My Sweet Green

My Sweet Green
Perbuatan Keji


__ADS_3

Percuma kalau hanya dapat dukungan dari orang tua saja. Sedangkan si empunya hati tak mau kembali lagi. Boy berdecak kesal, emosinya memuncak ketika Meira benar-benar sudah mantap pergi meninggalkannya di cafe tadi sore.


"Cari tau siapa dia!"


Ia menutup telponnya lalu pergi keluar untuk mempersiapkan strategi yang akan membuat hancur orang yang sudah membutakan hati Meira. Orang yang membuat Meira bisa lepas dari dirinya.


Tempat tongkrongan masih sepi. Boy sudah datang duluan, ia menunggu tiga temannya. Bukan teman, bisa dikatakan ajudannya si Boy. Agak sedikit ngaret, membuat Boy bertambah kesal.


"Maaf kita agak telat, Boy." ucap Rion dan dua temannya.


"Gila kalian! Baru kali ini gue nunggu." ucap Boy menahan amarahnya. Biasanya selalu mereka yang menunggu kedatangan Boy. Kalau bukan karna penting saja Boy tidak mau menunggu tiga pesuruhnya itu.


"Memangnya ada apa, Boy. Tumben?" tanya Hendri penasaran.


"Gue putus sama Meira."


Mereka terkejut. Kenapa bisa? Padahal Meira sangat mencintai dengan Boy, walau berkali-kali disakiti Meira tatap bertahan dengan temannya itu. Mereka bertiga tau sekali bagaimana hubungan Boy dan Meira. Setiap kali ada masalah Meira selalu bertanya pada mereka.


"Beneran, lo?"


"Ntar juga balikan." ucap Ivan.


"Lo tau Meira kan? Dia selalu luluh sama gue. Tapi sekarang dia berubah. Dia tegas dan gak mau lagi sama gue. Semua gara-gara tukang ojek itu." Boy menghembuskan asap rokoknya kasar.


"Tukang ojek?"


"Iya, Gue yakin Meira ada hubungan dengan tukang ojek sialan itu. Makanya gue ngumpulin kalian disini. Kita punya tujuan malam ini."


Strategi licik mulai dirancang.


"Namanya Rizaldi Anugrah." Danu duduk disamping Boy.


"Selain driver ojek online, dia juga bekerja di minimarket dekat kampus kita. Dan kebetulan hari ini dia kerja shift sore."


"Bagus."


"Kenapa lo yakin kalau dia punya hubungan dengan Meira?" tanya Rion. Mana mungkin Meira suka dengan tukang ojek. Beda level.


"Dia sudah beberapa kali menghalangi gue ketemu sama Meira. Pokoknya kita bikin dia jera malam ini."


"Aman lah itu, Boy. Asalkan..." Hendri tak melanjutkan ucapannya. Ia tau Boy pasti mengerti apa yang ia maksud.


"Gampang."


Hendri, Rion dan Ivan hanya tersenyum. Bakal ada party besok kalau tugas ini selesai.


***


"Badan lo panas." Erin tak sengaja menyentuh tangan Rizal saat hendak mengambil Roti yang ada di rak itu.


"Lo sakit?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Agak gak enak badan, tapi gak papa, kok."


"Pulang aja, Zal. Dari pada demam lo makin parah." ucap Erin khawatir.


"Nanggung, Rin." ucapnya kekeh. Lagian demam seperti ini sudah biasa baginya. Nanti minum obat juga akan hilang sakitnya.


Pusing sekali, tapi Rizal masih tetap berdiri tegap di depan meja kasir melayani pelanggan. Ia melirik jam tangannya. Sebentar lagi pulang.


"Nanti bantuin gue bikin laporan sebentar, ya, Zal." ucap Martin lalu memberi beberapa lembar kertas berisi SOP barang.


"Iya, Bang."


Akhirnya Rizal bisa menyelesaikan pekerjaan yang cukup berat hari ini. Tinggal mengisi laporan yang di berikan Martin tadi.


Sudah pukul sebelas, Erin dan Siska sudah pergi meninggalkan toko duluan. Sementara Rizal dan Martin masih membereskan gudang dan menutup toko.


"Gue duluan, Zal."


Rizal mengangguk. "Iya, Bang."


Ia juga memasang jaket dan menghidupkan motornya. Badannya terasa makin panas, kepalanya terasa mau pecah.


"Pusing banget." Rizal memegangi kepalanya.


