
Rizal meringis saat dokter menyuntik bius lengannya. Sakit sekali. Ia menghela napas gusar, kalau begini bagaimana ia bekerja.
"Lukanya sudah diobati, Mas. Harus istirahat beberapa hari supaya jahitannya kering." ucap dokter berkacamata itu ramah.
"Terima kasih, Dok."
Meira langsung menghampiri Rizal yang baru keluar dari ruangan itu. Ia memegang tangan Rizal.
"Apa kata dokter tadi?" tanya Meira cemas.
"Harus istirahat beberapa hari." Rizal menoleh Meira yang masih menggenggam tangannya.
"Memang harusnya begitu, kan. Maafin gue ya, semua ini gara-gara gue." ucap Meira merasa bersalah.
"Aku antar kamu pulang." Rizal lalu melepaskan genggaman tangan Meira.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Dan ini uang sewa mu." Meira memberikan uang yang lumayan banyak pada Rizal. Rizal terluka karenanya, dan juga Rizal harus beristirahat untuk beberapa hari. Hitung-hitung uang itu untuk ganti rugi.
"Makasih." Rizal berjalan ke arah kasir rumah sakit. Ia ingin membayar biaya pengobatan sekaligus menebus resep obat untuk tangannya.
"Mau kemana?"
"Tebus resep."
"Sudah ku bayar semua."
Rizal menghentikan langkahnya. "Kenapa kamu yang bayar?"
"Lo terjatuh karena gue, jadi gue harus tanggung jawab."
"Kamu berlebihan. Uang sewa ini sudah cukup membayar semuanya." Rizal mengeluarkan uang yang diberi Meira tadi. Ia mengembalikan setengahnya pada Meira. Rizal merasa Meira sedang mengasihani dirinya. Ini semua sudah berlebihan.
"Ambil aja, gue tau lo butuh uang ini untuk kebutuhan sehari-hari, kan."
__ADS_1
Rizal mengambil tangan Meira, ia lalu memberikan uang itu pada Meira. Rizal tak terima dengan ucapan Meira yang seperti terlalu merendahkannya. Ia tau dari dulu hidupnya memang sulit, tapi ia tak pernah minta dikasihani.
"Aku masih bisa cari uang." ucap Rizal pergi meninggalkan Meira.
Meira masih termenung dengan segenggam uang ditangannya. Apa mungkin dia terlalu merendahkan Rizal tadi? Ah, Meira menggigit bibirnya merasa bersalah. Tidak seharusnya ia memperlakukan Rizal seperti tadi, padahal Rizal sudah sangat baik padanya. Rizal sudah memberikan pemandangan terindah hari ini untuknya.
Apa orang kaya memang selalu menghina orang tak punya seperti kami? Rizal berdecak kesal. Ia mengendarai motornya hanya dengan rasa sakit ditangannya. Baru beberapa jam yang lalu ia berpikir kalau Meira berbeda dengan cewek sultan yang lain. Tapi ternyata ia salah menilai Meira. Bukan. Bukan salah, tapi terlalu cepat.
Bius jahitan dilengannya sepertinya mulai habis. Karena Rizal baru merasakan sakit. Ternyata luka kecil ini lumayan membuat tangannya berdenyut dan kebas. Luka ini tak boleh ketahuan oleh ibu apalagi Tika, mereka pasti akan khawatir dan memberi ribuan pertanyaan mengenai lukanya.
Walaupun Tika sedang mengalami depresi, ia tak sedikitpun melupakan Rizal sang adik kesayangannya. Apalagi kalau tau Rizal terluka bahkan sampai dijahit seperti itu.
Rizal membuka pintu perlahan. Tidak ada siapapun dirumah, padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Biasanya Risma sudah pulang dari sawah. Tika juga tak ada dikamar. Kemana perginya? Rizal mulai panik pasalnya pintu tidak terkunci.
"Assalamualaikum, Zal?" Seru seseorang dari pintu depan.
"Waalaikumsalam, Bu. Darimana?"
"Kakakmu ingin sekali makan soto di warung budemu, jadi kami kesana." terang Risma.
"Ibu buatkan teh hangat untukmu, kamu pasti lelah ngojek seharian." ucap Risma sembari mengantar Tika ke kamar.
