
"Kamu sudah berani melawan Papa!" tunjuk pria paruh baya itu dengan tatapan yang amat sangat murka. Ia tak bisa menahan luapan emosi setelah mendengar laporan dari sang satpamnya kemarin.
Meira hanya bisa diam memaku didepan Wijaya yang masih memarahinya. Ia tak sedikitpun mengeluarkan kata-kata untuk membela diri, tapi ia juga tak sedikitpun takut jika dirinya akan dimarahi habis-habisan hari ini oleh papanya.
Kali ini apapun resikonya akan ia hadapi. Karena hatinya sudah mantap memilih Rizal sebagai pendamping hidup. Meskipun harus meninggalkan rumah ini.
"Pertunangan mu dengan Boy akan segera dilaksanakan, biar kamu tidak bisa macam-macam lagi." Wijaya mendudukkan dirinya di sofa berwarna abu-abu itu.
"Aku gak mau." Meira membuka suara setelah lama terdiam dan hanya mendengar ocehan dari sang papa.
"Jangan membantah, Mei!"
"Keluarga Boy punya nama yang besar. Kita bisa mengambil untung dari mereka, kamu ingat itu."
"Aku gak peduli," bantah Meira dengan tegas. "Kali ini papa sudah keterlaluan. Papa memaksa kehendak sendiri. Papa tidak memikirkan perasaan Meira seperti apa, selama ini Meira hanya diam. Tapi soal perasaan dan pilihan hati itu bukan hak papa lagi. Meira sudah muak dengan aturan papa." ucapnya dengan nada yang bergetar.
"Beraninya kamu sama Papa..." Wijaya mengangkat tangan kanannya hendak menampar pipi anaknya sendiri, tapi tangannya tertahan sampai Meira pergi meninggalkannya yang masih tertegun.
Wijaya menarik tangannya, ia menghela napas panjang. Tak menyangka dengan apa yang ia lakukan barusan. Tindakan yang hampir melukai sang anak. Jika ia sampai melayangkan tamparan ke Meira ia akan menyesalinya seumur hidup. Tapi anak itu memang harus diberi pelajaran, pikirnya.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat mencintai anak tunggalnya itu. Ia merasa ini adalah jalan yang terbaik untuk Meira kedepannya.
***
Tika memukuli kepalanya sendiri sambil berteriak ketakutan. Rizal yang tadinya mau berangkat ngojek jadi urung saat melihat kondisi kakaknya itu.
"Dia kembali, Zal! Dia kembali!" teriaknya berulang kali hingga membuat Rizal kebingungan.
"Dia siapa, Kak?" Rizal terus memegangi sang kakak yang masih hilang kendali.
"Gimana ini, Zal?" Risma tak kalah khawatir melihat Tika. Padahal kemarin Tika baik-baik saja sampai setelah ia bangun dari tidur siangnya tadi.
Tika terus menerus mengulangi ucapannya. Ia seperti sangat ketakutan hingga mengeluarkan keringat dingin.
"Kak Tika tenang, ya, ada Rizal dan Ibu disini. Rizal akan selalu melindungi kakak dari orang itu."
Tak ada respon dari Tika. Ia menggigil dan kembali berteriak. Rizal mencoba menenangkannya dengan memeluk erat sang kakak. Ia mencium puncak kepala Tika sembari berkata dengan lembut. "Rizal akan selalu melindungi Kakak. Tidak ada satupun orang yang bisa mengganggu Kakak lagi."
__ADS_1
Tika akhirnya bisa sedikit tenang. Ia juga mulai melemas dan langsung terdiam kembali seperti biasa. Rizal mengelus lembut rambut perempuan cantik berambut panjang itu.
"Sekarang Kakak istirahat ya. Selalu ingat di hati dan pikiran Kakak bahwa Rizal selalu melindungi Kakak dari siapapun."
Tika memejamkan matanya perlahan. Ia kembali tenang. Rizal dan Risma pun bisa sedikit lega. Risma kembali kebelakang untuk menyelesaikan kegiatan mencuci piringnya. Rizal mengikuti dari belakang, ia tau hati sang ibu sedang tidak baik-baik saja walaupun Risma tak mengatakannya.
"Kak Tika akan baik-baik saja, Bu."
"Sampai kapan?" ucapnya menghela napas.
"Kita harus selalu berusaha dan berdoa, Bu."
