My Sweet Green

My Sweet Green
Lelah


__ADS_3

Rizal pulang dengan rasa lelah yang teramat sangat. Bukan lelah saja, ia juga sangat kesal dengan orderan fiktif itu. Lain kali ia akan berhati-hati jika menerima orderan. Ia menghela napas, mencoba bersabar, anggap saja kejadian ini sebagai pelajaran untuknya.


"Assalamualaikum, Bu." Rizal mengetuk pintu tapi tak ada sautan dari dalam.


Kemana Ibu, pikirnya.


Ia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu. Ia mencari keberadaan ibunya, tapi tidak ketemu juga. Akhirnya Rizal memutuskan untuk mengganti baju terlebih dahulu sebelum ia mengecek keadaan Tika di kamar. Ia membasuh wajahnya, memejamkan matanya sebentar. Betapa lelah nya hari ini.


"Kak Tika..."


Rizal mengetuk pintu kamar Tika, seperti biasa Tika tak pernah menjawab.


"Rizal masuk, ya, Kak." Ternyata Tika mengunci pintu, betapa paniknya Rizal saat tau pintunya dikunci. Tika tak pernah mengunci pintu seperti ini. Ada apa dengan kakaknya?


"Buka pintunya, Kak." Rizal mencoba menggedor-gedor, tapi masih tak ada jawaban.


"Kak Tika!" teriaknya lalu mencoba membuka pintu kamar Tika dengan paksa.


"Kak jawab Rizal, Rizal mohon jangan seperti ini, Kak." Rizal kembali menggedor pintu kamar Tika.


Rizal melangkah mundur, ia mengumpulkan tenaga dan menendang pinta kamar Tika itu. Betapa terkejutnya dia saat melihat darah berceceran di samping kasur berwarna abu-abu itu. Kakinya terasa lemas, tak sanggup untuk melangkah lagi.


"Kak Tika!" Ia berteriak saat mendapati Tika yang sudah terkapar berlumuran darah di samping lemari.


Rizal mengangkat Tika dan membawanya keluar kamar. Ia tak tau harus bagaimana, sedangkan sang ibu belum juga nampak. Ia berlari keluar rumah, menghampiri sang bude di warteg dengan napas terengah-engah.


"Ada apa, Zal?" tanya Wina bingung.


"Kak Tika, Bude..." ia mencoba mengatur napasnya.


"Kenapa Tika?" tanya Wina semakin bingung melihat keponakannya tampak panik dan berlumur darah itu.


Rizal menarik Wina berlari kerumahnya.


"Astaghfirullah, Tika..." Wina menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Cepat telpon ambulans, Zal!" teriaknya lalu memeluk Tika yang sudah tak sadarkan diri itu.


"Iya, Bude." Rizal lalu menghubungi ambulans, sepuluh menit lagi ambulans akan datang.


"Ibu kemana Bude?" tanya Rizal. Siapa tau Wina melihat sang ibu.

__ADS_1


"Bude melihat ibu mu ke warung tadi. Oh, ya, jemput ibu mu sekarang, Nak."


Rizal mengangguk. Ia bergegas mengambil motornya. Menjemput sang ibu di warung yang tak jauh dari rumah.


"Ibu..."


"Kamu kenapa, Nak?" Bibir Risma bergetar saat melihat baju Rizal yang berkubang cairan merah itu.


"Ayo pulang, Bu."


Risma mengangguk cepat, ia kemudian membawa belanjaannya. Setelah sampai dirumah, terlihat ambulans sudah mengangkut tubuh Tika masuk kedalamnya. Barang belanjaannya seketika terlepas dari tangan. Badannya terasa lemas melihat Tika yang tak sadarkan diri.


"Tika..."


"Cepat lah kalian pergi, nanti aku dan Mas Jati akan menyusul." ucap Wina pada Rizal.


"Iya, Bude."


Di dalam ambulans, Rizal memangku sang ibu yang terkulai lemas. Risma tak menyangka Tika akan melakukan hal seperti itu. Ia pikir akan aman saja meninggalkan Tika sebentar ke warung. Lagi pula jarak warung dan rumah mereka tak begitu jauh.


"Ibu tenang, ya. Kak Tika pasti akan baik-baik saja." Rizal mengelus lembut wajah pucat sang ibu.


"Ini semua salah ibu, Nak." air mata Risma berderai. Ia tak sanggup melihat kondisi Tika.