Rizal mengangguk diiringi senyum. Melihat dua perempuan yang ia sayangi itu baik-baik saja. Rasa sakit dilengannya seketika hilang saat melihat Tika yang tampak sudah membaik. Sebelumnya Tika tidak pernah mau keluar kamar. Tapi hari ini entah apa gerangan Tika ingin keluar rumah. Semoga Tika bisa segera sembuh dan melupakan traumanya.
"Ini tehnya." Risma memberikan segelas teh hangat yang baru dibuatnya untuk Rizal.
Rizal memegang tangan wanita paruh baya itu. "Maafkan Rizal, Bu."
"Maaf untuk apa, Nak?"
"Hari ini Rizal tidak ngojek sampai malam, Rizal agak tidak enak badan, Bu."
"Nak... Ibu tidak akan memaksa kamu bekerja sampai sakit. Apa perlu Ibu belikan obat?" tanya Risma.
__ADS_1
"Tidak usah, Bu. Minum obat warung juga sudah baikan, kok, Bu." ucap Rizal tersenyum pada ibunya. Bukan badannya yang sedang tidak enak, tapi luka dilengannya lah yang membuat ia harus cepat-cepat istirhat.
Didalam kamar Rizal tiba-tiba terbayang wajah manis Meira. Perempuan itu sungguh membuatnya terhipnotis saat terjatuh di lumpur sawah.
"Aku sama sekali tak pantas untuknya..." Rizal menggeleng. Ia menarik selimutnya dan melupakan kejadian hari ini. Dan semoga ia tidak akan bertemu dengan Meira lagi.
Sementara itu Meira sedang duduk termenung di sofa kamarnya. Entah apa yang ada dipikirannya hingga ia lupa kalau tugas kampus sudah menumpuk. Ia juga dari tak menjawab telpon dari sang pacar. Mungkin sudah ada dua puluh kali Boy menelpon Meira, tapi sama sekali tak diangkat Meira. Di pikiran Meira kini hanyalah bagaimana perasaan Rizal sekarang. Meira merasa sangat bersalah pada Rizal setelah kejadian dirumah sakit. Ia merasa terlalu merendahkan Rizal.
"Maafin gue, Zal. Gak seharusnya gue ngomong gitu..."
Tok...tok...
Ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Meira. Meira membuka pintu kamarnya, ia melihat Tina sedang memegang bucket bunga dan dua batang coklat berukuran besar.
"Ini dari den Boy, Non." Tina memberikan barang istimewa itu pada Meira.
"Makasih, Bik."
Mau ngapain lagi sih pria kasar itu!
Ia mengambil secarik kertas di selipan bunga indah itu.
'Maafkan aku, Sayang. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku kemarin. Asal kamu tau aku sangat mencintai kamu. Aku mohon padamu maafkan aku' begitulah tulisannya.
Meira hanya bisa tersenyum setelah membaca tulisan itu. Boy selalu punya cara untuk membuat Meira kembali padanya. Entah Meira yang memang mudah termakan rayuan gombal Boy. Ponselnya kembali berdering. Kali ini Meira cepat mengangkatnya.
"Tidak marah lagi, kan?" ucap seseorang di seberang telepon.
Meira hanya bisa tersenyum. "Tidak, tapi lain kali jangan mengulanginya lagi."
"Aku janji, sayang. Besok aku akan menjemputmu, ratuku."
Mendengar ucapan Boy tadi Meira jadi tak berhenti senyum. Ia seolah melupakan semua kesalahan Boy kemarin. Ia juga sudah lupa dengan sikap kasar Boy. Kini yang ia ingat hanya bunga, coklat dan kata-kata romantis di telepon tadi.
__ADS_1
Begitulah Meira, hatinya mudah sekali tersentuh. Ia terlalu bucin dengan Boy. Tanpa ia tau Boy tidak benar-benar mencintainya. Mengingat Meira adalah anak pengusaha kaya, jadi Boy bisa memanfaatkan uang Meira untuk menyenangkan dirinya. Boy sangat mudah memikat hati Meira waktu itu. Hanya dengan berpura-pura menjadi pahlawan di saat Meira hampir terjatuh di jurang saat kemping libur semester tahun lalu.