My Sweet Green

My Sweet Green
Trauma Tika


__ADS_3

"Pokoknya gue mau putus! Gue gak sanggup lagi sama tingkah Boy." Meira menghela napas panjang setelah meluapkan isi hatinya pada Rizal. Ia tak peduli dengan respon Rizal yang seadanya saat ia bercerita tentang hubungannya dengan Boy itu.


"Nu... makasih, ya. Saat genting seperti ini kamu selalu ada, memang kamu tuh ditakdirkan untuk jadi penyelamat gue, deh." ucap Meira diiringi gelak tawa.


Rizal tiba-tiba menepi dan menghentikan motornya. Ia menoleh Meira dengan tatapan penuh kecurigaan. Apa cewek ini sudah gila? Baru saja ia ngomel panjang lebar dan sekarang kenapa bisa tertawa se renyah ini.


"Kenapa, Nu?" tanya Meira bingung.


"Kamu baik-baik saja, kan?" Rizal berbalik bertanya.


Meira mengernyit. Bagaimana ia bisa baik-baik saja sementara pacarnya sedang nonton berdua dengan mantannya.


"Maksud saya, kamu gak..." Rizal menghentikan ucapannya. Ia hanya memberi kode garis miring.


Spontan Meira menepuk bahu Rizal keras hingga si empunya meringis kesakitan.


"Lo kira gue gila! Gue gak bakal gila cuma karna cowok brengsek kayak Boy." ucap Meira kesal.


"Baguslah." jawab Rizal singkat.


***


Rasanya malu saja sudah mempersiapkan segalanya tapi gagal dan hancur total. Hancur di hati maupun di fisik. Sesak di dada mulai meruap kembali, detak jantung mulai berdetak kencang. Tika mulai berteriak dan menarik kuat rambut lurusnya. Kenangan buruk satu tahun lalu kembali datang ke dalam ingatannya. Ia melihat bekas luka jahitan di betis kanannya, menjijikkan! Betapa pengecutnya mantan calon suaminya dulu. Tega sekali memukuli calon istri hanya karena menolak untuk hidup sendiri dan tak boleh menemui keluarganya lagi. Hanya karena malu dengan keluarga Tika yang menurutnya tak sepadan dengan keluarganya yang berada. Hal bodoh macam apa itu.


"Aaaaa!" Tika menjerit lagi.


"Kamu jahat, Ardi!" Ia meringkuk di balik lemari dua pintu itu.


"Halo... Rizal cepat pulang sekarang, Nak." Seru seseorang dibalik telpon.


"Ada apa, Bude?" tanya Rizal bingung.


"Tika..."


Rizal langsung bergegas pulang tanpa memikirkan orderan lagi.


"Kak Tika..." lirihnya.


Rizal mendobrak pintu kamar Tika. Terlihat Tika sedang merunduk sambil memegangi gagang sapu di tangannya. Rambutnya acak-acakan, matanya sembab dan seluruh tubuhnya bergetar seperti ketakutan.

__ADS_1


"Pergi kamu!" Tika menodong gagang sapu itu pada Rizal.


"Kak Tika sadar! Ini Rizal." Rizal maju perlahan, mencoba meraih gagang sapu yang ada ditangan Tika itu.


"Jangan ganggu aku lagi!"


Satu pukulan mengarah ke bahu Rizal tapi untungnya Rizal dengan sigap menyambar gagang sapu itu lalu memeluk erat sang kakak untuk menenangkan hatinya.


"Kakak jangan begini." Air matanya menetes. Pilu.


"Kak, sadar..." Rizal mencoba kembali menenangkan Tika dengan mengelus bahunya lembut.


"Dia sudah tidak ada lagi disini, dia sudah pergi jauh entah kemana. Sekarang Kakak hanya dikelilingi orang-orang baik."


Tika kembali mengucurkan air matanya. Ia merasa hanya adiknya lah satu-satunya pria baik di dunia ini setelah sang ayah.


"Kamu jangan seperti dia, ya. Kamu harus selalu jadi orang baik sampai kapanpun." Tika mengelus lembut rambut sang adik.


Rizal mengangguk lalu kembali memeluk kakak tercintanya. Ia berjanji tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti kakaknya lagi. Trauma yang dialami sang kakak bisa juga ia rasakan. Bukan hal mudah untuk bisa menyembuhkan depresi berat itu. Kekerasan sebelum berumah tangga yang dialami sang kakak sungguh menyakitkan.


