
Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah merusaknya.....
Ali bin Abi Thalib
*Memaafkan adalah kemenangan terbaik....
Ali bin Abi Thalib
Dia yang menaruh kepercayaan pada dunia...maka dunia akan menghianatinya....
Ali bin Abi Thalib*
"Lula....bangunlah....sudah sangat siang...."Arjuna membangunkan Khaula dengan menepuk pelan di punggung tangan Khaula.
"Em....."Khaula hanya menggeliat,tak membuka kedua matanya.Arjuna melihat ada yang lain dari sang istri,karena tak biasanya Khaula bangun disiang hari.Arjuna mulai meletakkan punggung tangannya dikening sang istri merasakan suhu tubuh Khaula.
"Apa kau baik baik saja sayang"Arjuna bertanya pada sang istri setelah memastikan suhu tubuh sang istri baik baik saja tak ada terasa sedang demam.Arjuna memeluk Khaula dari arah belakang.
"Ayo bangunlah...nanti kau akan kesiangan sholat subuh"Arjuna mengecup punggung sang istri,dan ampuh membuat Khaula mengeliat memutar tubuhnya menghadap Arjuna.
"Jam berapa sekarang?"Khaula bertanya masih dengan tangan yang mengucek netra bulatnya.
"Aku baru saja pulang dari mesjid,apa kau baik baik saja?"Arjuna bertanya lagi untuk memastikan keadaan Khaula istrinya.
"Entahlah...sepertinya tubuhku remuk...terasa sangat lelah"Khaula berkata sambil berusah bangkit.
"Apa perlu kita kedokter?"Arjuna melihat istrinya lekat lekat,karena Khaula tak pernah mengeluh tentang kondisi dirinya sebelum ini.
Khaula menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tidak....mungkin aku hanya terlalu lelah...beberapa hari ini karena mengurus kantor dan mengurus rumah"Khaula berusaha beranjak dari kasur.
Tapi baru saja ia akan melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi tubuhnya terasa limbung dan oyong.Kepalanya pusing seperti sedang berada diatas kapal dengan ombak yang dahsyat.Untung Arjuna sangat sigap langsung menangkap tubuh istrinya yang hampir saja melayang.
"Sayang....apa yang terjadi?"Arjuna panik.Mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya lagi di kasur.
__ADS_1
"Aku akan menelpon dr.Friska"Arjuna merogoh kantong celananya mencari benda pipih untuk menelpon dokter keluarganya.
"Juna....aku baik baik aja....hanya terlalu lelah...nanti kalau istirahat jugak pasti ok lagi....sekarang bantu aku buat wudhu ya"Khaula mencoba bangkit dibopong oleh suaminya kekamar mandi untuk berwudhu.
Sejak subuh Khaula berbaring di kasur empuk tanpa ranjang,Arjuna bolak balik mengecek suhu tubuh sang istri karena khawatir.Menjelang zuhur Khaula baru membuka matanya.
Khaula melihat sekeliling tak ada sosok yang dicarinya.Bau masakan syedap memasuki seluruh indra penciumannya.Khaula bergegas menuju ruang dapur, tapi sebelum ia sampai dilihatnya sosok wanita cantik bertubuh sintal dengan tampilan modis meski memakai hijab bersama buk Silvi dan Arjuna.Terdengar suara Arjuna sedikit kuat.
"Apapun keadaan Khaula Juna tak akan pernah membagi hati ini pada yang lain mami,Juna yakin kalau memang tuhan menghendaki kami tanpa keturunan akan tuhan ganti kebahagiaan itu dengan yang lain"Arjuna berkata dengan nada sedikit tinggi tanpa memperdulikan Rania yang ada diruangan yang sama dengannya.
Terlihat jelas raut wajah Rania yang sedikit berubah karena mendengar kata kata Arjuna.
"Tapi tak ada salahnya kalau kamu ikhtiar,bukankah ikhtiar sebagian dari perintahNya"buk Silvi berkata sedikit keras.
"Maap mi...tapi apakah ada jaminan bahwa Rania bisa memberikanku keturunan?seandainya Rania sama saja seperti Khaula bagaimana mi?"Arjuna berkata dengan nada menekan.
"Ya...namanya jugak usaha"buk Silvi mengambil tangan Rania menggenggamnya erat.Berusaha menenangkan Rania yang sudah mulai merasa tidak enak.
"Berarti tidak ada jaminan kan mi?"Arjuna membantah tapi entah bagaimana Arjuna melihat kehadiran Khaula dibalik tirai penghubung antra ruang dapur dan ruang keluarga.
