My Sweet Green

My Sweet Green
Pacar Tak Punya Hati


__ADS_3

Pagi ini matahari nampak sangat ceria, memancarkan sinar terik yang siap memancarkan seluruh kota Jakarta. Rizal sudah sibuk dengan berkas ber amplop coklat. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa amplop yang sedang ia rapikan. Rencananya hari ini ia akan menyebarkan CV nya ke beberapa pabrik atau toko yang mungkin sedang membutuhkan karyawan. Meskipun tangannya masih terasa nyeri tapi tak masalah, beruntung lukanya tidak terlalu menggangu kegiatannya.


"Apa kabar si orang kaya itu, ya?" gumamnya secara tidak sengaja.


"Ah... kenapa aku memikirkan dia." Rizal menggeleng lalu memasukkan CV kedalam tas.


Setelah meneguk teh yang sudah di siapkan sang ibu, Rizal kemudian pamit pada kedua perempuan yang ia sayangi itu.


Rencananya ia ingin mengawali perjalanannya ke pabrik coklat dan pabrik kain dulu, baru kemudian ia melamar di minimarket yang ada di dekat taman kota.


Semua berjalan lancar dan Rizal berharap salah satu CV nya akan gol. Tidak masalah mau di pabrik ataupun di minimarket toh gajinya hampir-hampir sama. Panas matahari sepertinya sedang bersahabat sekali hari ini. Rizal berencana ingin ngojek dulu disekitaran kantor atau mal. Siapa tau hari ini ia akan mendapat orderan yang lumayan.


"Bisa Ojekquick, gak, Mas?" Tanya seseorang yang sibuk dengan ponselnya.


"Bisa, Mbak. Memangnya mau kemana?" tanya Rizal lalu memberi helm pada cewek itu.


"Loh, Anu!" ucap Meira sangat terkejut. sepertinya driver dari Ojekku sangat banyak tapi kenapa dia selalu bertemu dengan Rizal.


Rizal terdiam ia langsung meletakkan helmnya di motor saat tau cewek itu adalah Meira. Harapannya beberapa waktu lalu sepertinya tidak terkabul, buktinya ia bertemu lagi dengan cewek sultan ini.


"Lo kenapa ngojek, sih. Emang tuh tangan udah sembuh?" tanya Meira.


"Sudah." jawab Rizal singkat. Rasa kesal masih ada di hatinya.


"Bohong, lo. Gue tau tangan lo pasti belum sembuh total. Lo bandel banget, sih! Disuruh istirahat malah keluyuran." Meira mengomel seperti memarahi pacar saja.


"Kamu siapa ngatur-ngatur saya? Saya mau kerja butuh duit gak sultan kayak kamu." ucap Rizal kesal.


"Lo masih marah sama gue? Lo masih gak terima sama perkataan gue waktu dirumah sakit?"


"Pikir saja sendiri."


"Dasar Leo, lo!"


Rizal mengernyit.


"Iya, keliatan banget marahnya. Jawab pertanyaan seaadanya." tambah Meira.


"Nggak marah. Maaf ya mbak, saya gak bisa ambil Ojekquick nya. Sudah ada orderan lain soalnya."

__ADS_1


Rizal hendak menghidupkan mesin motornya tapi ditahan oleh Meira. Ia masih punya urusan dengan pria jutek ini. Ia juga sadar kesalahannya dan ingin meminta maaf.


"Anu, gue tau gue salah udah nyakitin perasaan lo. Maafin gue, please jangan pergi. Gue mohon lo mau nganterin gue, sebagai permintaan maaf gue sama lo, gue mau ngajak lo minum kopi. Mau, ya." Meira sangat memohon agar Rizal menerima permintaan maafnya.


Rizal diam sejenak. Ia sempat berpikir akan menerima ajakan Meira. Tapi ia sudah tidak mau berurusan dengan cewek manja ini lagi, ditambah ia juga tidak mau jika bertemu dengan pacar Meira yang sok belagak itu.


"Saya maafin kamu, tapi maaf saya gak bisa nganterin kamu. Saya harus pergi." Rizal kembali menghidupkan mesin motornya.


"Gak bisa gitu," Meira mencabut kunci motor Rizal. "Lo harus terima orderan gue."


Rizal menggeleng lalu mencoba merebut kembali kunci motornya.


"Kembalikan kuncinya..."


"Nggak!" Meira menepis tangan Rizal yang sialnya malah terkena lengannya yang masih terluka.


Rizal buru-buru menarik tangannya. Ia memegang lengannya sembari mengibaskan nya untuk menghilangkan rasa perih. Sakit sekali rasanya.


"Kenapa?" Meira terkejut dan langsung memegang lengan Rizal tapi ditepis oleh empunya.


