My Sweet Green

My Sweet Green
Balikan? Enggak!


__ADS_3

Tina meletakkan nasi goreng di meja makan lalu memanggil anak-anak dan suaminya untuk turun dan makan bersama. Suasana pagi yang indah karena Gunawan ada dirumah hari ini. Ini jarang sekali terjadi di keluarganya.


"Mita kangen banget kita makan bareng kayak gini."


Tina hanya hanya membalas dengan senyumnya.


"Kita bakal gini terus, kok, sayang." ujar Gunawan sembari mengambil susu hangat yang ada di depannya.


"Janji, ya, Pa." Mita mengangkat jari kelingkingnya tegas.


Gunawan mengangguk sembari tersenyum pada sang anak.


Sementara Boy hanya diam dan menikmati santap paginya itu. Ia tak peduli mau siapapun yang ada di meja makan ini. Kehadiran Gunawan sepertinya tidak terlalu penting untuk dirinya.


"Gimana kuliahmu, Boy?" tanya Gunawan yang membuat Boy menghentikan kegiatan makannya.


"Skripsi nya gak selesai-selesai, Mas." celetuk Tina.


Gunawan hanya menggeleng. Kapan anak ini mau berubah?


"Terus gimana hubungan kamu sama anaknya pak Wijaya itu?" tanyanya lagi.


"Putus." Mita menjawab dengan cepat.


Ibu dan adik perempuannya itu seolah menjadi juru bicaranya pagi ini.


"Sok tau, lo." bantahnya.


"Emang iya, kan?" ucap Mita kekeh. Hingga terjadi perdebatan kecil antara dua kakak beradik itu.


"Enggak."


"Papa cuma berharap yang terbaik dari kalian. Tapi selesaikan dulu kuliahmu itu." Gunawan memotong perdebatan mereka.


"Bentar lagi selesai, kok, Pa."


"Skripsi lo aja gak selesai-selesai." Mita menimpali.


"Diem, lo, ya." ucap Boy geram dengan perkataan sang adik.


Tina hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya, mereka memang selalu berdebat kalau sedang bertemu seperti ini.


"Sudah-sudah, cepat habiskan sarapannya."


"Mita berangkat bareng Papa." Gunawan melangkahkan kakinya terlebih dahulu.


"Yey..." Mita berlari mengejar sang papa. Manja.


"Bocah." Boy berdecak melihat tingkah manja adiknya.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu, Ma." Boy mencium punggung tangan sang mama.


"Tunggu dulu, Nak." Tina menahan Boy. Ia masih penasaran dengan hubungan Boy dan Meira.


"Gimana hubunganmu dengan anak pak Wijaya itu?" tanyanya.


"Putus, Ma."


Kenapa hanya Meira yang selalu ditanyakan sang mama. Padahal ia juga sudah sering kali membawa perempuan lain kerumah.


"Sayang sekali, padahal mama sudah setuju sekali kalau kamu bersama dia." Tina menghela napas.


"Tenang aja, Ma. Bentar lagi balikan, kok." ucapnya sangat percaya diri.


Tina hanya menghela napas. Ia tau sekali bagaimana sifat anak sulungnya itu. Kalau soal merebut hati perempuan, Boy yang paling handal. Bukti nya sudah lumayan banyak perempuan yang di bawanya kerumah. Tapi sampai sejauh ini hanya Meira lah yang sanggup bertahan dengan sikap Boy.


***


"Udah balik lo, De." Meira merangkul cewek berambut pirang itu.


"Gimana liburannya, seru?" saut Dwi.


"Pasti seru dong." Dea menebar senyum kepada dua sahabatnya itu.


"Pulang dari kampus kita nongkrong, ya. Gue udah kangen banget sama cafe." tambahnya.


Ah, kenapa ia jadi memikirkan pria beralis tebal itu? Pria itu begitu manis jika dibayangkan waktu tersenyum. Rizaldi Anugrah.


Meira hanya menggeleng, entah apa yang dia pikirkan sekarang. Otaknya sudah mulai menyimpan memori bersama Rizal. Entah itu ditempat yang spesial dihatinya.