"Sayang....bagaimana kondisimu?"Arjuna membopong Khaula untuk duduk di meja makan.Arjuna terlihat sangat khawatir pada kondisi sang istri.Ia takut kondisi Khaula akan semakin parah.
Khaula tersenyum pada semua.Meski hatinyanya luka mendengar kata kata ibu mertuanya.
Sementara Rania dan buk Silvi tanpak seperti orang salah tingkah.
"Alhamdulillah...sudah lebih sayang"Khaula menjawab masih dengan senyum yang mengembang.
"Mami dan Rania sudah lama?"Khaula bertanya dengan suara pelan.
"Sudah lumayan lama Lula...mohon maap kalau mengganggu istirahatmu sayang"buk Silvi berjalan menghampiri Khaula dan mengelus punggung Khaula lembut.
"Tidak apa mami...Lula yang minta maap karna lagi ada tamu malah masih tiduran"Khaula berkata sambil menatap buk Silvi dan mengelus punggung tangan buk Silvi setelah ia menyalami dan menciumnya.
"Lula....kamu pasti sudah mengenal Rania?"buk Silvi menunjuk ke arah Rania yang duduk bersebrangan dengan Khaula.
__ADS_1
"Iya mami...Lula kenal...Rania yang membantu Arjuna untuk membutkan rumah indah ini buat Lula"Jawab Khaula masih dengan bibir yang melengkung menyuguhkan senyum indah meski ia tahu siapa wanita itu.Wanita yang ingin menjadi bagian dari kehidupannya.
"Iya Lula...tapi...mami ingin kamu bisa mengenal Rania lebih baik lagi........."
"Mami....Khaula sedang tidak sehat mami..."Arjuna memotong kata kata buk Silvi dan menjauhkan buk Silvi dari Khaula.
"Juna....biarkan mami.....kan bukan suatu kesalahan toh harus mengenal seseorang lebih baik lagi....lagi pula ku liat Rania wanita baik dan sholehah"Khaula berkata sambil mencoba menahan luka dilubuk hatinya.
Arjuna tersenyum...ia memeluk Khaula dari belakang,mengecup ubun ubunnya yang tertutup hijab.
"Tu kan....Khaula aja gak masalah kenapa kamu yang heboh banget si Juna"buk Silvi berkata dengan polonya.Sementara Rania terus mengembangkan senyumnya.Merasa mendapat dukungan dari buk Silvi meski Rania belum membuka mulutnya untuk berkata kata.
"Mami....ini bukan saat yang tepat"Arjuna menekankan bahasa itu pada maminya.
"Sebenarnya apa yang ingin mami katakan?"Khaula bertanya meski sebenarnya ia sudah mengetahuinya,dan hanya sekedar membuktikan pendengarannya selama ini tidak salah.
"Mami ingin Arjuna menikahi Rania"buk Silvi berkata tanpa melihat Khaula dengan suara datar.
Khaula melengkungkan bibir bawahnya,sehingga memperlihatkan giginya yang putih, dan kemudian menundukkan pandangannya,dan memijit pelan pelipisnya yang terasa sedikit nyeri meski tak senyeri hatinya mendengar kata kata buk silvi.
"Mami..."Arjuna membentak buk Silvi
"Juna...mami sudah tua,kapan lagi kamu mau ngasi mami cucu"Jawab buk Silvi tak kalah dengan nada tinggi.
"Please mami....Lula sedang tidak sehat..."Arjuna terus berada di samping lula,menggenggam memberikan kekuatan pada Lula.
"Maap Juna.....Lula....saya yang salah,saya yang tidak tau diri....saya minta maap...tapi saya sungguh sungguh...saya tak akan meminta lebih...saya hanya ingin menolong"Rania akhirnya angkat bicara.
Arjuna tak mengindahkan kata kata Rania.Sementara Buk Silvi mendekat pada Rania mengelus pelan punggung Rania untuk menguatkan Rania.Sementara Khaula menarik nafas panjang,dadanya terasa sangat nyeri mendengarkan kata kata Rania...
--------------
☺happy reading kakak....silahkan like komen kritik dan sarannya ya kak....
bagaimana alur cerita berikutnya author lempar pada para readers....mau bagaimana kisah selanjutnya....maunya Khaula setuju kah pada poligami ini...atw bagaimana....saran dan kritiknya sangat diharapkan agar semua reader happy🤗lop yu
__ADS_1