"Tuh kan, gue tau luka lo belum sembuh sepenuhnya. Sekali lagi maafin gue ya, Nu. gue yang bikin lo luka kayak gini." ucap Meira sangat merasa bersalah.


"Gue dijemput sama pacar gue, dia gak pernah bolehin bawa mobil sendiri."


"Terus kenapa pulang cari ojek?"


"Ya... kayaknya lo udah tau alasannya." ucap Meira menunduk.


"Mana saya tau."


"Gue berantem lagi waktu di bioskop tadi."


Rizal hanya bisa menghela napas. Ingin rasanya ia mengatai cewek cantik ini. Betapa bodoh dan bucin nya Meira terhadap pacarnya yang kasar dan tidak punya hati.


"Jadi tolong anterin gue pulang, ya." Meira memohon sekali lagi.


"Sini kuncinya."


"Tapi anterin gue pulang." ucap Meira dengan nada Manja.

__ADS_1


"Iya..." ucap Rizal lemas. Ia mana tega dengan cewek yang ditelantarkan oleh pacarnya sendiri. Ia jadi teringat kak Tika dirumah.


"Makasih, ya, Mas Anu." ucap Meira tersenyum senang.


"Gue mau nawarin sesuatu lagi sama lo. Tangan lo masih sakit, jadi biar gue yang bonceng lo."


Rizal terkejut. "Gak usah, saya gak mau kita jatuh sia-sia, nanti saya makin gak bisa kerja." ucap Rizal spontan.


Meira hanya tersenyum, segitu traumanya Rizal padanya. Tapi kali ini ia sangat senang Rizal bisa baik lagi dengannya.


Sebenarnya Rizal menunggu di mal itu memang ingin menghindari bertemu Meira. Sebelumnya ia nongkrong di depan kampus Meira, tapi semenjak kejadian tidak mengenakkan waktu itu, Rizal mulai berpikir bahwa sampai kapanpun ia tak pantas berteman apalagi punya hubungan lebih dengan gadis ini. Jadi ia memilih untuk mencari penumpang di tempat lain. Tapi nyatanya takdir selalu mempertemukan dia dengan Meira. Dan lagi-lagi karena Meira bermasalah dengan Boy sang pacar.


Ceritanya sepulang kuliah Boy dan Meira langsung ke mal untuk menonton film terbaru kesukaan Meira. Kali ini Boy tak banyak alasan ia langsung mengiyakan ajakan Meira. Tentu bukan tanpa alasan. Lima belas menit yang lalu Boy melihat instastory mantannya yang juga sedang perjalanan nonton bioskop di mal yang sama. Kesempatan bagus bisa sekaligus nonton bersama pacar dan juga bisa bertemu mantan yang sampai sekarang diketahui Boy masih menjomblo.


Seperti yang sudah direncanakan Boy ia mengambil jam yang sama dengan Nayla sang mantan. Lebih bagus lagi kalau ternyata bisa duduk berdampingan.


Memang benar, mereka duduk berdampingan. Meira di sebelah kiri Boy dan Nayla di sebelah kanan.


"Itukan mantan kamu." bisik Meira kesal.


"Mana aku tau dia juga nonton." Boy berdalih.


"Ya, sudah kita pergi saja, tidak usah nonton." Meira hendak berdiri.


"Sayang aku cemburuan banget, sih." Boy mencubit pipi Meira gemas. Ia sudah memiliki ribuan cara untuk menenangkan Meira.


"Kamu kan suka banget sama film ini, jadi kita harus nonton. Tenang saja aku sudah tidak ada perasaan apapun sama cewek yang disamping ku ini. Bahkan aku tidak kenal lagi dia siapa." rayu Boy.


"Bener, ya!"


Boy mengangguk.


Setelah satu jam berlalu. Meira baru tersadar dan mulai curiga dengan Boy. Ia melirik tangan kanan Boy yang merayap dan mengelus lembut lengan Nayla. Dan kesalnya Nayla malah tersenyum dan sepertinya membalas genggaman tangan Boy. Tanpa berkata lagi Meira berdiri dan langsung menarik dan melepaskan tangan Nayla dari Boy.


"Heh, lo gila ya! lo gak punya malu pegang-pegang tangan pacar orang. Lo tuh udah jadi mantan, ya! move on dong lo!" bentak Meira yang membuat perhatian penonton yang lain.


"Hah, dasar cewek bodoh, gue emang udah putus sama Boy. Tapi kita masih saling sayang." ucap Nayla santai.


"Kamu apa-apaan sih, Mei. Malu dilihat penonton lain!" Bentak Boy.

__ADS_1


Meira hanya diam dan langsung pergi meninggalkan Boy dan Nayla.


__ADS_2