
"A-ayah!" Carver memberanikan diri untuk memanggilnya. Ia mendongak sambil menatapnya dengan ragu-ragu.
Karl tertegun mendengar kata yang baru terlontar dari bibir putranya.
A-ayah? Dia baru saja memanggilku dengan sebutan ayah?
Entah kenapa rasanya aneh, dan menggelikan di saat yang bersamaan. Mungkin karena ini pertama kalinya aku mendengar ada seseorang yang memanggilku dengan sebutan seperti itu.
Wajah Karl merona. Bibirnya mengulas senyum tipis, dengan tatapan mata memandang putranya penuh keteduhan.
Aku menyukainya, pikirnya.
"Selamat siang. B-bagaimana kabar ayah? Aku senang bisa bertemu dengan ayah." Carver memberikan senyuman terindahnya.
Karl lagi-lagi terdiam. Melihat senyuman Carver yang menggemaskan benar-benar nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Selamat siang, Carver. Kabar a-ayah baik. Bagaimana dengan kabarmu?" Karl menjawab dengan ragu-ragu.
Dia benar-benar menggemaskan. Senyumannya sungguh membuatnya lucu, pikir Karl.
Carver mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
Ayah sungguh bicara denganku? Apakah ini sungguhan? Ini nyata?
Ternyata… benar kata bibi Mecca. Ayah adalah orang yang baik.
Carver terhanyut dalam lamunan sesaatnya.
"Kabarku baik," sahutnya kemudian.
__ADS_1
...*...
Karl memperhatikan Carver yang kini sibuk makan. Ia memakan semua hidangan dihadapannya dengan begitu lahap.
Setelah perbincangan yang cukup singkat, Karl dan Carver akhirnya benar-benar menikmati makan bersama mereka untuk pertama kalinya.
Karl tak bisa lepas menatap putranya. Rasanya masih seperti mimpi semua ini terjadi. Di panggil ayah untuk pertama kalinya setelah tiga tahun putranya lahir, lalu melihat anak laki-laki itu makan dengan lahapnya dihadapannya.
Dia benar-benar menggemaskan ketika sedang makan seperti itu.
Rasanya sulit di percaya. Dia benar-benar hidup 'kan?
Bukan boneka 'kan?
Kenapa dia begitu menggemaskan?
Carver menoleh pada ayahnya.
"Kenapa ayah tidak makan?" tanyanya dengan wajah polos.
"Ini, ayah sedang makan. Kau juga harus makan yang banyak, ya." Karl mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Carver yang benar-benar seakan memanggil nalurinya untuk mengusapnya penuh kelembutan.
Karl tersenyum padanya.
Carver speechless. Ia memegangi kepalanya setelah Karl mengusap puncak kepalanya.
Ayah mengusap kepalaku? Itu tandanya ayah menyukaiku?
__ADS_1
Aku benar-benar senang. Ternyata bibi Mecca memang tidak berbohong padaku.
"Makan ini juga." Karl meraih makanan yang dilihatnya secara kebetulan.
Gray sempat mengatakan bahwa putranya sangat menyukai makanan itu, dan inisiatifnya benar-benar muncul untuk memberikan makanan yang disukainya.
Carver menatap makanan yang diberikan Karl barusan. Ia mengangguk lalu melahap semuanya dengan begitu bersemangat.
Sepertinya dia memang sangat menyukainya seperti yang di katakan Gray, pikir Karl.
"Uhuk!" Carver tiba-tiba terbatuk.
Karl tersadar dari lamunannya. Ia membelalakkan matanya begitu melihat apa yang dialami putranya.
"Astaga, tuan muda!" Mecca tanpa sadar memekik kaget. Semua orang tertohok dengan yang mereka lihat.
Carver diam tanpa kata. Kedua matanya memandangi telapak tangannya yang kini bersimbah darah.
Ada begitu banyak darah yang keluar dari mulutnya, bahkan pakaiannya sampai habis oleh darah.
D-darah?
Carver berusaha mencerna apa yang baru saja di alaminya.
Drrkkk…
Karl refleks beranjak dari tempatnya. Rasa panik seketika menghampirinya.
"Carver, kau tidak apa-apa?" katanya dengan wajah cemas. Wajahnya mendadak berubah pucat begitu melihat yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Ayah…" Carver menatap ayahnya.
...***...