
Meira menekuk wajahnya kesal. Pria manis disampingnya ini selalu ngeyel. Sudah dibilang tidak usah memikirkan hutang yang ia berikan beberapa bulan lalu, masih saja di perhitungkan. Rizal tetap kekeh untuk melunasi biaya operasi Tika yang ia pinjam pada Meira. Sawah ibunya baru saja terjual minggu kemarin. Sebab itulah ia datang menemui Meira untuk mengatakan hal ini.
"Sisa hutangku sudah ku transfer ke rekening mu, Mei. Terimakasih banyak atas bantuannya." ia tersenyum sembari mengusap tangan mulus itu.
Meira berdecak. "Kamu anggap aku ini siapa, sih, Nu." ia menarik tangannya yang sebenarnya masih ingin merasakan hangatnya usapan dari sang kekasih. Niat hati ingin melepas rindu karena sudah seminggu tidak bertemu karena kesibukan masing-masing, tapi Rizal malah membahas masalah yang tidak penting baginya.
"Hutang tetaplah hutang, Mei. Dan itu harus dibayar."
Meira menghela napas lesu. Pria ini memang sangat memegang teguh prinsipnya. Ia tidak akan memanfaatkan keadaan. Perasaannya memang benar-benar tulus. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu tegap itu. Ingin merasakan kenyamanan yang sangat ia rindukan. "Aku kangen tau."
Rizal tersenyum sembari mengusap rambut lurus sebahu itu. "Menemui mu bagaikan masuk istana yang amat banyak pengawalnya." Rizal terkekeh.
Meira mencubit lengan yang kini ia peluk erat itu hingga si empunya meringis kesakitan. Kalau dipikir-pikir benar juga yang dikatakan oleh Rizal. Hubungan mereka tidaklah beda dengan hubungan yang terlarang. Mendengar nama Rizal saja seisi rumahnya bisa menjadi kacau. Terutama jika didepan Wijaya. Begitu rendahnya Rizal di mata keluarga Meira.
"Kadang aku berpikir, apa aku sanggup melewati pagar rumahmu yang begitu tinggi?" Rizal menatap langit yang mendung seolah juga merasakan kesedihannya.
"Nu..." Meira menatap lekat wajah manis itu. "Aku baru saja menemukan kebahagiaan walaupun banyak rintangan. Tapi aku gak peduli, asalkan itu bersamamu."
Rizal menghela napas. Perasaannya selalu bingung jika bersama Meira. Antara ingin terus berjuang atau merelakan Meira bersama orang pilihan keluarganya. Ternyata seberat ini menjalin hubungan yang tak direstui. Ini cinta pertamanya, ia tersenyum geli. Mengapa harus serumit ini.
"Mau makan kebab?" tanya Rizal untuk menghilangkan perasaannya yang campur aduk ini.
"Boleh." angguk Meira.
Mereka berjalan menuju kebab gerobakan yang ada diujung jalan. Kebab Turki yang biasa mereka beli setiap bertemu. Kebab yang memberikan kisah manis yang tak disengaja. Manis sekali.
"Sepertinya lidahmu sudah terbiasa makan makanan pinggiran." ledek Rizal.
"Aku nyesel baru tau sekarang." Meira menyuap kebab isi daging cincang itu dengan lahap.
"Meira!"
__ADS_1
Seseorang keluar dari mobil dan menghampiri mereka berdua. "Oh jadi ini pengganti Boy?"
Rizal tertegun, wajahnya memerah, ia meremas kebab yang ada ditangannya. Sementara Meira sangat bingung dengan situasi saat ini. Ia juga sangat takut dengan wajah Rizal yang tampak sangat marah.
"Apa kamu buta, Mei? Dia ini hanya tukang ojek. Apa kata orang-orang nantinya? Memalukan."
Bug!
Kepalan tangan Rizal melayang tepat ke pipi kiri Ardi. Ia menarik kerah baju Ardi dan hendak menghajarnya tapi dihentikan oleh Meira. "Cukup!"
"Lihatlah, Mei! Pria yang kamu cintai adalah pria yang arogan seperti ini?"
Rizal kembali menarik kerah baju Ardi. "Siapa yang arogan? Aku atau kau!" Rizal mendorong Ardi hingga mentok ke mobil.
Rizal menatap tajam wajah Ardi. "Kartika... Kakakku yang kamu tinggalkan, kamu sakiti perasaan dan fisiknya hingga mengalami depresi yang tak kunjung sembuh!"
