
"Aku suka ketika kau bermain musik dengan begitu bebasnya. Kau bermain seolah kau menikmati hari terakhir kau hidup. Bermain semaksimal mungkin, seolah kau tidak akan pernah memiliki kesempatan bermain musik lagi ketika hari esok datang. Itu, benar-benar membuatku jatuh cinta padamu."
Dia beradu tatap intens dengannya. Menatap iris mata indah bak batu permata ruby itu dengan begitu lekat.
Pats!
Karl membuka kedua matanya perlahan. Lagi-lagi, ia terbangun dalam kondisi yang sama. Pandangan mata buram akibat air mata, serta rasa sakit luar biasa yang menghampiri hatinya.
Karl bangkit dari posisinya. Terduduk di atas ranjang sembari meremas pakaiannya.
Rasa sakit di dadanya benar-benar membuatnya tak kuasa menahan tangis.
Pria itu terisak. Membuat malam yang semula tenang, kini dihiasi suara tangis samar yang keluar dari mulutnya.
...*...
Nanny bangun dari posisi pembaringannya. Duduk di ranjang dengan wajah kusut.
Aku tidak bisa tidur. Aku terus kepikiran tentang tuan muda.
Aku benar-benar cemas dengan keadaan beliau. Kira-kira apa beliau sudah sadar?
Apakah beliau baik-baik saja?
Aku ingin sekali mengunjungi beliau guna memastikan keadaannya, tapi jika kepala pelayan sampai tahu, maka bisa saja aku mendapatkan hukuman dari beliau.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan?
Nanny termenung. Ia benar-benar dilema. Bingung dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
...*...
Kenapa? Kenapa setiap kali bersamanya, aku teringat akan dia?
Karl terdiam memandang keluar pintu kaca yang ada di kamarnya. Berdiri di bawah sinar bulan purnama yang begitu terang menghiasi malam itu.
Kemarin, aku juga mengalami hal yang sama.
Entah kenapa, setiap kali aku menatap kedua matanya…
Setiap kali itu juga aku merasa bahwa sosoknya hadir di hadapanku. Seolah-olah wanita itu adalah dirinya.
Karl mengepalkan kedua tangannya. Ia menggeleng kuat-kuat, berusaha menepis semua itu dari pikirannya.
Pria itu kembali menatap keluar jendela. Memperhatikan pemandangan di luar kamarnya yang terlihat dengan begitu jelas di bawah sinar cahaya bulan.
"Kira-kira, bagaimana keadaan Carver?"
"Apakah dia sudah sadar?"
"Aku jadi cemas dengannya."
"Pengasuh itu bilang kalau dia tidak menaruh racun di dalam makanan Carver. Kalau begitu kenapa dia bisa tiba-tiba muntah darah?"
__ADS_1
"Ini tidak masuk akal."
Karl kembali dibayang-bayangi kejadian tidak terduga yang tadi siang dialaminya. Ketika ia mendapatkan kabar dari Gray bahwa putra semata wayang itu mengalami muntah darah yang langsung membuatnya panik bukan kepalang.
"Kejadian ini terasa seperti Dejavu. Apakah sebelumnya aku pernah mengalami hal ini?"
"Apa hanya mimpiku saja?"
"Atau hanya perasaanku?"
Karl mengerutkan kening. Entah kenapa dia benar-benar merasa kalau apa yang di alami Karl bukanlah yang pertama kalinya.
Karl merasa bahwa kejadian ini pernah terjadi sebelumnya.
Pikirannya melayang. Menerawang jauh mencari ingatannya.
Karl membulatkan kedua matanya begitu ia menyadari sesuatu. "Benar!"
"Aku tidak salah. Aku memang pernah mengalami hal ini!"
"Carver pernah mengalami hal ini juga sebelumnya!"
"Ya. Aku ingat sekarang!"
"Dia mengalami hal yang serupa ketika usianya tiga tahun."
Karl terdiam pikirannya perlahan kembali mencari ingatannya ketika kejadian pertama kali itu terjadi.
__ADS_1
Kejadian ketika untuk pertama kalinya Carver mengalami hal yang serupa.
...***...