My Sweet Green

My Sweet Green
Genggamanmu


__ADS_3

Meira menepuk bahu Burhan hingga si empunya terkejut dan berhenti mendadak. Ia menoleh mengikuti pandangan sang majikan. Tak jauh dari mereka berhenti, ada sebuah mobil sedan hitam dan empat orang yang sedang memukuli pria yang tergeletak di aspal itu.


Mobil Rion...


"Non, itu Boy!"


Burhan kembali melajukan mobil mereka, mendekati orang-orang itu.


Saat itu juga Boy memberi kode pada teman-temannya agar segera masuk mobil dan kabur. Meninggalkan Rizal yang tergeletak tak berdaya dengan mulut mengeluarkan cairan merah akibat pukulan keras yang dilayangkan Boy.


"Cepetan, Pak!"


Meira gelisah, ia tau sekali siapa pria yang terbaring itu. Ia mengenal motor hitam itu. Motor yang sering ia duduki akhir-akhir ini.


Dengan cepat Sarni dan Burhan turun dan membalik badan pria itu.


"Rizal!" Meira menutup mulutnya. Dadanya terasa sesak melihat tubuh yang terkulai lemas itu.


"Ayo bawa masuk ke mobil, Pak."


"Kita bawa dia kerumah." lanjutnya.


Sarni membawa motor Rizal diiringi mobil dari belakang. Lina duduk di depan, sedangkan Meira dibelakang memangku tubuh yang penuh luka itu.


"Kenapa Boy sejahat itu sama Nak Rizal?" Lina bergumam. Tangannya gemetar, tak sanggup menoleh kebelakang.


"Tidak tau, Bik." Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Sakit sekali rasanya melihat pria yang mulai ia sukai terluka seperti ini.


Badannya juga panas...


Meira mengelus kening itu dengan lembut. Apa pria ini juga sedang demam?


Ya ampun, tega sekali Boy melakukan ini pada Rizal. Ia yakin semua ini ada kaitan dengan dirinya. Boy memang tak punya hati.


Sudah tengah malam. Rizal di rangkul oleh Burhan dan Sarni menuju ke kamar tamu. Dengan perlahan Burhan membuka jaket dan baju berwarna hijau yang bertuliskan SweetMart Toko itu.


Meira menganga, matanya terbelalak melihat memar di sekujur tubuh Rizal. Tangan kanannya juga mengeluarkan darah hingga ke sela-sela jari.


"Cepat panggil dokter Ronald!" pintanya pada Burhan.


"Iya, Non."


Burhan bergegas mengambil telepon diruang tamu.


"Rizal, bangun!" Meira menggoyangkan lengan Rizal. Tapi sayang nya tak ada sautan. Pria itu masih tak sadarkan diri. Matanya masih terpejam.


Meira menangis tersedu-sedu.


"Semua ini salah gue, maafin gue, Zal. Gue mohon lo sadar." Meira spontan memeluk tubuh yang sama sekali tak bergerak itu.

__ADS_1


"Non..."


"Minum lah dulu." Lina memberikan segelas air putih pada Meira.


"Makasih, Bik." Ia meneguknya sampai habis.


Seseorang dengan kemeja hitam dan menenteng tas berisi alat medis itu menghampiri mereka.


"Ada apa, Mei?" tanyanya.


"Sembuhkan teman saya, Dok." pinta Meira.


Ronald mulai memeriksa tubuh Rizal perlahan. Ia mengobati luka di pelipis kiri Rizal dan juga sudut bibir pria manis itu. Menghentikan darah yang terus mengalir.


Ronald juga memasang perban ke tangan kanan Rizal yang terluka karena perbuatan kejam Boy saat dirinya tak berkutik lagi.


"Sepertinya dia juga sedang demam, suhu badannya tidak normal." Ronald merasakan panas di tubuh Rizal.


"Tapi kamu tenang saja, dia akan baik-baik saja. Saya akan berikan obat penurun demam dan obat untuk menghilangkan nyeri pada memar di badannya.


"Semoga besok dia kembali pulih." tambahnya.


"Terimakasih, Dok."


"Kalau begitu saya pamit dulu, Mei."


"Mari saya antar, Dok." Meira mengiringi Ronald hingga pintu depan.


"Siapa dia, Mei?" tanya Ronald penasaran. Pasalnya, selama hampir sepuluh tahun menjadi dokter pribadi keluarga Wijaya. Ia tak pernah bertemu dengan pria yang baru saja diobatinya tadi.