"Hei, Mei." Dea mengibaskan tangannya di depan wajah Meira. Bingung saja dengan tingkah temannya yang satu itu.


"Iya." Meira terkejut dan langsung menyeruput latte nya untuk melegakan perasaan setelah mengenang tentang kebersamaannya dengan tukang ojek tampan itu.


"Lo kenapa melamun? Boy mana?" tanya Dea.


"Mana gue tau." jawabnya sedikit kesal karna Dea menanyakan pria yang tidak penting lagi baginya itu.


"Mereka udah end, De." Dwi yang sedari tadi dia akhirnya bersuara juga.


"Yang bener?"


Meira mengangguk lemas.


"Yah... Sayang banget."


"Buat apa dipertahanin cowok kasar dan tukang selingkuh begitu." ucap Dwi kesal.


Sementara Meira hanya bisa diam. Ia juga tak tau mau menjelaskan apa. Perkataan Dwi memang benar.

__ADS_1


"Ehem..."


Pria berjaket levis biru masuk dan langsung duduk di dekat mereka bertiga. Ia membuka kaca mata hitamnya. Gagah.


"Siapa bilang kita putus." Boy tiba-tiba merangkul Meira.


Sontak saja Meira terkejut dengan kedatangan Boy. Apalagi tiba-tiba merangkul sok romantis padanya seolah tak pernah ada pertengkaran diantara mereka.


"Apaan, sih, Boy." Ia langsung menepis tangan Boy kasar. Walaupun ia rindu dengan rangkulan itu. Tapi hatinya tetap kekeh untuk jauh-jauh dari pria ini.


"Ini gimana ceritanya sih?" tanya Dea bingung.


"Kalian tidak tau kan kalau kami sebentar lagi akan tunangan." terang Boy pada Dwi dan Dea.


"What!"


Dwi menoleh Meira dengan penuh tanda tanya.


Tanpa berkata apa-apa, Meira menarik tangan Boy keluar dari cafe meninggalkan dua sahabatnya yang diam membisu mendengar pernyataan Boy barusan.


"Mau lo apa sih." Ia geram sekali dengan pria buaya satu ini.


"Gue mau kita balikan."


"Gue gak mau!" Meira mengepalkan tangannya.


"Oh, tentu kamu harus mau. Soalnya papa mama kamu sudah sangat setuju dengan hubungan kita."


"Itukan orang tua gue. Bukan Gue."


Meira hendak meninggalkan Boy tapi pria itu menghentikan langkahnya terlebih dahulu.


"Kenapa kamu jadi berubah gini, sih, Mei?" tanya Boy heran. Biasanya dengan memakai sedikit saja rayuan Meira langsung luluh. Tapi sekarang Meira sepertinya benar-benar mantap untuk tidak kembali lagi dengannya.


"Minggir."


"Apa sudah ada pengganti ku di hatimu?"


Iya! Dia Adalah pria sederhana yang mampu mengikat hatiku sekarang. Pria baik yang selalu memberi perhatiannya. Rizal.


Boy hanya terdiam kaku saat Meira pergi meninggalkannya tanpa ragu. Meira sudah benar-benar menghapus kenangan indah saat bersama dulu.


Kini mulai ada penyesalan didalam hatinya. Menyesal telah menyia-nyiakan kan Meira. Mungkin ia merasa kalau Meira masih bisa menelan rayuan gombalnya.


"Aku tak akan semudah itu melepaskan mu, Mei. Lihat saja." Matanya tajam. Ia membanting pintu mobil dengan keras dan meninju setir mobil saking kesalnya. Baru kali ini ada wanita yang kekeh tak mau lagi dengannya. Apalagi sudah menjalin hubungan lama.


Si tukang ojek sialan!


Pria itu harus diselidiki. Apa mungkin ia punya hubungan dengan Meira? Serendah itukah level Meira. Kalau memang benar mereka ada hubungan spesial, ia tak akan tinggal diam. Mana mungkin ia dikalahkan oleh seorang pria kelas bawah yang hanya seorang tukang ojek. Boy geram, ia melajukan mobil dengan laju kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2