My Sweet Green

My Sweet Green
Boneka Beruang


__ADS_3

Meira menarik tangan Rizal berlari ke arah kerumunan orang yang sedang berlomba mendapatkan boneka didalam mesin berbentuk segiempat besar itu.


"Nu, gue mau itu." rengek nya seperti anak kecil.


"Aku gak pernah main ginian." ucap Rizal bingung.


"Pokoknya gue mau boneka, Nu. Coba dulu, biar gue semangati." Meira mengedipkan matanya yang membuat Rizal tak tahan dengan kemanjaan dari gadis cantik itu.


Rizal mengambil empat koin lalu mulai mencoba bermain dengan mesin capit yang beri berbagai macam boneka lucu itu. Dua kali percobaan gagal.


"Yah..." Meira menunduk kecewa.


"Kali ini pasti dapat." ucap Rizal yang tiba-tiba jadi ambisius untuk mendapatkan boneka itu. Ternyata main beginian seru juga. Pikirnya.


Dengan konsentrasi penuh. Rizal akhirnya mendapatkan satu boneka beruang cantik berwarna pink.


"Waaahh, hebat banget lo, Nu." Meira spontan memeluk Rizal saking senangnya. Ia girang sembari melompat kecil. Tubuh yang dipeluk hanya bisa terdiam kaku. Ini adalah ekspresi yang berlebihan.


"Maaf, Nu." Meira sontak melepaskan pelukannya. "Habisnya gue seneng banget." tambahnya.


"Ini..." Rizal memberikan boneka berukuran sedang itu kepada Meira.


"Makasih, Anu." ucap Meira dengan ekspresi menggemaskan.


Rizal hanya menggeleng sembari tersenyum. Ternyata hanya sesederhana itu menyenangkan hati anak sultan.


Sisa satu koin. Rizal mencoba kembali bermain. Ia mencoba mengambil boneka beruang berwarna biru di sudut sebelah kiri. Dan akhirnya ia mendapatkannya dengan mudah.


"Ternyata aku jago juga main beginian." ucapnya dengan sedikit tawa.


Meira hanya diam terpesona saat Rizal mengukir senyum di bibir manisnya. Baru kali ini Rizal terlihat melepaskan tawa se renyah tadi. Apa Rizal sudah benar-benar mencuri hatinya?


Saat bersama Rizal seperti ini, Meira bisa melupakan masalah yang terjadi padanya. Ia mendapatkan kenyamanan yang amat sangat tenang dibandingkan saat bersama Boy dulu. Rizal benar-benar tulus.


"Ini boneka mu." Rizal menyodorkan boneka biru yang baru saja ia dapatkan tadi.


"Eh... Iya." ucap Meira sedikit terkejut setelah melamun tadi.


"Kok bisa dapat boneka beruang yang sama, cuma beda warna saja. Lucu banget." tambahnya sembari tersenyum girang.


"Suka gak?" tanya Rizal.


Meira tertegun saat mendengar pertanyaan Rizal yang terdengar sangat manis. Ia menoleh pria tinggi itu. Betapa manis nya Rizal saat tersenyum. Kenapa ia baru sadar sekarang?

__ADS_1


"Suka banget."


Suka kamu juga, Zal...


Malam sudah hampir larut. Ingin rasanya Meira menghentikan waktu sebentar lagi saja agar ia masih bisa menikmati malam indah ini bersama Rizal.


"Cepat habiskan es krimnya. Kita pulang." ajak Rizal.


"Gue kenyang banget, Nu." Meira menarik napas. Perutnya terasa penuh sekali karena sudah dimanjakan oleh bermacam-macam makanan lezat di pameran malam ini.


"Makanya jangan Maruk." ucap Rizal geleng kepala tak habis pikir dengan cewek yang disamping nya ini.


"Habisnya semua jajannya enak-enak." ucap Meira lalu melahap sisa es krim vanila itu.


Rizal menatap wajah Meira. Masih ada sisa es krim yang belepotan di bibir manis Meira.


"Mei..." Rizal memberi kode dengan telunjuknya.


"Apa?" tanya Meira bingung. Ia mencoba membersihkan mulutnya. Malu sekali kalau kelihatan jelek di depan cowok yang mulai ia sukai itu.


"Disini." Rizal kembali menunjuk sudut bibir sebelah kirinya memberi kode pada Meira.