Rizal mengepalkan tangannya. Kalau saja ia bisa bertemu kembali dengan mantan calon iparnya. Ia tak akan segan mengotori tangannya, menghabisi pria itu sampai nyawanya melayang pun ia sanggup.


Sayangnya pria brengsek itu sudah pindah keluar kota, entah sudah punya pengganti Tika ia pun tak tau. Satu yang Rizal tak akan lupakan. Wajah Ardi, wajah yang sangat memuakkan itu.


Rizal menggeleng sembari mengusap air mata sang ibu.


Tadi Risma memang pergi tergesa-gesa ke sawah. Karena hari ini jadwalnya panen bersama Ningrum. Melihat kondisi Tika sudah agak membaik, rasanya tidak ada salahnya meniggalkan Tika agak lama hari ini. Biasanya Risma akan pulang beberapa kali untuk melihat kondisi sang anak. Ia juga meminta tolong Wina tetangga sekaligus kerabatnya itu. Tapi tadi memang ia tidak sempat melihat Tika karena terlalu sibuk panen.


"Rizal yakin Kak Tika akan pulih secepatnya."


"Aamiin." Risma tersenyum tipis.


"Oh, ya. Siapa yang mengabari mu tadi, Nak?" lanjutnya.


"Bude Wina."


"Ibu ke warung bude mu dulu, ya. Mau berterima kasih karena sudah mengabari kamu." ucap Risma.


Rizal mengangguk.

__ADS_1


Kini Tika sudah tertidur pulas setelah menghabiskan energinya tadi. Rizal segera membereskan kamar sang kakak. Baju-baju berserakan pun sudah ia rapikan kembali. Ia kembali duduk disamping Tika yang sedang tertidur. Mengelus lembut rambut kakaknya.


"Kakak pasti akan dapat ganti yang lebih baik." Rizal mengecup kening Tika pelan.


Rizal meneguk teh hangat yang ia buat sendiri setelah menenangkan kakaknya tadi. Ia menghela napas panjang, memikirkan nasib Tika kedepannya. Salah satu jalan terbaik adalah mengobati trauma sang kakak bagaimanapun caranya.


Ia mengambil ponselnya. Melihat satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.


Selamat sore, kami dari PT. GoodFood ingin mengundang anda untuk interview kerja besok pukul dua siang.


Rizal senang bukan main ia tak hentinya berucap syukur pada Yang Maha Kuasa karena telah memberinya rezeki yang tak terduga. Disaat ia sedang berpikir keras bagaimana mendapatkan biaya untuk berobat Tika, disitulah ia dapat solusi.


"Ibu kok lama, ya." gumamnya. Ia sudah tak sabar ingin memberi kabar baik ini pada Risma.


"Assalamualaikum, Zal." Risma datang menenteng bungkusan berwarna putih ditangannya.


"Waalaikumsalam, Bu. Itu apa?" tanya Rizal penasaran.


"Oh, ini titipan bude Wina untuk kak Tika. Roti bakar." jawab Risma sembari membuka bungkusan itu lalu meletakkannya di piring.


"Bude Wina baik banget sama kita, ya Bu." ucap Rizal lalu tersenyum manis.


"Iya, dia selalu ada saat kita kesulitan."


Risma melirik Rizal, melihat sang anak yang tampak sumringah.


"Kamu kenapa, Zal?" tanya Risma bingung.


"Rizal punya kabar baik untuk Ibu sama kak Tika."


"Apa, Nak?" Risma makin penasaran.


"Rizal diterima kerja di PT. GoodFood. Jadi sekarang Rizal punya pekerjaan tetap dan ngojek Rizal jadikan kerja sampingan. Rizal janji akan menyembuhkan kak Tika. Rizal akan bekerja keras untuk mencari biaya pengobatan kak Tika." ucap Rizal tersenyum lalu memeluk sang ibu.


"Ibu sangat terharu dengan kegigihan kamu terhadap kesembuhan kakakmu, Nak. Tapi gimana rencana kuliahmu?"


"Tidak usah dipikirkan, Bu. Rizal tidak akan melanjutkan pendidikan lagi. Rizal akan fokus bekerja untuk kita bertiga. Keputusan Rizal sudah bulat."


"Nak..." Risma memeluk Rizal. Mengusap rambut hitam itu. Tak terasa air matanya menetes. Betapa beruntung dirinya mempunyai anak baik seperti Rizal.

__ADS_1


"Kakakmu akan segera sembuh kita harus berusaha dan juga selalu berdoa."


Rizal mengangguk.


__ADS_2