
Tepat jam 10 pagi aku dan bulek selesai masak dan beberes didapur.Aku pamit pada bulek dan pak lek untuk pergi berkunjung ke pondok pesantren asuhan keluarga Ibuku.Kulihat pak lek sedang beberes rumah dan halaman.Betapa beruntungnya Tama,si anak lanang pak lek dan bulek.Dia membawa kebahagiaan untuk bulek dan pak lek.Meski mereka bukan orang tua kandung Tama.Tapi lihatlah kebahagiaan keduanya.
Aku tak akan sanggup melihat melodrama nanti.Katanya sebelum zuhur Tama akan tiba.Dia mengemudikan mobilnya sendiri tanp a sopir karena ingin agak lama di desa.Aku pamit pada bulek dan pak lek sampai sore baru akan kembali.Tapi nanti jika aku betah di pondok aku akan menginap.Begitu pamitku saat aku menyalami mereka.
"Sampaikan salamku untuk anak lanang bulek dan pak lek ya"kataku kemudian berlalu mengayuh sepeda butut milik ayah yang sedari kemaren menjadi kendaraan handalanku.Meski rupanya sudah tak enak di liat dan butut tapi tenaganya masih sangat oke.
************
Pov Arjuna
Setelah beberapa menit kututup ponsel milikku tiba tiba ponselku berdenyit.Kulihat dilayar tertulis pak Mahmud.Cepat aku mengangkatnya.Aku katakan maksud dan tujuanku untuk datang berlibur ke desa.Pak Mahmud bertanya apakah aku sendiri atau bersama istri berkunjung ke desa,aku hanya sendiri kataku.Aku senang buka. kepalang.
Tak sabar ingin segera berangkat ke desa.Melepas penat hati ini, mengobati luka yang tergores sangat dalam.Aku mengemudikan mobilku sangat hati hati dijalan.Aku berangkat setelah Isya.Bila aku mersakan lelang dan ngantuk aku akan segera beristirahat dan memejamkan mata untuk menghikangkan ngantuk.
Aku tak mau gegabah.Aku tak mau terulang kedua kalinya kondisi frustasi saat itu membuatku kecelakaan didesa,untuk ada pka Mahmud dan buk Ratih yang menolongku.Sampai aku benar benar pulih.Itulah asal usul kejadian perkenalanku dengan buk Ratih dan pak Mahmud.
Mereka tidak mempunyai anak.Sejak kejadian itu mereka sudah menggapku sebagai anaknya.Karena aku sangat lama menumpang dirumahnya.Kata pak Mahmud rumah yang ia tempati adalah rumah kakak kandungnya yang sudah meninggal dunia.Dan anak dari yang empunya rumah sedang sekolah diluar negeri karena mendapatkan bea siswa.Karena itu pak Mahmud yang dipercaya untuk menjaga rumah serta beberapa meter sawah mereka.
Hatiku sangat senang sekali saat mobil memasuki daerah perbukitan menuju kaki gunung tertinggi di daerah jawa tengah ini.Sepanjang jalan kuliat petakan sawah yang sudah mulai menguning.Pertanda masa panen sudah mulai dekat.Sepanjang jalan aku tersenyum,tak sabar ingin melihat matahari terbenam di petakan sawah milik pak Mahmud yang berada di kaki gunung.Aku suka melihat warna Jingganya.Sangat menghangatkan jiwaku.
Tak lama setelah itu mobilku memasuki gerbang rumah sederhana tetapi sangat nyaman.Halamannya sangat luas.Banyak pohon rindang yang juga sedang berbuah lebat.Kuparkirkan mobil ini di halaman samping rumahnya.Aku lihat pak Mahmud sedang ingin keluar rumah sudah lengkap dengan kopiah, sarung dan baju kokonya.Pak Mahmud pasti mau ke Mesjid.Pak Mahmud seorang alim yang taat meski nasibnya tak selalu beruntung.
Cepat aku menghampirinya.Menyalaminya kemudian mencium punggung tangan kanannya.
__ADS_1
"MasyaAllah....buk...anak lanang wis nyampe buk"kata pak Mahmud sedikit berteriak pada istrinya.
Kemudian Buk Ratih keluar dan segera ku salmi dan kucium punggung tangannya.