"Ah... mana lagi hape gue." Meira membuka tas selempang berwarna biru yang disandangnya.


"Makasih, Nu." Meira mencoba mengatur kembali napasnya yang hampir buyar karena tatapan manis dari Rizal tadi. Baru kali ini ia begitu salah tingkah dibuat cowok.


Keindahan malam ini sudah berlalu. Rizal mengantar Meira pulang kerumah. Meira yang sudah sangat mengantuk berkali-kali menguap di boncengan Rizal.


"Makasih banyak untuk malam yang indah ini, Nu."


"Sama-sama, Mei."


"Ini ambil." Meira menyodorkan boneka beruang berwarna pink itu pada Rizal.


"Untuk apa?" tanya Rizal bingung.


"Buat lo. Ini untuk kenangan-kenangan, gue yang biru dan lo yang pink."


"Tidak usah, Mei. Untuk kamu saja." tolak Rizal. Boneka... warna pink pula. Pikirnya.


"Gue gak mau dengar penolakan. Kalo lo gak mau, gue bakal sedih banget." ancamnya.


Rizal menghela napas lalu mengambil boneka warna pink itu. Ia kemudian pamit pulang.

__ADS_1


"Pajang dikamar, ya bonekanya!" teriak Meira diiringi tawa serta lambaian tangan pada Rizal.


Ia tersenyum geli saat melihat Rizal yang menggandeng boneka imut itu. Tapi kenapa semakin manis, ya? Meira menggeleng. Sepertinya otaknya sudah tidak berfungsi sebagai mestinya lagi. Setelah didalam kamar pun ia masih terngiang-ngiang wajah manis Rizal. Ia terus memeluk boneka beruang berwarna biru itu.


Sudah pukul sebelas malam. Rizal masih tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi malam ini. Jalan bersama anak sultan ternyata seru juga. Ia juga bersyukur karena sudah membuat hati Meira senang. Ia berharap Meira akan selalu bahagia. Entah kenapa sekarang ia sangat peduli terhadap Meira. Semoga rasa ini hanya simpati sebagai teman saja.


***


"Kemarin ada cewek yang nyariin lo, Zal."


"Siapa?" tanya Rizal pada Erin.


"Gak tau, kayaknya anak kampus Nusantara."


"Oh, dia teman saya." Rizal sudah tau siapa orang yang dimaksud Erin.


"Temen lo anak konglomerat, ya, Zal." ejek Erin.


Rizal hanya tersenyum tipis. "Gak juga. Cuma dia."


"Spesial, dong." celetuk Riska.


"Enggak, lah. Beda kasta saya sama dia."


"Jadi lo mau punya pasangan yang seperti apa, Zal?" goda Erin.


"Aduh..." Rizal menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal itu. Ia heran dengan Erin yang selalu menggodanya.


Erin memang sering menggoda Rizal. Entah itu hanya bercanda atau memang ia menaruh rasa pada Rizal. Karena dari awal dirinya bertemu dengan Rizal ia sudah terpesona dengan ketampanan Rizal. Bukan hanya tampan, sifat Rizal yang baik dan lembut juga membuat leleh siapa pun yang dekat dengannya. Disitulah Erin mulai mendekati Rizal, mengajaknya bercanda dan menggombal. Membuat Rizal geleng kepala.


"Semenjak ada Rizal, Martin jadi terlupakan, ya, Rin?" tanya Riska diiringi dengan gelak tawa.


"Bang Martin, tuh ganteng. Cuma agak galak, sih." ucap Erin sembari menyusun jajanan manis di keranjang berwarna hijau itu.


"Riska, Erin. Saya izin makan siang sebentar, ya." potong Rizal ditengah percakapan dua perempuan cantik itu. Mereka mengangguk memperbolehkan.


Hari ini Meira kuliah gak, ya?


Rizal menggeleng lalu menyantap makan siangnya lagi. Kenapa ia jadi memikirkan Meira?


Ah... Rizal kembali mengingat ucapan sang kakak. Jangan pernah dekat dengan orang kaya. Jika nasibnya sama dengan Tika, ia bisa menambah kesedihan kakaknya. Lalu mau sampai kapan Tika terus mengalami trauma?Ia juga tak mau membuat ibunya susah nanti.


Tapi sekuat apapun pikirannya menolak, ia tetap tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ada rasa cinta di lubuk hatinya untuk Meira.

__ADS_1


__ADS_2