Ardi terdiam. Kembalinya ia ke kampung halaman tak menemui keberuntungan. Ia kembali terjebak cerita masa lalu. Tak disangka adik sepupu kesayangannya sedang menjalin kasih dengan adik mantan kekasih yang sudah ia sakiti dulu. "Apa salahku?" tanyanya seolah tak tau apa-apa.
"Ingin aku membunuhmu sekarang juga, Ardi!" Rizal mencekik Ardi sekuat tenaganya. Mereka saling adu jotos. Saat Rizal ingin meninju sekali lagi Ardi yang sudah hampir bonyok, Meira melerai mereka berdua dengan isak tangis.
"Tanya sendiri pada Kakakmu itu." ucap Rizal singkat.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, tolong beri aku penjelasan. Ada apa ini sebenarnya?" Meira sangat bingung dengan situasi ini, ia bingung harus mendatangi siapa, sementara keduanya sedang kesakitan akibat perkelahian. Entah siapa yang dipilih, orang yang ia cintai atau kakak kesayangannya.
"Kakakmu jadi gila, itu bukan karena aku."
Rizal menarik napas panjang, ia kembali mengepalkan tangannya. Kali ini ia tak peduli siapa Ardi. Tak peduli Ardi adalah kakaknya Meira. "Pria brengsek!" Rizal kembali meninju Ardi tanpa ampun.
"Cukup, hentikan! Aku mohon." Meira berusaha melerai keduanya. Ia juga berteriak meminta bantuan pada orang sekitar. Namun sayang tidak ada satu orangpun disana.
"Awwwww!" Meira terpelanting hingga tangannya membentur batu yang lumayan tajam.
__ADS_1
"Meira!" teriak mereka bersamaan.
"Aku tidak apa-apa." ucap Meira sambil mengusap cairan merah yang keluar dari lengan kirinya.
"Bagaimana mungkin tidak apa-apa, adik kecilku terluka. Ini semua gara-gara pria tidak tau diri ini! Kau dan kakakmu itu sama saja, kalian selalu mengincar orang kaya untuk memperbaiki ekonomi kalian, kan!" Ardi menunjuk Rizal sekali lagi. "Tidak akan kubiarkan adikku terjebak oleh jerat mu."
"Kakak! Sudahlah, masuk ke mobil. Kita pulang dan ceritakan padaku semuanya."
Rizal hanya terdiam, darah yang mengucur di pelipis mata tak lebih menyakitkan dari pada air mata yang tak terasa sudah menetes di pipi.
"Anu..." Meira perlahan meraih tangan Rizal, tapi ditepis oleh si empunya.
"Pergilah, Mei. Keluarga miskin ku memang tak pantas untuk mu. Cukup kakakku yang menjadi korban." Ia mengusap air matanya lalu pergi meninggalkan Meira yang masih diam menatapnya.
"Tanganku terluka, apa kamu gak peduli?" suaranya gemetar. Membuat Rizal menghentikan langkahnya beberapa detik.
"Maaf." Ia melanjutkan perjalanannya perlahan menghilang dari hadapan Meira.
"Kenapa jadi seperti ini?" Meira kembali menangis.
***
"Jadi kak Tika adalah..."
"Iya." Ardi memotong ucapan Meira.
"Jauhi adiknya, Mei. Cukup Kakak yang merasakan kegagalan." Ardi menghela napas. "Alasan kenapa aku tidak jadi menikahinya, karena ia bersikeras ingin membawa keluarganya, sudah bagus aku menerimanya tapi dia memaksaku untuk menerima keluarganya juga. Aku mencintainya tapi tidak dengan keluarganya. Aku tau isi pikiran mereka hanyalah uang.
"Caramu salah, Kak. Kamu tidak bisa ingin menghilangkan jejak keluarga kak Tika. Dia punya ibu dan adik yang ia sayangi."
Satu yang tidak Meira ketahui, sifat Ardi tak jauh beda dengan Boy. Dia kasar dan juga arogan. Ardi menyimpan rapat soal itu.
__ADS_1
"Lupakan dia, Mei. Seberapa kuat pun kamu menentang, tidak akan bisa menang." ucap Ardi sekali lagi untuk meyakinkan hati Meira.
Meira hanya bisa termenung. Bukan merenungi ucapan Ardi, sama sekali tidak. Ia malah kepikiran Rizal yang juga babak belur. Bagaimana keadaan pria manis yang amat ia sayangi itu sekarang?