Ia melajukan motornya pelan. Rasanya tak sanggup lagi mengendarai motor ini, tapi ia harus cepat-cepat sampai rumah.


Tak sadar jika ditengah perjalan ia diikut oleh mobil sedan hitam dari belakang. Sudah setengah jalan tapi mobil itu masih mengiringi motornya.


Tidak sesuai harapan. Mobil itu melaju kencang lalu menghadang motornya. Sontak Rizal berhenti mendadak. Ia bingung dengan empat orang yang keluar dari mobil itu.


Rizal menatap orang yang ada didepannya. Ia sepertinya mengenali cowok berjaket hitam itu. Mantan pacar Meira.


"Mau apa kalian?" tanyanya.


"Lo masih inget kan sama gue?" tanya Boy santai.


"Saya gak kenal." ucap Rizal lalu hendak pergi dari kepungan Boy dan teman-temannya.


Boy memberi kode pada Hendri dan Rion untuk memegangi Rizal.


"Lepaskan! Saya tidak ada urusan dengan kalian." Rizal berusaha memberontak. Tapi tubuhnya tak berdaya. Lemas.


"Lo berurusan sama gue. Karena lo sudah berani deketin pacar gue."


"Saya gak pernah deketin pacar kamu."


Rizal tersenyum dan melanjutkan ucapannya.


"Bukannya sudah putus, ya."


Boy geram ia memberi kode ke Ivan. "Habisi."

__ADS_1


"Argh..." Rizal mengerang kesakitan. Perutnya di tinju berkali-kali.


"Kalian beraninya keroyokan, ayo lawan saya satu per satu!" Ia berontak sekuat tenaga hingga pegangan Hendri dan Rion terlepas.


Rizal mulai memberi perlawanan. Ia meninju pipi kanan Rion yang membuat pria itu terhuyung. Tapi apalah daya tiga lawan satu. Hendri dan Ivan sudah berdiri di belakangnya. Menendang bahu tegap itu hingga terjatuh dan tak berdaya.


"Itulah akibatnya jika berani bermain-main dengan Boy." ucap Boy dengan posisi kakinya menginjak punggung Rizal yang tertelungkup di aspal hitam itu.


"Lepasin saya..."


Rizal tak berdaya lagi. Untuk berdiri pun ia tak mampu lagi.


"Lanjutin, Guys!"


"Sikat." Rion dan Ivan mulai memukuli Rizal dengan keji.


"Argh..." Rizal kembali mengerang kesakitan. Sungguh kejam sekali perbuatan mereka.


Rizal mencoba melawan. Dalam posisi yang masih tertelungkup ia mencoba meraih kaki Boy yang tepat berdiri didepannya.


"Saya... benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan Meira."


Boy tersenyum lalu menendang kasar tangan yang sudah terkulai lemas itu. Ada atau tidak hubungan mereka yang jelas Boy sangat tidak suka dengan pria ini. Pria yang sudah ikut campur dalam urusan asmaranya dengan Meira.


***


"Kenapa tidak nginap saja, Non?" tanya Burhan.


"Daripada nginap disana, mending aku nginap dirumah Bapak." Meira berdecak kesal.


Lina dan Sarni hanya diam, tak berani berucap apapun saat Meira sudah marah seperti ini.


Tadi sore Meira mengunjungi kantor orang tuanya di luar kota. Ditemani Lina dan juga Burhan. Karena memang Ia tak pernah mau sendirian menemui orang tuanya itu.


Awalnya sang papa sudah menawarkan untuk menginap di apartemen saja bersama mereka. Tapi jelas ditolak olehnya, untuk apa menginap jika sepinya sama saja dengan dirumah. Lagian tujuan orang tuanya menyuruh datang hanya ingin ia menemui mama dan papa Boy.


Ogah!


"Sudah malam, Nak. Apa sebaiknya menginap saja?"


"Kami pulang saja, Ma." ucapnya kekeh.


Sherin hanya bisa menghela napas. Ia tau apa yang ada didalam pikiran anaknya itu. Tapi ia juga tak bisa membantah sang suami.


"Ya sudah, Sarni akan ikut kalian pulang." Ia menyuruh Sarni sang satpam untuk menemani perjalanan mereka.


Meira mencium punggung tangan sang mama lalu pamit pulang. Ia menatap mamanya dalam.


"Bantu Meira, Ma."


Sherin diam membisu. Ia bisa merasakan kesedihan yang Meira alami. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2