
"Baiklah, aku akan menyetujui kesepakatan mu!" tukas Carver yang dalam sekejap membuat semua orang membatu mendengar kalimatnya.
Nanny menghentikan langkahnya, ia menoleh pada Carver yang baru saja berucap. Kedua mata wanita itu langsung berbinar begitu mendengar penuturannya barusan.
"Sungguh?" tanya Nanny memastikan sekali lagi.
Carver mendengus kesal sebelum akhirnya menjawab, "Iya."
Wanita itu seketika tersenyum mendengar ucapannya. "Baiklah, kalau begitu mulai hari ini kita buat kesepakatan."
Nanny melepaskan genggaman tangannya lalu berjongkok dengan posisi saling berhadapan dengan Carver.
Nanny mengulurkan tangannya dengan jari kelingking yang teracung.
"Apa ini?" tanya Carver tak mengerti.
"Tentu saja ini adalah tanda untuk kesepakatan kita. Anda hanya perlu menautkan kelingking anda seperti ini, lalu menempelkan permukaan jempol anda sebagai tanda tangan. Dengan begitu, kesepakatan resmi di mulai." Nanny mencontohkan dengan kedua tangannya. Walaupun agak terlihat aneh karena tangan yang seharusnya di gunakan untuk janji jari kelingking adalah tangan yang sama.
Carver terdiam sejenak, ia tampak ragu untuk membuat keputusan sebelum akhirnya Nanny menarik tangannya.
Carver yang menyadari hal itu segera menepis tangan Nanny, lalu menggerakkan tangannya sendiri dan berakhir menautkan jari kelingkingnya dengan Nanny.
Kesepakatan mereka dimulai, dan negosiasi Nanny berhasil.
Nanny tersenyum simpul.
Satu langkah awal. Walaupun hanya langkah kecil, tapi tidak apa-apa. Ini merupakan sebuah kemajuan yang mungkin akan membawaku mendekat sedikit demi sedikit menuju tuan muda.
...*...
Colins menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya berulang kali. Sudah lebih dari sepuluh menit dirinya menunggu, dan Carver tak kunjung datang.
"Huft~ sepertinya beliau tidak akan datang. Apakah sebaiknya aku pergi saja?" Colins bergumam pelan.
Biasanya ketika Carver terlambat artinya hanya ada dua kemungkinan, Carver tidak ingin menghadiri kelasnya atau justru dia baru bangun dan tengah bersiap atau di bujuk untuk menghadiri kelasnya.
Sejak awal, Carver memang terkesan tidak ingin menghadiri kelasnya sama sekali. Bahkan berulang kali, Colins melihat Carver seakan terpaksa menghadiri kelasnya.
Kalau terus seperti ini, semangat Colins dalam mengajar putra tuan Duke satu-satunya itu juga jadi terus menciut.
Jika bukan permintaan dari tuan Duke secara langsung, mungkin sekarang aku sedang sibuk mengajar di akademi, batin Colins.
Colins menghela napas panjang. Bagaimanapun dirinya tak bisa menyesali tawaran dari Karl karena memilih untuk mengajar Carver secara private. Karena jujur saja dia juga senang bisa mengajarnya secara private seperti ini, tapi terkadang Colins merasa kesal karena Carver yang memang lebih banyak bermain-main daripada menyimak pelajarannya.
Ceklek!
__ADS_1
Suara pintu membuyarkan seluruh lamunannya. Wanita itu langsung menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Carver yang melangkah masuk.
Air muka Colins seketika berubah. Ia terdiam untuk sesaat, kaget bercampur senang begitu melihat Carver akhirnya datang.
"Tuan muda!" Colins spontan bangun dari posisinya. Ia membungkuk memberi hormat pada anak laki-laki yang baru saja menghentikan langkahnya tepat di depannya.
Carver datang bersama Nanny.
"Maaf telah membuat anda menunggu lama, madam," kata Nanny sambil tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa. Itu bukan masalah besar bagi saya." Colins balas tersenyum. "Kalau boleh tahu, anda…"
"Oh, aku lupa memperkenalkan diri. Saya Nanny, pengasuh baru tuan muda."
"Salam kenal."