"Masuk dulu nang,bapaj mau sholat ke mesjid,sebentar lagi azan zuhur"kata pak Mahmud kemudian buk Ratih dengan sigap membawa barang bawaanku.Dijalan kusempatkan membeli tape peyem dan jenang sebagai buah tangan.
"Saya ingin ikut ke mesjid boleh pak?"kataku dengan tiba tiba.
Pak Mahmud dan Buk Ratih saling berpandangan.Mereka pasti heran.Karena selama ini aku tak pernah melaksanakan sholat.
"Saya mau belajar pak"Timpaku cepat sebelum pak Mahmud dan bu Ratih berkat kata.
Pak Mahmud dan Bu Ratih kemudian tersenyum.
"Tidak pak...saya tidak capek"jawabku sambil tersenyum.
Aku dan pak Mahmud berjalan ke Mushollah di dekat rumahnya.Karena sholat zuhur tak terlalu ramai aku harus mengisi shof paling depan.Melirik saat imam memberikan aba aba.Mengikuti semua gerakan sholat yang dilakukan orang orang yang menjadi jamaah.Dan mengucap salam.Aku mengangkat kedua tanganku,menengadahkan kedua telapak tanganku untuk yang pertama kali.
Kali ini aku hanya mengaminkan doa imam di depan.Entah apa doa yang dipanjatkan iman aku tak mengerti.Aku hanya mengatakan amin.Tapi jaub dilubuk hatiku jauh di dalam pikiranku aku membayangkan wajah istriku yang sholehah.Ada ketenangan didalam hati ini.Saat semua bubar aku dan pak Mahmud cepat kembali kerumah.Kulihat buk Ratih sudah menyajikan makan siang di atas meja.
Banyak sekali lauk yang tersaji.Tapi yang kulihat lauk pauk ini seperti tidak biasa yang disajikan buk Ratih.
"Ayo nang kita makan dulu"kata pak Mahmud merangkulku untuk ke meja makan
__ADS_1
"Iya pak...Saya memang lapar.Sejak semalan sengaja tidak makan"aku berkata sambil terkekeh.
Buk Ratih yang mendengar sampai ikut terkekeh kecil sambil membawakan segelas air.
"Ini masakan spesial untuk Tama"kata buk Ratih
"Oh ya?kenapa ibuk repot repot membelinya"kataku.Karena selama ini aku tau betul masakan buk Ratih biasanya hanya sayur bening dan ikan goreng.Buk Ratih bukan wanita yang pandai memasak berbagai macam masakan,karena pak Mahmud pun tak boleh memakan makanan aneh aneh karena penyakitnya.
"Ini yang masak Anak ponakan bapak yang kul di Jepang"jawab buk Ratih kemudian menyendokkan nasi kepiringku.
Aku ingat, pak Mahmud dan buk Ratih pernah bercerita ponakan pak Mahmud yang mendapat beasiswa di Jepang.Aku hanya mengguk anggukan kepalaku.Kemudian menikmati sajian di meja makan ini.Entah suatu kebetulan atau memang lidahku merasakan kenyamanan yang lain.Aku makan hampir 3 piring.Mungkin karen beberapa hari ini aku jarang makan.Dan atau aku merasakan sensasi berbeda dalam masakan ini.
Saat suapan terakhir yang akan meluncur ke mulutku aku tersentak.Aku pernah memakan masakan yang rasanya hampir sama seperti ini.Tapi tak mungkin pikirku.Khaula istriku tak mungkin tiba tiba hadir di sini kemudian menjelma sebgai ponakan pak mahmud dan buk Ratih yang kuliah di Jepang.
Karena yang kutau Khaula berkuliah S1 di ibukota dan S2 di negeri paman sam.
"Ayo nambah lagi nang"Kata buk Ratih yang melihat piringku hampir saja licin.
Aku tersenyum."Terima kasih buk.Ini sudah sangat kenyang sekali.Pandai ponakan ibuk dan Bapak memasak"kataku sambil mencuci tangan di kobokan.
"Anak ponakan bapak itu memang pinter Tama.Pinter segalanya, untung kamu sudah menikah,kalau tidak tak jodohkan sama kamu"kata buk Ratih sambil berlalu membereakan meja.
Happy reading kakak...mohon votenya biar author semangat.Mohon krisannya biar lebih baik.Mohon maap atas kesalahan kata penulisan dan eyd.lop yu🤗😘
__ADS_1