Namanya Khaula Nusaiba

Namanya Khaula Nusaiba
Obat Luka


__ADS_3

Jam tanganku menunjukkan pukul 14 .20 saat aku tiba di depan sebuah apartemen bernomor 389 terletak ditantai 3 sebuah gedung besar.Aku masih menunggu di lift sebelah saat lift yang ditumpangi Arjuna dan wanita itu naik,aku masih bisa melihat tujuan mereka.Dengan cepat aku menekan tombol angka 3 saat lift yang ada didepanku terbuka sempurna.Kemudian tak butuh waktu lama lift yang aku tumpangi sudah sampai di lantai 3.Aku masih bisa melihat mereka berjalan melewati lorong lebar sebelum akhirnya berhenti pada sebuah pintu bertulisan angka 389.


Aku hanya bisa mematung ditempatku berdiri saat Arjuna masuk melewati pintu bertulis 389.Tubuhku lemah,tak kuasa menahan beratnya beban di dalam hati ini.Aku tersimpuh kelantai.


Sudah hampir 10 menit lebih Arjuna masuk kedalam apartemen itu.Tak ada tanda tanda akan keluar.Aku bangkit seketika,menyeka air mataku kemudian berlalu.Mengemudikan mobil dengan laju menerobos jalan yang penuh sesak.


Berkali kali aku menguatkan diriku,tapi berkali kali pula aku tak kuasa menahan tangis.Aku berhenti di tepi jalan yang berada di pinggiran ibukota.Tanpa sadar aku sudah sangat jauh mengendarai mobil ini,bahkan sangat jauh.Kulihat ada danau berwarna hijau dibalik pagar besi ini.Aku butuh seseorang tempat aku meluahkan kegundahanku.Tapi siapa?


Puas aku menangis,kenapa Arjuna melakukan hal ini padaku.Aku betul betul merasa terpuruk.Aku menelfon Rita saat hati ini sudah mulai agak tenang.Tapi Rita sedang berada diluar bersama suaminya.Aku tak enak kalau harus mengganggunya.


Aku menelfon Ari.Sopir Arjuna yang sekarang bertugas menjadi supir buk Silvi.Aku rasa dia bisa dipercaya.Karena selain Ari seorang supir dia juga seorang sahabat bagi.Arjuna.Aku sempat beberapa kali bertegur sapa dengannya.Tak butuh waktu lama.Karena kebetulan Ari sedang berada didaerah sekitar waktu aku menelfonnya.


Ari mengendarai mobil Buk Silvi saat datang menghampiriku.Lekas kupakai kacamataku saat kulihat Ari turun dari mobil.Begitu juga denganku yang melangkah turun dari mobil.


"Ada apa Lula?kenapa kau menelfonku?dan mengajakku bertemu disini?"tanya Ari dengan wajah cemas.


"Aku ingin minta tolong denganmu Ri"jawabku dengan suara khas orang habis menangis.


Kurasa Ari mencurigaiku.Karena meski aku bercadar dan memakai kaca mata suaraku begitu ketara suara orang habis menangis.


"Apa yang terjadi?apa yang bisa kubantu?"tanya Ari lagi tapi kali ini seperti orang yang menyelidiki sesuatu


"Ri...."suaraku terhenti

__ADS_1


"Lula...sebenarnya sungguh ini bukan tempat yang tepat untuk kau dan aku bertemu, aku takut ada orang yang melihat.Lagi pula kau seorang istri majikan bukan Lula sebagai temanku...Aku takut akan ada masalah"kata Ari panjang lebar.


Aku menarik nafas panjang.Ku buang kasar.


"Aku hanya memintamu untuk mengantarkan kunci mobil ini kepada Arjuna.Hanya itu!"Kataku tanpa panjang lebar.Aku berjalan meninggalkan Ari yang mematung, heran melihatku.Entah apa yang dia pikirkan.Aku seolah tak perduli.Lagi pula aku juga tidak menjelaskan apapun.


Aku menyetop taxi yang sedang lewat,agar aku dapat cepat berlalu dari hadapan Ari.


"Stasiun Kereta Api ya pak"kataku pada sang supir yang setelah itu mengangguk.


Tak tau mendapat ilham dari mana.Tiba tiba saja aku mengatakan kestasiun kereta api.Sesampai distasiun aku bingung hendak kemana tujuan sebenarnya.Aku ikut mengantri bersama dengan beberapa orang yang mengantri.Pikiranku saat ini yang penting aku jauh dari Arjuna.