"Mulai sekarang, tuan muda akan saya pastikan selalu datang menghadiri kelas anda. Saya akan pastikan juga beliau tidak akan bolos lagi."
"Terima kasih, mohon bantuannya."
"Menyebalkan," gumam Carver dengan wajah kesal. Ia mendelik pada Nanny. Jujur saja dirinya masih agak kesal karena sudah mengambil keputusan terburu-buru seperti tadi.
Tapi, mau bagaimana lagi? Dia sudah terlanjur membuat perjanjian dengan Nanny.
Nanny mengalihkan pandangannya pada Carver yang berdiri tepat disampingnya.
"Baik-baik!" ketus Carver.
"Kalau begitu, saya pergi dulu. Silahkan mulai pelajarannya."
"Iya."
Nanny membungkuk lalu pergi meninggalkan Carver berdua bersama Colins di dalam sana.
Begitu pintu tertutup rapat, Carver segera menghampiri mejanya dan duduk di sana.
Entah kenapa, tapi tampaknya tuan muda begitu patuh dengan pengasuhnya yang ini.
Kira-kira, kemana pengasuhnya yang dulu?
Ah, kenapa aku harus repot-repot memikirkan hal itu? Sekarang yang terpenting adalah tuan muda mau datang dan menghadiri kelasku, dengan begini aku bisa mengajar dengan tenang.
Colins tersenyum, ia melirik Carver sekilas sebelum akhirnya beranjak menuju kursinya untuk memulai pelajaran.
__ADS_1
...*...
"Sekarang aku bebas."
"Karena tuan muda akan belajar hingga menjelang makan siang, itu artinya aku senggang hingga nanti."
"Sekarang apa yang harus aku lakukan agar aku tidak bosan?"
"Pekerjaanku di sini hanya sebagai pengasuh, sedangkan tugas lainnya sudah dikerjakan oleh maid lain." Nanny memonolog.
"Apakah lebih baik aku menemui Nora?"
"Sepertinya ide yang bagus. Mungkin saja aku bisa menanyakan banyak hal tentang tuan muda padanya, mengenai apa saja yang biasanya Zelda lakukan ketika bersama tuan muda. Aku jadi bisa tahu juga 'kan apa saja yang dilakukan beliau."
Nanny mempercepat langkahnya, hendak mencari Nora untuk menanyakan banyak hal pada Nora mengenai Carver dan apa saja yang biasanya dilakukannya dengan Zelda.
Tapi belum sempat Nanny menemui Nora, langkahnya sudah kembali terhenti saat secara tidak sengaja dia melihat sebuah pintu ruangan yang terbuka.
Kenapa pintu itu terbuka? Apakah ada seseorang di dalam sana?
Nanny menghampiri pintu yang dilihatnya. Ia benar-benar baru sadar kalau ada pintu yang terbuka di sana.
Tiba di depan pintu, ia berusaha untuk mengintip masuk. Setelah diperhatikan, tidak ada seorangpun di dalam sana.
"Halo? Apakah ada seseorang di dalam?" Nanny mendorong pintu sambil melangkah masuk ke dalam sana.
Di dalam, Nanny mengedarkan pandangannya, dan memang benar. Tidak ada siapapun di dalam sana.
Tidak ada siapapun di sini. Tapi kenapa pintunya terbuka? Siapa yang baru saja datang kemari?
Nanny terdiam. Alih-alih pergi dan mencari orang yang telah membuka pintu, atensinya justru tertuju pada semua benda yang ada di dalam sana.
Di lihat dari semua benda yang ada di dalam sana, Nanny bisa menyimpulkan kalau ruangan itu adalah ruang musik.
Terdapat beberapa instrumen musik di dalam sana, mulai dari piano, biola, cello, saksofon, dan alat musik lainnya.
Ruangan itu nyaris penuh dengan segala jenis instrumen musik yang kelihatannya sangat lengkap.
Nanny perlahan tanpa sadar berjalan lebih dalam menuju ruangan tersebut.
"Ini, ruang musik?"
"Apakah di rumah ini tuan muda dan tuan Duke suka bermain musik?"
"Ada banyak sekali instrumen di dalam sini."
__ADS_1
Nanny menghampiri satu persatu alat musik di sana.
...***...