Tika di bawa ke ruang UGD, dokter meminta Rizal dan Risma menunggu di luar saja sembari mereka menangani Tika.


Rizal merangkul ibunya yang masih menangis sedari tadi. Tak lama dokter pun keluar dan memanggil Rizal dan Risma untuk masuk keruangan nya.


"Kondisinya parah, Bu. Kedua pergelangan tangannya teriris lumayan dalam. Dan juga ada luka di kepala hingga menyebabkan geger otak. Sepertinya memang sudah ada luka lama di kepala bagian belakang. Kita harus menindak lanjutinya, Bu, Mas."


"Lakukan yang terbaik untuk kakak saya, Dok." pinta Rizal.


"Kami akan melakukan tiga operasi di kedua pergelangan tangannya. Tapi sebelum itu ia harus menerima transfusi darah. Karena pasien banyak menghabiskan darah." terang sang dokter lagi.


"Ambil darah saya saja, Dok. Golongan darah kami sama."


"Baiklah kalau begitu. Pukul sembilan malam nanti kita akan melakukan transfusinya. Mas bisa istirahat dulu. Oh, ya, setelah transfusi darah, pasien akan kami bius untuk persiapan operasinya lusa. Itupun kalau Ibu dan Mas berkenan."


"Iya, Dok."


"Baik, saya akan membuat surat persetujuan terlebih dahulu. Tunggu sebentar."

__ADS_1


Risma berbisik pada Rizal. Ia khawatir akan biaya rumah sakit yang sudah pasti sangat mahal. Bagaimana caranya ia mendapatkan uang.


"Ibu tenang, Rizal akan mencari uangnya." Rizal berusaha tersenyum agar sang ibu tak panik.


Tak lama sang Dokter datang memberikan surat itu. Ia menerangkan bahwa biaya operasi Tika sebesar sembilan puluh juta. Rizal terdiam, dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu.


Tapi kesembuhan Tika adalah nomor satu. Tanpa berpikir lama lagi, ia langsung menanda tangani surat persetujuan itu.


Mereka keluar dari ruangan dokter dan berjalan meninggalkan rumah sakit untuk mencari makan malam. Rizal membeli dua bungkus nasi untuk nya dan untuk sang ibu.


"Makan dulu, Bu."


Risma mengambil nasi bungkus itu, tapi sama sekali tak ia buka.


"Tabungan kita cuma ada dua puluh juta, Nak. Terus kemana kita harus menutupi kekurangannya lagi." Risma mengusap air matanya.


"Ibu makan dulu, ya, Nanti kita pikirkan itu." ucap Rizal menenangkan ibunya, padahal dalam hatinya juga sangat bingung.


Wina dan Jati datang menghampiri mereka. Bertanya keadaan Tika. Wina berharap keponakannya itu baik-baik saja.


"Bantu, Mbak, Win." ucap Risma memohon.


"Biaya operasi Tika sangat mahal. Uang kami sangat kurang."


"Memangnya berapa, Mbak?" tanya Wina.


"Sembilan puluh juta," Risma mengusap wajahnya.


"Tabungan kami hanya ada dua puluh juta. Mbak mohon sama kamu, Win. Ambil saja sawah bagian Mbak sebagai gantinya, Win."


"Kami akan membantu, masalahnya kami hanya punya dua puluh juta sekarang, Mbak." ucap Jati yang tak lain adalah suami Wina.


"Kalau begitu bantu Mbak menjual sawah." pinta Risma kepada Jati.


"Kalau menjual sawah bakal lama prosesnya, Mbak."


"Gimana ini, sementara operasi Tika akan dilakukan lusa."


"Kami akan berusaha cari pinjaman buat Mbak." ucap sepasang suami istri itu.


"Terimakasih, kalian sudah baik sama kami."

__ADS_1


Transfusi sudah selesai dilakukan. Rizal dan Risma kini sedang duduk di ruangan Tika. Rizal menyuruh sang ibu beristirahat di sofa. Sedangkan dirinya berbaring di lantai beralaskan tikar berwarna biru itu. Badannya terasa panas dan menggigil juga karena efek dari transfusi darah yang dilakukannya tadi.


Ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Biaya rumah sakit selalu menghantuinya. Walau bagaimanapun ia harus mendapatkan uang itu demi kesembuhan sang kakak.


__ADS_2