
"Jika kau membawanya, maka aku tidak akan bisa hidup lagi…" lirih Karl. Ia mendadak terdiam.
Pria itu mendongakkan kepalanya begitu menyadari ada hal yang tidak beres. Begitu mendongak, tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali dirinya seorang.
"Sepertinya, aku sudah gila…" Karl tertunduk sembari memegangi kepalanya.
Apa yang baru saja dilihatnya, mengenai wanita bernama Lynn, hanyalah sebuah ilusi dan halusinasinya belaka.
...*...
Ceklek!
Karl mendorong pintu kamar itu dan membukanya. Tiba di dalam, ia bisa melihat putranya yang masih terbaring di atas ranjang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Karl menghampiri ranjang yang di tempati Carver, ia kemudian duduk di tepi ranjang sembari fokus kedua matanya masih tertuju pada Carver.
Tangannya terulur secara perlahan, mengusap wajah kecil anak itu.
Mata Karl lagi-lagi berkaca-kaca. Ia merasa sakit setiap kali mengingat kejadian tadi siang yang telah menyebabkan putranya dalam keadaan seperti ini. Terlebih itu adalah ulahnya sendiri.
Pasti ada cara!
Pasti ada cara untuk mematahkan kekuatan ini!
__ADS_1
Aku yakin itu.
Aku hanya harus mencari tahu, caranya. Dan satu-satunya orang yang bisa aku mintai tolong sekarang ini adalah…
Dia!
Karl bangun dari tempat duduknya secara spontan. Bergegas ia keluar dari kamar itu.
...*...
"Tuan Duke, anda serius dengan ini?" tanya pria itu dengan wajah cemas.
"Hanya ini satu-satunya cara untuk mencari penawar untuk Carver."
"Tapi, bagaimana jika sampai ada yang tahu?"
"Saya berjanji. Saya juga akan pastikan tidak ada yang mengetahui hal ini selain saya, dan anda. Tapi…"
"Kalau begitu, tolong pastikan juga Gray agar tidak masuk dan mencariku. Aku akan kembali sebelum matahari terbit. Hiaa!!" Karl memacu kuda yang di tungganginya.
"T-tuan…" **** terdiam memandangi Karl yang sudah langsung pergi dengan Carver menggunakan kuda.
"Semoga, anda selamat sampai tujuan," gumamnya.
Karl memeluk Carver dalam dekapannya. Bersamaan dengan itu, ia juga berusaha fokus menunggangi kuda yang mereka pakai.
__ADS_1
Malam itu, hanya langit dan bulan yang tahu kemana mereka akan pergi.
...*...
Tok! Tok!
Pintu kayu besar itu di ketuk selama beberapa kali oleh seseorang di luar sana. Pria dengan lentera itu segera keluar dan menghampiri pintu begitu menyadari orang yang di tunggunya telah tiba.
"Tuan Duke," gumam pria dewasa itu begitu menyadari Karl datang dengan menggendong putranya.
"Dimana beliau? Aku harus bicara secepatnya dengan beliau."
"Beliau sudah menunggu anda di dalam, tuan. Silahkan masuk." Pria itu membukakan pintu dan mempersilahkan Karl untuk masuk.
Karl berjalan tergesa-gesa, melangkah menuju arah menara dimana pria itu biasanya berada.
Hanya dia yang bisa membantuku, pikir Karl sambil terus berjalan dengan pria tadi yang tak lain adalah anak buah si pemilik gedung.
Mereka terus melangkah hingga akhirnya tiba di gedung tempat huniannya. Di sana, Karl bisa melihat pria yang dicarinya tengah menunggunya sejak lama.
"Yang mulia pangeran ketiga—maksud saya, tuan Duke. Apa yang membuat anda datang kemari dengan sangat tergesa-gesa? Baru saja anda mengirimkan pesan pada saya, dan anda langsung tiba?"
"Aku datang kemari, karena aku yakin hanya kau satu-satunya orang yang bisa membantuku."
"Maksud anda?"
__ADS_1
...***...