
Carver membuka kedua matanya perlahan, hal pertama yang dilihatnya saat pandangannya jelas adalah sosok Karl yang kini menatapnya lekat.
"Carver…" Suara lirih di dengarnya dari mulut pria itu. Karl meluas senyum begitu melihat putranya membuka mata.
"A-ayah…"
Karl memeluk tubuh Carver secara spontan, mendekapnya erat dengan ekspresi haru yang tak dapat disembunyikannya.
"Akhirnya kau sadar, nak… ayah benar-benar mencemaskan keadaanmu."
"Ayah benar-benar lega karena kau sudah sadar. Ayah takut kehilangan dirimu…"
Karl menangis haru, membekap tubuh Carver. Sementara anak laki-laki yang di peluknya hanya diam tanpa kata. Ia benar-benar kaget dengan apa yang dialaminya.
Di samping dirinya baru sadar dari pingsannya, Carver yang sedang berusaha mengumpulkan kesadarannya di buat semakin kebingungan dengan Karl yang tiba-tiba memeluknya seperti ini.
Otaknya berusaha keras mencerna setiap hal yang tengah dialaminya.
Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun terakhir, Carver bertemu dengan Karl. Dan seingatnya, ini adalah pelukan pertama yang dia dapatkan dari Karl setelah ingatannya benar-benar tercipta.
A-ayah memelukku?
Carver mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Rasanya bagaikan sebuah mimpi saat ia mendapati sang ayah memeluknya dengan begitu erat.
Apa yang terjadi?
Karl semakin mengeratkan pelukannya. "Ayah mohon, jangan lakukan ini lagi. Jangan buat ayah cemas lagi. Ayah sungguh tidak bisa kehilanganmu…"
Nanny yang tengah tertidur pulas di lantai dengan posisi tertelungkup pada ranjang, seketika mulai merasa terganggu ketika suara Karl di dengar mendominasi kamar tuan mudanya.
Wanita itu membuka kedua matanya secara perlahan, mengerjapkan mata beberapa kali hingga pandangannya benar-benar jelas.
Nanny seketika membelalakkan mata begitu melihat Carver yang telah sadar, dan sekarang berada dalam pelukan Karl.
"Tuan muda…" Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya, membuat fokus ayah dan anak itu pecah dan refleks beralih pada wanita yang ada di tepi ranjang sana.
"Tuan muda, syukurlah anda sudah sadar. Saya benar-benar senang melihatnya." Nanny tersenyum simpul, kedua matanya yang haru mulai berkaca-kaca. Nyaris meneteskan air mata.
Carver terdiam. Ia menatap Nanny lekat sebelum akhirnya beranjak dan memeluk tubuh wanita itu secara spontan.
"Ibu…" lirihnya.
Nanny dan Karl terbelalak dibuatnya saat Carver tiba-tiba saja melompat dan memeluk Nanny, lalu memanggil wanita itu dengan sebutan ibu.
"Aku sayang ibu…" gumamnya sambil menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Nanny.
Nanny diam sesaat, berusaha untuk memproses apa yang baru saja di dengarnya.
__ADS_1
Tep!
Nanny mengusap puncak kepalanya penuh kelembutan. "Tuan muda," katanya sambil tersenyum.
Suaranya seketika membuat Carver mendongak. Ia beradu tatap dengan Nanny.
Detik berikutnya, ia mendorong tubuh Nanny secara spontan dengan wajah merah.
"Kau!" katanya dengan wajah panik bercampur kaget. "K-kenapa kau ada di sini?!"
"A-apa maksud anda? Sejak tadi saya di sini."
Carver seketika diam begitu sadar kalau sejak tadi yang dilihatnya adalah Nanny.
Kenapa aku bisa berpikir kalau dia adalah ibu? Apakah aku berhalusinasi karena sangat merindukan ibu?
Carver memperhatikan wajah Nanny. Wanita itu tersenyum ke arahnya.
Senyumannya…
Senyumannya mirip dengan senyuman ibu…
Carver tertunduk. Ia kembali teringat akan mimpi yang dialaminya beberapa saat yang lalu ketika dia untuk pertama kalinya dipertemukan dengan wanita yang telah melahirkannya.
