My Sweet Green

My Sweet Green
Berlian Penghuni Hati


__ADS_3

Meira melempar ponselnya ke sofa ruang tamu lalu ia kembali berlari mengejar Rizal yabg masih muntah-muntah di toilet. Ia sudah mengirim pesan pada dokter Ronald agar bisa cepat datang kerumah untuk mengobati Rizal.


"Gue gak mau lo mati, Nu!" ucapnya makin panik. Pasalnya, setelah ia mengirim pesan pada dokter Ronald, ia sempat mencari tau gejala yang timbul untuk orang yang alergi dengan cairan manis itu.


Bisa menyebabkan kematian...


Ia menggeleng dengan cepat tak mau itu menjadi nyata.


"Mei..."


"Ya?"


Napas Rizal semakin sesak dan ia juga kehilangan keseimbangan hingga terjatuh menimpa tubuh mungil didepannya itu.


"Nu!" Meira mencoba merangkul Rizal di bantu Sarni dan membawanya ke sofa ruang tamu.


"Balik aja ke pos, Pak."


Sarni hanya mengangguk. Tapi dalam hatinya berkata, ada yang harus di laporkan ke bos besar malam ini. Jika ada laporan, ada pula imbalan. Itulah tujuan utamanya.


"Lo bikin gue cemas, Nu." ucap Meira semakin gelisah melihat Rizal yang bersandar lemah di bahunya.


"Aku gak apa-apa, kok. Hanya butuh berbaring sebentar lalu pulang." ucap pria manis itu tanpa membuka matanya.


"Gila, lo! Sebentar lagi dokter Ronald akan datang."


Benar saja, pria ber berkemeja putih datang menghampiri mereka. Ia bertanya pada Meira ada keadaan darurat apa.


"Dia alergi madu, Dok." jelas Meira.


Ronald mengangguk sembari memeriksa keadaan Rizal. "Efek dari alergi madu memang sangat luar biasa sakitnya." ucapnya lalu memberikan beberapa obat pada Rizal.


"Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanyanya lagi.


"Sesak dan meriang, Dok." jawab Rizal.


"Mudah-mudahan itu semua akan segera berakhir setelah kamu minum obat. Minumlah sekarang." perintahnya.

__ADS_1


Rizal menelan tiga butir pil berwarna putih kecoklatan itu.


"Terimakasih, Dok."


Ronald mengangguk sembari tersenyum. "Kalau begitu saya pamit pulang dulu."


"Mari saya antar, Dok." Meira mengikuti langkah kaki dokter pribadi keluarganya itu.


"Pria itu lagi, Mei." ucapnya sambil tersenyum seolah ingin mengorek sesuatu dari Meira. "Sepertinya ini lebih dari sekedar teman." tebaknya.


"Ingat perjanjian kita kan, Dok." Meira mengangkat jari kelingkingnya.


Ronald hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Dia adalah pengganti Boy di hati saya. Tapi..." ia menunduk tak melanjutkan ucapannya.


Ronald mengelus lembut pundak gadis yang sudah dia anggap sebagai anaknya itu. "Papamu kan?" tebaknya.


Meira mengiyakan. Ronald hanya bisa menghela napas kasihan pada anak tunggal Wijaya itu. Dia tau kecil Meira seperti apa, apa yang dilakukan Wijaya dan Sherin pada Meira sebenarnya tak pantas dilakukan oleh orang tua. Sedikit mendapat kasih sayang mungkin masih bisa ditahan oleh Meira, tapi sekarang hidupnya di setir dan ditentukan harus menjalani hidup dengan siapa kedepannya. Entah itu orang yang disayangi Meira atau bukan, Wijaya dan Sherin sepertinya tidak peduli.


"Rumit, Dok."


Meira menatap kepergian Ronald. Ia hanya menghela napas, banyak orang baik disekelilingnya tapi kenapa papa dan mama terkecuali.


Ia kembali keruang tamu dengan langkah kaki secepat mungkin untuk melihat bagaimana keadaan sang pujaan hatinya. Ya, pujaan hati. Terlihat 'pujaan hati' nya masih terbaring lemas di ruang tamu. Tangan kanannya pun masih memegangi perut yang masih merasakan perih dan mual.


"Masih sakit?" tanya Meira.


