Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 22 - Enak


__ADS_3

Kalau memang Zelda melakukan ini setiap tuan muda hendak makan, apakah itu berarti sebelumnya ada seseorang yang berusaha untuk meracuni beliau? Nanny membatin. Ia menatap semua makanan yang tampak lezat dihadapannya itu.


Semuanya tampak menggiurkan jika dilihat dari tampilan.


Memang tampak menggiurkan. Tapi aku tidak tahu dengan jelas apakah di dalamnya akan terdapat racun atau tidak.


Semuanya terlihat seperti makanan biasa yang begitu lezat dan tidak akan berdampak apa-apa.


Glup!


Nanny menelan saliva-nya susah payah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dalam makanan itu terdapat racun kemudian dirinya memakannya. Secara otomatis, dirinya akan mati.


Membayangkannya saja membuat bulu kuduk Nanny berdiri. Bahkan wajahnya terlihat pucat saat ini.


"Kenapa kau hanya diam?" tanya Carver, membuat perhatian Nanny langsung tertuju ke arah datangnya suara.



"Apakah kau takut makan ini beracun?" sambungnya lagi. Anak laki-laki berumur enam tahun itu bisa dengan jelas membaca ketakutan diwajahnya.


Ketakutan yang tergambar cukup jelas dari ekspresi wajahnya yang mendadak berubah memucat.


"T-tidak. Saya hanya merasa kalau makanannya terasa sangat menjanjikan," gumam Nanny dengan terbata-bata.


"Kalau begitu ayo cicipi."

__ADS_1


"B-baik, tuan muda."


Nanny meraih beberapa makanan yang ada di sana dan segera mencobanya sendiri.


Dalam satu gigitan, Nanny langsung merasakan sebuah rasa yang begitu nikmat.


L-luar biasa…


Jadi ini makanan para bangsawan? Rasanya benar-benar enak.


Aku bahkan tidak bisa berhenti mengunyahnya.


Wajah Nanny berubah berbinar. Senyuman langsung merekah diwajahnya begitu merasakan kenikmatan dari makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


Ini adalah makanan terenak yang pernah aku coba! batin Nanny.


"Sungguh?" Carver menatapnya tak percaya. Nanny hanya mengangguk dengan penuh semangat.


"Anda bisa langsung menikmatinya."


Carver meraih gelas minumnya lalu meneguknya pelan.


Dia mau saja aku bohongi. Padahal memang tidak ada apa-apa di makanan ini. Zelda juga sebenarnya tidak pernah melakukan hal ini.


Aku hanya mengarang cerita saja, kau tahu?

__ADS_1


Carver meraih garpu dan pisaunya. Ia mulai menikmati hidangan yang telah di sediakan untuknya.


"Bagaimana? Enak, bukan?" Nanny menatapnya dengan wajah berbinar, meminta pendapat darinya begitu Carver melahap potongan pertamanya.


Carver hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kalau begitu selamat menikmati." Nanny mendorong piring dihadapannya, membiarkan Carver untuk menikmati sarapannya dengan tenang.


"Kenapa kau malah diam?"


"Eh?"


"Aku tidak menyuruhmu untuk berhenti makan."


"Jadi maksud anda…"


"Kau makan bersamaku. Temani aku makan. A-aku benci makan sendiri, dan jadi bahan tontonan." Carver berguna di kalimat akhirnya.


Nanny bisa melihat rona di pipinya kembali muncul ketika Carver bicara dengan nada terbata di akhir kalimatnya.


"Baiklah jika tuan muda bilang begitu, saya akan menemani anda."


"Untuk yang lainnya, bisakah kalian keluar sebentar? Tuan muda merasa kurang nyaman jika kalian terus berdiam diri di sana," tutur Nanny lagi sembari mengalihkan pandangannya pada para maid yang ada.


Maid yang ada kemudian membungkuk dan segera pergi dari sana. Nanny lagi-lagi tersenyum, membuat Carver tertegun dengan reaksinya.

__ADS_1


Di luar dugaan, dia benar-benar berusaha keras untuk menjadi pengasuh yang baik. Berbeda sekali dengan Zelda, pikir Carver.


...***...


__ADS_2