
Suasana hening beberapa saat ketika Arjuna melangkahkan kakinya memasuki kamar. Khaula masih terdiam, duduk dengan perasaan bersalah.Tapi batinnya terus bergejolak,tak ingin dikalahkan oleh sakit yang mencabik cabik hatinya.Khaula menarik nafas panjang.Bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamarnya.
Saat Khaula berjalan hendak menuju kamarnya tak sengaja ia memalingkan wajahnya menatap Arjuna yang sedang duduk ditepi ranjang sedang menunduk menjatuhkan bulir bulir kepahitan yang tak sanggup ia bendung.
Arjuna terlihat seperti banci rapuh.Tak bisa menahan sesenggukan yang terdengar seperti suatu kekesalan yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata katanya.Khaula meneguk salivanya.Ia ingin menghampiri Arjuna yang sedang terpuruk.Tapi hati kecilnya belum bisa memaafkan lelaki halalnya itu.
Khaula melanjutkan langkah kakinya.Tapi tak menuju kamar tidurnya.Ia berjalan menuju dapur.Membuatkan segelas teh hangat untuk Arjuna.Setelah selesai menyeduh teh hangat Khaula membawanya menuju kamar Arjuna,tetapi sebelum Khaula sampai di kamar Arjuna, pak lek dan buleknya sudah siap berdiri di tepi pintu mengucapkan salam.
Khaula menjawab salam pak lek dan buleknya.Arjuna mendengar suara Khaula menjawab salam dengan sedikit keras.Buru buru Arjuna menyeka bulir bening yang masih tersisa disudut matanya, menyibak horden menata senyum di wajahnya yang tampan.
Arjuna menyalami pak Ahmad dan buk Ratih yang baru saja pulang dari desa sebelah untuk mengantarkan beberapa kepanti asuhan dan pondok-pondok pesantren.Arjuna melihat secangkir teh hangat di tangan Khaula,dengan cepat Arjuna menyambarnya.
"terima kasih"Arjuna langsung duduk dan menyeruput teh hangat butan istri tercintanya dengan sangat nikmat.
Khaula kaget hampir saja teh hangat menyirami tangannya.
Pak Ahmad yang baru saja masuk dan duduk sampai terheran heran melihat tingkah Arjuna.Buk Ratih tak kalah kaget dibuatnya.Pasalnya Arjuna hampir saja menyirami semua orang yang dilewatinya.
"Loh...kenapa nang?kamu ini haus atau kenapa?"tanya buk Ratih.
Khaula menarik kakinya segera ingin meninggalkan ruangan yang membuatnya tercekik.
"Haus buk...uda lama gak pernah minum teh"Arjuna berkata sambil melirik ke arah Khaula.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu minum teh nang"tanya pka Ahmad menimpali buk Ratih.
"Sejak....sejak......"Arjuna terbata bata ingin menjawab.Tapi terhenti saat teringat bahwa dirinya tak pernah meminum teh selama ia mengenal pak Ahmad dan buk Ratih.
"Sejak ditinggal istrinya kali pak lek"tiba tiba Khaula menjawab tanpa wajah bersalah dan kemudian berlalu.
"Sejak Khaula membuatkan teh ini khusus buat saya pak"Arjuna berkata sambil memandangi punggung Khaula yang hampir saja memasuki kamarnya,yang kemudian menoleh kearahnya.
"Nang...kamu ini ndak boleh ngomong begitu,lah wong tadi bapak liat kamu yang ngambil paksa dari tangan Lula"kata pak Ahmad sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.
"Iya nang...ibuk juga liat kok"tambah buk Ratih sambil senyum tipis.
"Lah...bapak sama ibuk gak percaya...coba tanya ama Khaula.Tapi dia harus jujur,ndak boleh bohong"Arjuna berkata sambil terus memandangi Khaula yang memasang wajah jutek.
"Sayang kamu sudah menikah nang.Kalau tidak akan bapak nikahkan sama Lula"tiba tiba pak Ahmad berkata sambil ketawa agak terbahak...
"Seandainya istri saya itu Khaula gimana pak?"Arjuna berkata sambil tersenyum sinis.
"Lah...bagus...berarti bapak akan menjadi bapak kamu seutuhnya"jawab pak Ahmad sambil menarik tangan buk Ratih berjalan ingin meninggalkan ruang tamu.
Khaula memicingkan matanya mengacungkan jari telunjuknya pada Arjuna
"Kamu ini orang kota yang aneh...datang datang tiba tiba mengaku anak pak lek Ahmad....terus sekarang berandai andai kalau saya istri kamu,gak lucu"kata Khaula
__ADS_1
Arjuna bangkit dari duduknya, berjalan mengejar pak Ahmad dan buk Ratih yang melewati kamar Khaula
"Saya ndak bohong pak...Khaula istri saya"Arjuna berkata sambil menarik tangan Khaula menggenggamnya erat didepan dadanya menunjukkan kepada pak Ahmad.
Khaula meronta, mencoba menepis dan melepaskan genggaman tangan Arjuna.Tapi Khaula tak berhasil.Genggaman tangan Arjuna sangat kuat sekuat debaran di hatinya saat ini.Ia benar benar tak bisa menahannya kali ini.
Pak Ahmad dan buk Ratih terdiam sesaat, berusaha mencerna dan mencermati keadaan saat ini.Apa yang terjadi pada Khaula dan Arjuna.
"Saya sungguh sungguh pak.Demi Allah"Arjuna mengangkat telunjuk kanannya keatas.
Pak Ahmad dan bu Ratih saling menatap.Sementara Khaula hanya membisu.Tak mampu untuk meronta.Tak mampu berkata.Pak Ahmad menyadari suatu kebenaran saat ia melihat ponakan kesayangannya tak melawan.
"Lula...pak lek butuh penjelasan"Pak Ahmad berjalan menuju meja makan dan duduk yang diikuti oleh buk Ratih.
Arjuna menarik paksa tangan Khaula kemeja makan, mengikuti langkah buk Ratih yang menyusul pak Ahmad.Arjuna memaksa Khaula untuk duduk di sampingnya yang berhadapan dengan pak Ahmad.
Ada satu fakta penting yang membut pak Ahmad mempercayai kata kata Arjuna saat itu, karena pada saat pak Ahmad dan buk Ratih kembali dari desa sebelah Khaula tidak memakai cadarnya di dalam rumah sementara dirumah Khaula bersam dengan Arjuna.Setau dan seingat pak Ahmad Khaula tak pernah melepaskan cadarnya didepan orang asing.Apalagi Arjuna alias Tama sepengetahuan pak Ahmad tak pernah bertemu Khaula sebelumnya.
"Jadi...apa yang sebenarnya terjadi yang pak lek tidak tau Lula"tanya pak Ahmad dengan nada datar seperti sedang mengintrogasi.
Khaula menunduk, tak dapat mengeluarkan suaranya.Ia memejamkan kedua bola matanya.Kemudian bulir air mata menetes indah dipipi mulusnya.Arjuna kemudian menyeka bulir air mata yang membasahi air pipi mulus Khaula.
"Pak....sebenarnya....saya tak pernah tau kalau Khaula adalah anak ponakan bapak yang pernah bapak ceritakan pada saya saat itu......"Arjuna mengawali ceritanya pada pak Ahmad.
__ADS_1
........... .
Happy reading...mohon maap lama update...mohon votenya ya kakak...mohon maap atas segala kesalahan...lop u pull😘