Bukannya menjawab, Rizal kembali berjalan terhuyung menuju toilet. Meira semakin panik, obat dari dokter Ronald belum juga bereaksi. Ia kemudian berlari menyusul Rizal ke toilet.


"Kita harus ke rumah sakit, Nu." Meira memegangi tangan Rizal dan membantunya berjalan menuju ruang tamu.


"Aku mau pulang sekarang."


Meira menggeleng tanda melarang niat Rizal yang terbilang nekat. Dalam keadaan lemas seperti ini tidak mungkin bisa pria manis itu pulang dengan selamat, yang ada nanti hanya memperburuk kondisinya. Rizal kembali berbaring di sofa ditemani Meira.


"Mei..." Rizal tiba-tiba memegang tangan gadis cantik itu.

__ADS_1


Meira menoleh dengan tatapan yang masih terlihat khawatir akan keadaan pria yang mulai ia cintai itu.


"Satpam mu saja tidak menyukaiku, apalagi orang tuamu." ucapnya lemas.


"Dia memang begitu orangnya," Meira berdecak. "Selalu kepo tentang gue, lo gak usah hirauin si caper itu." ucapnya kesal.


Riza menegakkan kepalanya yang sedari tadi terbaring nyaman di pangkuan gadis cantik penghuni hatinya itu. Mungkin ada sekitar setengah jam ia melewati kesakitan akibat alerginya itu, tapi dibalik itu ia juga merasakan setengah jam merasakan hangatnya kenyamanan yang diberikan Meira.


"Terimakasih, Mei. Aku sudah enakan dan bisa pulang sekarang." ucapnya sembari mengukir senyum pada Meira.


"Lo, yakin, Nu?" tanya wanita berpakaian serba biru muda itu.


Rizal mengangguk pelan.


Meira hanya bisa menghela napas membiarkan Rizal berjalan ke arah pintu. Rasanya berat merelakan Rizal pulang. Ingin sebentar lagi bersama pria cuek namun bisa meluluhkan hatinya itu.


"Hati-hati, ya, Nu. Lo wajib kabarin gue jika sudah sampai," ucapnya mengancam dengan senyum.


Rizal hanya bisa merespon dengan wajah imutnya. Wanita ini memang benar-benar sudah menjadi penghuni hatinya walaupun ia bagai berlian yang sulit digapai.


"Satu lagi..." Meira menggenggam tangan kanan Rizal. "Jangan pedulikan dia." tunjuk nya kearah seseorang yang sedang duduk di pos satpam. Siapa lagi kalau bukan Sarni.


Kali ini Rizal hanya diam. Tak bisa dipungkiri ia memang termakan omongan Sarni beberapa jam yang lalu. Hatinya semakin minder saat Sarni berbicara dengannya dengan nada mengejek.


Meira menggoyangkan tangan pria manis itu. Ia melihat ekspresi wajah Rizal yang tampak sedih saat ia menyebut nama Sarni.


"Nu... tolong buat gue yakin." pintanya dengan mata yang hampir berlinang.


"Iya, aku akan berusaha." ucap Rizal menunduk.


Meira menoleh Rizal dan meminta menghadapnya. "Makasih, Nu." Ia mendekap tubuh pria manis itu erat. Tak peduli lagi dengan Sarni ya g sedari tadi mengawasi mereka. Setidaknya ia mendapat kenyamanan sesaat sebelum Rizal pulang.


Bukannya membalas, Rizal malah mematung kaget dengan perlakuan Meira. Ya, walaupun hatinya berdegup kencang tapi ia juga sangat ingin membalas pelukan itu dengan setulus hati. Perlahan kedua tangannya meraih bahu dan mengelus lembut gadis cantik itu. Membelai rambut hitam sebahu itu untuk meyakinkan perkataannya barusan.


"Gue sayang sama lo, Nu." Meira mengeratkan pelukannya.


Pernyataan yang membuat Rizal seketika ingin menarik gadis ini ke kehidupannya. Tapi disisi lain ia juga sangat berat menerima itu. Ia masih harus bertarung dengan berbagai macam halang dan rintangan kedepannya.

__ADS_1


Rizal melepaskan pelukan gadis itu, ia tersenyum sembari mengelus pipi mulus Meira. "Aku pulang dulu."


Meira melambaikan tangannya sembari tersenyum. Sementara Sarni si kepo begitulah julukan yang diberikan oleh Meira itu hanya pura-pura tidak melihat.


__ADS_2