Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 13 - Marquess


__ADS_3

Rambut kecokelatan yang terlihat memerah saat terkena cahaya, mata indah bagai permata…


Penampilan anak kecil ini seperti…


Nanny membelalakkan matanya.


Duke Kashawn!


Benar. Dia sungguh mirip dengan Duke Kashawn. Kalau begitu, itu artinya dia adalah tuan muda yang sedang aku cari?



Nanny tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Carver yang melihat tatapan Nanny mulai menyadari bahwa wanita itu tau dirinya adalah anak yang tengah dicari pada maid di seisi rumah.


"A… aku tidak apa-apa." Carver bangun dari posisinya secepat mungkin.


"Tuan muda!" kata Nanny, membuat Carver seketika menghentikan langkahnya sejenak.


Menyebalkan! Carver bergerak perlahan dan secepat mungkin berlari meninggalkan Nanny.


"Kau tidak akan bisa menangkapku!" teriak Carver sambil berlari sekencang mungkin.


"Tuan muda, tunggu! Akh—" Nanny baru saja akan mengejar Carver. Tapi langkahnya langsung terhenti begitu rasa nyeri mendadak menyerang kepalanya.

__ADS_1


"Arghh…" Nanny memegangi kepalanya yang entah kenapa tiba-tiba terasa sakit. Rasanya sama persis seperti beberapa saat yang lalu ketika dirinya pingsan.


"Nanny!" Nora yang melintas di sana segera menghampiri Nanny begitu sadar wanita itu tengah kesakitan. Ia berlari sebisa mungkin menghampiri Nanny guna membantunya.


"Nanny, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Nora menatapnya dengan raut wajah panik.


...*...


Carver terus melangkah meninggalkan Nanny. Ia bergegas mencari tempat persembunyian.


"Huft~" Carver menghela napas pelan begitu ia berhasil menemukan tempat persembunyian.


Carver menoleh ke arah belakang guna memastikan apakah Nanny masih mengikutinya atau tidak. Begitu mematikan keadaan aman, ia akhirnya bisa bernafas lega.


Sekarang yang harus aku lakukan adalah pergi dan mengecek keadaan ayah. Bagaimanapun, aku harus tahu bagaimana kondisinya. Aku takut ayah benar-benar sakit seperti apa yang dikatakan oleh para maid tadi, pikirnya. Carver lantas beranjak dari tempatnya. Ia harus memastikan keadaan ayahnya.


Carver terus melangkah menuju letak dimana kamar ayahnya berada.


...*...


Barnett terdiam sambil terus memperhatikan Karl yang masih belum sadarkan diri. Pria itu benar-benar merasa cemas dengan keadaan sang tuan Duke yang tak kunjung sadarkan diri, padahal sudah cukup lama dirinya menunggu. Tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan bangun.


"Apakah kau tahu tuan Karl memiliki trauma apa?" tanyanya pada orang kepercayaan Karl yang senantiasa ada disisinya.

__ADS_1


"Maaf?" Pria itu tampak bingung dengan kalimatnya.


"Aku masih terus kepikiran tentang ucapan dokter tadi. Dokter bilang bahwa keadaan tuan Karl yang seperti ini bisa saja dipicu akibat trauma yang dia alami."


"Maaf, tuan. Tapi saya benar-benar tidak tahu," kata pria itu.


"Huft~" Barnett menghela napas pelan. Dirinya memang sudah menduga hal ini. Karl bukalah tipikal orang yang bisa dengan mudah menceritakan setiap keluh kesahnya pada orang lain. Pria itu terlalu tertutup, bahkan pada keluarganya sendiri.


Barnett sudah mengenal Karl sangat lama. Bahkan jauh sebelum akhirnya lelaki itu menyandang gelar Duke.


"Tuan Marquess, maaf. Tapi kita harus pergi." Zach berucap begitu pria itu masuk ke dalam ruangan tersebut. Barnett beralih fokus padanya yang baru saja tiba.


"Ada apa?"


"Ini sudah waktunya. Anda tidak lupa dengan kegiatan hari ini 'kan?"


"Oh, benar! Untung saja kau mengingatkanku." Barnett beranjak dari tempatnya.


"Kalau begitu siapkan keretanya."


"Baik, tuan."


...***...

__ADS_1


__ADS_2