Baru kali ini aku merasakan sakit hati yang luar biasa,mengalahkan sakitnya waktu tangan dan kakiku patah bersamaan saat di negeri paman sam.


Kulangkahkan kaki ini memasuki gerbong kereta api kelas ekonomi yang ku ambil.Sengaja aku membeli kelas ekonomi, agar aku bisa lebih lama berada diperjalanan.Kadang bepergian dengan kereta api bisa membutku merasa lebih baik jika perasaanku sedang gundah.


Hampir 8 jam perjalanan menuju kampung halamanku.Setelah sampai distasiun kereta Aku memakai jasa travel untuk bisa mengantarkanku hingga kealamat rumahku.Saat itu hampir saja azan subuh, saat aku memasuki gerbang rumah keluarga besar kedua orang tuaku.


Bulir air mata menetes kepipiku,saat travel berhenti tepat didepan rumahku.Rumah sederhana milik kedua orang tuaku.Setelah aku benar benar sampai didepan rumah aku melihat seseorang keluar dari dalam rumahku.Aku kenal siapa itu,dia Adik bungsu ayahku.Namanya pak lek Mahmud.Dia mau kemasjid untuk sholat subuh berjamaah.


Pak lek Mahmud terperanjat melihatku sudah berada tepat di belakangnya.


"Lula?"tanya pak lek Mahmud sambil memicingkan matanya.

__ADS_1


Pak Lek Mahmud adek bungsu ayahku,tapi dia terlihat jauh lebih tua dari usianya karena dia sakit sakitan.


"iya pak lek"jawabku sembari menyalaminya dan mencium punggung tangannya.


"MasyaAllah....ayo masuk nduk"pak lek Mahmud merangkulku kedalam rumah.Bulek Ratih istri pak lek Mahmud sedang didapur waktu kami masuk.


"Buk...coba liat siapa yang datang buk..."pak lek Mahmud berteriak pada istrinya.


Bulek Ratih keluar dari dapur.Dia begitu senang melihatku.Kami berpelukan,sangat erat, hingga aku menangis,sudah lama sekali sejak aku melihat makam ayah dan ibu pertama kali aku pulang dari Jepang saat aku lulus SMA.


"MasyaAllah nduk...kamu kemana aja...ndak berkabar..."tanya bulek Ratih sambil menyeka air matanya.


"Lula...Pak lek tinggal dulu ya.Pak lek mau ke masjid."Kata pak lek Mahmud ketika suara azan subuh berkumandang di Mushollah dekat rumahku.


"Lula kerja bulek"jawabku singkat kemudian memeluk bulek Ratih lagi.


"Bulek...apakah uang kiriman Lula tiap bulan sampai di rekening pak lek?"tanyaku mengingat kalau aku tiap bulan selalu mengirimkan mereka untuk kebutuhan hidupnya.Aku jugak yang menyuruh mereka menempati rumah orang tuaku.Karena mereka ini sepasang suami istri yang tak mempunyai anak dan sakit sakitan sehingga membuat pak lek Mahmud tak bisa bekerja jika penyakitnya kambuh.


"Iya Lula...bulek terima kasih,karena kamu selalu membantu bulek.Kamu sama seperti ibumu...sangat baik nduk"kata bulek Ratih kemudian memelukku erat.


Aku bercerita banyak hal dengan bulek dan pak lek.Hingga tak kusadari kalau hati ini sebenarnya sedang terluka parah.Puas panjang lebar aku bercerita pagi itu kemudian sanak saudara yang mengetahui kepulanganku datang berkunjung sekedar menyapa bercerita dan bertanya keadaanku membuat luka hati ini sedikit terobati.


Aku tak salah memutuskan untuk kembali ke kampung halamanku.Aku sudah memantapkan hati dan pikiranku untuk tetap tinggal dikampungku.Paling tidak aku bisa mengajar di yayasan milik keluarga Ibuku.Aku sudah sangat rindu berlatih bela diri dibawah kaki gunung yang sangat sejuk.Semoga Aku bisa bertahan.Semoga aku bisa segera mengobati luka hati ini, dan melupakan Arjuna......

__ADS_1


Terima kasih ats dukungannya kakak.....mohon maap atas segala kesalahan penulisan kata ayau eyd....mohon krisannya...IsyaAllah bab berikutnya POV Arjuna ya kakak😘


__ADS_2