Walaupun wajah ibunya tidak terlihat jelas, tapi senyuman yang dilihatnya sungguh membekas dalam ingatannya.
"Tuan muda, apakah anda baik-baik saja?" Nanny memastikan.
"Aku baik-baik saja," jawab Carver dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah agak ketus.
Nanny mengerutkan kening.
Apa yang terjadi dengan tuan muda? Sikap beliau benar-benar aneh.
...*...
"Huft~" Nanny menghela napas lega. Ia benar-benar lega karena Carver telah sadar.
Aku sungguh senang karena ternyata tuan muda baik-baik saja. Sekarang aku jadi merasa lebih tenang, batin Nanny.
Nanny terdiam, ia kembali teringat akan kejadian beberapa saat yang lalu. Kejadian ketika secara tiba-tiba Carver memeluknya erat dan memanggilnya dengan sebutan 'ibu.'
"Aku tidak mengerti, kenapa sikap tuan muda begitu aneh ketika beliau bangun tadi?"
"Kenapa beliau tiba-tiba saja memeluk dan memanggilku dengan sebutan ibu?"
"Apakah karena beliau bertemu ibunya dalam mimpi?"
__ADS_1
Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Tapi tak satupun dari pertanyaan-pertanyaan itu, ia dapatkan jawabannya.
...*...
Nanny melangkah dengan wajah ceria. Hari baru disambutnya dengan penuh gembira.
Ini adalah hari pertamanya setelah beberapa waktu lalu diangkat secara resmi oleh Duke Karl Kashawn untuk menjadi pengasuh tetap putranya—Carver Luhde Kashawn.
Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan tuan muda hari ini. Aku ingin memastikan keadaan beliau baik-baik saja. Nanny membatin. Ia terus melangkah menyusuri koridor menuju kamar Carver berada. Di belakangnya, Nanny di temani oleh beberapa maid yang memang biasanya bekerja untuk membersihkan kamar Carver.
...*...
Carver membuka kedua matanya perlahan saat telinganya mendengar suara lembut dari dekat tempatnya terbaring.
Hal pertama yang dilihatnya ketika bangun adalah wajah Nanny yang kini tersenyum ke arahnya.
"Selamat pagi, tuan muda," sapanya.
Carver terdiam sejenak. Butuh waktu beberapa saat sampai ia sadar dengan sosok yang kini menatapnya.
"Anda harus bangun. Ini sudah pagi, dan sudah saatnya sarapan." Suara Nanny kembali di dengarnya, membuat Carver benar-benar sadar dengan siapa dirinya bicara.
Alih-alih bagun, Carver justru berbalik sambil menarik kembali selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas pundak.
Aku pikir ibu. Padahal tadi aku hampir saja bertemu dengan ibu lagi, batinnya dengan wajah kecewa.
"Aku tidak mau pergi!" tolaknya kemudian—sambil memejamkan kedua matanya.
"Anda harus bangun, sebentar lagi ada kelas yang harus anda hadiri. Tuan Duke sangat marah jika anda tidak segera bangun." Nanny masih berusaha untuk bicara dengan lembut padanya.
"Aku bilang aku tidak mau pergi! Lebih baik tinggalkan aku sendiri, aku mau tidur lagi."
Nanny menghela napas pelan.
Ternyata tuan muda masih saja ketus padaku, batin Nanny.
Teman-teman maid yang sejak tadi bersamanya itu melirik ke arahnya, seolah menunggu tindakan apa yang akan dilakukan oleh Nanny guna menghadapi tuan muda mereka.
"Tuan muda memang selalu seperti ini," bisik salah satu maid sambil menghampirinya. Membuat fokus Nanny seketika tertuju padanya.
"Jika beliau seperti ini, biasanya Zelda akan langsung menarik selimut dan memaksa beliau untuk segera bangun," tambahnya.
Nanny diam sejenak sambil memperhatikan Carver yang terbaring dengan posisi memunggungi dirinya.
Jika aku membangunkan beliau secara paksa, maka beliau bisa semakin tidak menyukaiku. Itu akan mempersulit pekerjaanku.
__ADS_1
...***...