"Dia teman saya, Dok."


Ronald tersenyum. "Baru kali ini kamu begitu panik dan langsung memanggil saya. Apa benar hanya sekedar teman?" tanyanya penuh curiga.


"Em... Benar, Dok." jawab Meira sedikit kikuk.


Ronald hanya mengangguk pelan. Berusaha percaya dengan anak kliennya itu.


"Dok..." Meira meraih tangan sang dokter.


"Saya mohon jangan beritahu papa dan mama." ucapnya memohon.


"Saya mengerti." Ronald tersenyum. Jelas ia tau kalau dirinya tak diperbolehkan sembarangan mengobati orang lain selain keluarga Wijaya. Tapi ini panggilan dari Meira, ia tak bisa menolak. Ia sudah menganggap Meira seperti anaknya sendiri setelah tau bagaimana sifat orang tua Meira.


Meira menunduk hormat saat mobil putih itu keluar dari gerbang rumah. Ia bisa bernapas lega saat Ronald dengan mudahnya di ajak kompromi. Ronald adalah pria baik di hidupnya selama ini selain Lina dan Burhan.


Malam sudah larut. Semua sudah kembali ke kamar. Tapi Meira tak pergi ke kamarnya, melainkan ke kamar tamu untuk melihat kondisi Rizal. Hatinya sama sekali tak tenang melihat Rizal yang belum juga sadarkan diri.


Meira menghela napas, dadanya terasa sesak saat ia menyingkap baju berwarna coklat yang baru saja di pakaikan Burhan tadi. Memar di sekujur tubuh Rizal membuat dirinya merasa sangat bersalah. Boy pasti sudah cemburu buta hingga tega ingin menghabisi Rizal.

__ADS_1


"Maafin gue, Zal." Meira menggenggam tangan lembut itu.


"Gue janji, gue bakal balas perbuatan Boy."


Tangan yang digenggamnya mulai bergerak perlahan. Menarik tangan itu hingga ke pelukannya. Rizal mengigau, ia kedinginan.


"Rizal..." Meira sangat terkejut dengan perlakuan Rizal.


"Jangan pergi... uhukk."


Rizal meraih tubuh Meira dan memeluknya erat, membuat si empunya kaku dengan jantung yang berdegup kencang.


"Ibu... Kak Tika... Rizal sayang kalian." ucapnya mengigau.


"Rizal... ini aku, Meira." Meira mencoba melepaskan dekapan Rizal. Mudah, karena memang pria itu belum sadar sepenuhnya.


"Tidurlah." Meira menyelimuti pria manis itu.


Tapi Rizal menahan tangan Meira kembali. Menarik tangan mulus itu hingga terduduk disampingnya.


"Temani Rizal, Bu..."


Deg...


Lembut sekali.


"Iya, akan aku temani." Meira melepaskan perlahan genggaman Rizal. Ia mendorong sofa kecil di samping meja rias dan mendekatkannya ke ranjang agar bisa berdampingan dengan Rizal.


"Selamat malam, Mas Anu."


Meira menggenggam erat tangan Rizal hingga tertidur disamping pria manis itu.


***


Gelas yang digenggam Risma tiba-tiba jatuh. Perasaannya tidak enak. Dari tadi malam Rizal belum mengabarinya apakah sudah pulang kerumah atau belum. Risma dan Tika memang sedang tidak ada dirumah. Mereka pergi ke rumah kakak Risma di kampung. Mereka ingin mengobati Tika secara spiritual. Memang usaha itu adalah jalan kedua selain rutin ke psikiater. Siapa tau Tika bisa cepat sembuh dari traumanya.


Tapi sekarang ia khawatir dengan Rizal. Sesekali ia mengecek ponselnya. Tapi memang belum ada kabar dari Rizal. Ia hanya bisa berpikir positif. Semoga anak nya baik-baik saja.


"Kenapa Rizal tidak ikut, Ris?" tanya Neni.


"Dia kerja, Mbak."


Neni mengangguk paham. Anak itu dari dulu memang sangat rajin.


"Ya sudah ayo pergi."


"Iya, Mbak. Sebentar saya jemput Tika dulu."


Mereka pergi ke tempat berobat Tika yang tak jauh dari rumah Neni. Pikiran Risma kini terbagi dua antara kesembuhan Tika dan kabar Rizal.

__ADS_1


Semoga kamu baik-baik saja, Nak...


__ADS_2