Risma mengusap matanya. Mencegah air bening yang akan keluar dari kedua matanya. Sudah hampir tiga tahun Tika belum juga ada perubahan. Segala usaha telah mereka lakukan dari psikiater hingga obat tradisional.
"Rizal yakin dengan selalu berdoa Kak Tika akan sembuh." ucapnya tersenyum sembari mengelus kedua pundak sang ibu untuk menenangkannya. Walaupun hatinya sendiri juga sedang tidak karuan. Di satu sisi ia sedang memikirkan sang kakak, tapi disisi lain ia juga tak bisa melupakan pikiran tentang hubungannya dengan Meira. Baginya hubungan ia dengan Meira hanyalah hubungan terlarang. Jelas bisa mempersulit hidupnya yang sudah sulit.
"Rizal pamit ngojek dulu, Bu."
"Iya, Nak."
"Kalau ada apa-apa dengan kak Tika cepat kabari Rizal." ucapnya lalu mencium punggung tangan sang ibu.
Belum jauh ia meninggalkan rumah. Di perempatan jalan ia tiba-tiba dihadang oleh perempuan yang tak asing baginya. Ia membuka helmnya dan melihat Meira dengan wajah yang sangat kacau seperti habis menangis.
"Anu..."
Belum sempat Rizal bertanya, Meira sudah berlari menghampiri dan memeluknya dengan isak tangis lagi. Rizal semakin bingung, baru saja ia selesai menenangkan dua perempuan yang ia cintai dirumah tadi. Dan sekarang perempuan ketiga yang ia cintai sepertinya juga ada masalah besar hingga berani kesini sendirian.
"Ada apa, Mei?" tanyanya.
"Papa..." ucap perempuan cantik itu tersedu.
"Papa memarahiku habis-habisan hingga ingin menamparku."
Rizal menghela napas. Ia sudah tau pasti masalahnya adalah hubungan mereka berdua. Ia juga bingung mengatasi semua ini.
"Sudah kubilang ini akan berat, Mei. Aku bisa menjauhi mu agar kamu tidak sedih seperti ini lagi."
__ADS_1
Meira mendongak dan sontak melepaskan pelukannya. Ucapan Rizal barusan adalah hal yang sama sekali tak diinginkan olehnya. Ia tidak berharap Rizal berkata demikian, tapi mengapa pria manis itu makin membuatnya sedih.
"Lo jahat, Nu." Meira hendak pergi meninggalkan Rizal.
Tentu saja Rizal mengejar sang pujaan hati. Ia menarik tangan Meira. "Bukan begitu, Mei,"
"Maaf." ucapnya dengan penuh rasa bersalah.
"Apapun yang akan terjadi kedepannya, gue akan tetap milih lo, Nu."
Rizal menyeka air mata Meira yang hampir jatuh lagi setelah mengatakan isi hatinya dengan tulus. "Maafkan aku, Mei. Sekarang pikiranku juga sedang kacau, karena...." ia tak melanjutkan ucapannya. Apakah ia harus menceritakan tentang kakaknya lagi pada Meira.
"Kak Tika?" tebak Meira yang sudah pasti benar.
"Iya... Dia mengamuk lagi seperti orang ketakutan. Aku bingung, Mei." ucapnya menunduk.
Meira hanya terdiam, kehadirannya sore ini hanya menambah beban Rizal. Pria itu sedang sedih memikirkan sang kakak, ia malah datang membawa kesedihan lagi.
"Maaf."
"Kamu gak salah, Mei," Rizal mengusap air mata Meira yang sudah tak terbendung lagi. "Ada masalah apa? Ayo cerita." bujuknya sembari memasangkan helm untuk Meira.
"Papa mau mempercepat acara pertunangan gue sama orang gila itu."
"Lalu?"
"Gue gak bakal mau, Nu."
"Ini pasti ada sangkut pautnya dengan hubungan kita kan?" tanya Rizal.
"Iya, Nu..." ucap Meira segan.
"Apa kamu yakin akan tetap bersamaku, Mei?"
"Harus berapa kali sih, Nu, gue ngomong yakin sama lo?" ucap Meira sedikit kesal.
Rizal sedikit mengukir senyum, ia sudah tau ekspresi Meira bagaimana saat ini. "Iya, iya, berdoa saja agar ada solusi atas masalah ini. Semoga pintu hati papamu terbuka dan berubah pikiran."
__ADS_1
"Semoga saja..." Meira memeluk tubuh Rizal erat dan menyandarkan kepalanya di bahu tegap itu dengan nyaman.