-temannya.


"Ogah." ucap Martin geli.


"Hahaha..." Riska tertawa terpingkal mendengar penolakan dari Martin.


"Emang cuma lo yang mau dipeluk, Zal." ia kembali merentangkan kedua tangannya pada Rizal.

__ADS_1


"Itu tadi lo yang nyosor." ucap Riska sewot.


Rizal hanya tersenyum. Ia mengulurkan tangannya pada Erin. Mengucapkan selamat pada cewek berambut agak pirang itu.


"Coba aja yang cowok nya lo, Zal. Jadi kita bisa pasangan."


"Ehem!" Seru seseorang dari luar meja kasir.


Martin berdiri dan mengkode Riska untuk kembali ke pekerjaan masing-masing karena toko sudah mulai berdatangan pelanggan setelah lima belas menit senggang.


"Mau bayar, Mas." ucap perempuan itu.


"Eh, iya... Ini aja, Mbak?" tanya Rizal lalu menoleh ke arah perempuan itu.


"Mau makan siang, ya?" tanyanya setelah tau siapa yang ada didepannya itu.


"Tadinya sih, iya. Tapi sekarang udah gak mood."


Rizal mengernyit. Ada apa dengan perempuan ini? Pikirnya. Ia mencoba tak peduli dengan apa yang di kesal kan perempuan yang mengenakan baju berwarna pink itu.


"Jadi ini aja?" tanyanya lagi.


Dasar gak peka!


Meira hanya mengangguk singkat.


"Totalnya lima puluh ribu." Rizal memberikan kantong berisi cemilan dan minuman kaleng itu.


Niat hati ingin melihat pria manisnya tapi kenyataan pahit yang ia dapat. Awalnya ia ingin membeli roti coklat dan Latte untuk makan siang, tapi ia tak sengaja melihat pemandangan yang tidak enak dipandang.


Rizal d tiba-tiba dipeluk Erin yang tengah kegirangan dan mereka berceloteh seru. Itu sungguh mengesalkan hati Meira.


"Pokoknya ini yang terakhir kalinya gue datang kesini." ucapnya dengan mata penuh kekesalan menatap Rizal.


"Kamu kenapa, sih, Mei?" tanya Rizal bingung.


"Gak ada, gue gak suka aja sama lo." ucapnya lalu berlalu. Tentu ucapannya itu tidak benar-benar dari hati. Mana sanggup ia tak melihat pria manis yang telah mencuri hatinya itu.


"Aku salah apa?" Rizal bergumam heran.


"Lo gak makan siang, Zal?" tanya Erin yang baru saja selesai menyusun Roti-roti.


"Oh, iya, aku izin makan duku keluar. Bilang Bang Martin." ucapnya bergegas keluar.


Erin hanya menjawab dengan acungan jempol pertanda ok. Biar dia yang menggantikan Rizal di mesin kasir.


Rizal berlari mengejar Meira yang hendak pergi dengan mobilnya.


"Mei, tunggu!" teriaknya.


Meira menoleh. Ia sangat terkejut saat melihat Rizal yang ngos-ngosan mengejarnya.


Please, jangan bikin aku meleleh lagi.

__ADS_1


Meira menggeleng. Mengusir pikiran yang mulai ngawur.


"Kamu kenapa marah, apa gara-gara kejadian di taman kemarin, ya?" tanya Rizal.


"Aku minta maaf, Mei." ucapnya lagi.


"Bukan itu, kok."


"Terus apa?"


"Masuk gih, ntar dicariin sama pacarnya."


"Siapa?" Rizal mengernyit tak mengerti.


"Itu yang pelukan di balik mesin kasir tadi." Meira semakin kesal kalau ingat kejadian tadi.


"Oh, itu Erin. Dia senang karena dipilih jadi Brand ambassador nya SweetMart tahun ini. Dia temanku, bukan pacar."


Meira hanya diam, tak seharusnya ia seperti ini. Kalau pun mereka ada hubungan kenapa ia harus marah? Bukannya ia juga tak ada hubungan apa-apa dengan Rizal. Tapi hatinya terasa hancur saat melihat Rizal akrab dengan perempuan lain. Ini kah yang di namakan cemburu?


"Aku mau makan siang, mau ikut gak?" ajak Rizal.


"Enggak."


"Yakin?"


Meira mengangguk lalu hendak memasuki mobil. Tapi di hatinya masih sangat berharap Rizal menahannya sekali lagi.


"Ayolah, makan nasi pecel lele yang waktu itu. Katanya suka."


Meira mengukir senyum yang di sembunyikan nya dari Rizal. Baru kali ini ia mendapat perlakuan selembut ini dari Rizal. Biasanya pria ini seperti kulkas. Dingin.


Tentu saja ia mengurungkan niatnya pergi dari tempat itu dan kembali turun dari mobil. Ini adalah kesempatan yang langka menurutnya. Rizal mengajaknya makan siang dengan rayuan yang bikin meleleh.


"Lo bener kan gak ada hubungan sama cewek itu?" tanya Meira lalu menyuap nasi pecel lelenya.


"Enggak ada, kenapa?"


"Nanti gue dikira PHO* lagi."


Rizal hanya tersenyum mendengar ucapan Meira. Ia menatap gadis cantik yang sedang lahap menyantap makanannya itu.


"Kamu gak lagi cemburu kan?"


Tatapan Rizal membuat Meira tersedak, ia buru-buru mengambil segelas air putih yang ada disampingnya.


"Jangan kepedean deh, lo." bantahnya cepat.


Cemburu?


Mungkin, iya.


*Perusak Hubungan Orang.

__ADS_1


__ADS_2