Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 52 - Pengasuh tetap


__ADS_3

Apa yang harus aku lakukan? Kalau aku keluar, tuan pasti akan sadar. Tapi kalau aku menyapanya, beliau pasti akan langsung memecatku. Nanny diam tanpa kata. Pikirannya benar-benar penuh dengan segala praduga yang membuat keringat mengucur keluar dari keningnya.


"Nanny?"


Wanita itu seketika tersentak kaget begitu sadar dengan suara yang di dengarnya. Nanny menoleh dan mendapati Karl kini menatap ke arahnya.


Nanny cepat-cepat beranjak dari tempatnya. Berjalan menghampiri Karl dan berdiri tepat dihadapannya.


"S-selamat pagi, tuan…" lirihnya dengan terbata. Ia membungkuk memberi hormat.


Habislah sudah riwayatku.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa ikut denganku sebentar?"


"B-baik, tuan."


Karl melangkah menghampiri pintu masuk dengan Nanny yang kini mengekor di belakang. Sepanjang jalan, Nanny merasakan jantungnya berdebar hebat. Bagaimana tidak? Secara dirinya benar-benar menganggap pekerjaannya akan berakhir hari ini juga.


Karl membawa Nanny ke ruang kerjanya. Di sana, ia menutup pintu rapat dan segera meminta Nanny untuk duduk.

__ADS_1


Glup!


Nanny menelan ludahnya susah payah. Ia benar-benar merasa tegang sekarang ini.


Bagaimana ini? Kalau aku di pecat, apa yang akan terjadi?


Bagaimana kalau Zelda sampai kehilangan pekerjaannya karena aku? Aku akan sangat merasa bersalah kalau aku sampai di pecat dan Zelda kehilangan pekerjaannya karena aku.


Aku… apa yang harus aku lakukan kalau aku benar-benar di pecat?


Nanny terdiam seribu bahasa. Hatinya benar-benar terasa tidak nyaman.



"Eh?" Nanny tersentak dengan apa yang baru saja diucapkannya. Ia spontan mendongak, menatap Karl dengan wajah tak percaya. "Maaf, tapi apakah saya tidak salah dengar, tuan?"


Nanny benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kau tidak salah dengar. Aku memintamu untuk menjadi pengasuh untuk putraku. Pengasuh yang sesungguhnya, bukan hanya sebagai pengganti sementara Zelda pergi."

__ADS_1


"T-tapi, tuan… kalau saya bekerja sebagai pengasuh tuan muda, lalu bagaimana dengan—"


"Tidak usah cemaskan Zelda. Dia akan tetap jadi pengasuh putraku. Semuanya tidak berubah, aku hanya menambah satu pengasuh saja."


"Saya tidak mengerti. Kenapa anda ingin saja menjadi pengasuh tuan muda?"


"Kenapa kau bertanya demikian? Apakah kau tidak mau menjadi pengasuh putraku?"


"Bukan seperti itu. Saya hanya tidak mengerti. Saya sudah membuat tuan muda celaka, bahkan tuan marah besar saat tahu tuan muda terluka ketika bersama saya. Bukankah seharusnya tuan memecat saya? Lalu kenapa tuan tiba-tiba berubah pikiran dan ingin saya menjadi pengasuh tuan muda? Terlebih, anda ingin saya menjadi pengasuh tetap tuan muda bersama Zelda."


"Maafkan aku untuk kejadian waktu itu. Aku terlalu cepat menyimpulkan, karena aku takut kehilangan satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku…"


"…Dan sebenarnya, ini bukan yang pertama kali." Karl bergumam di ujung kalimatnya.


"Eh?" Nanny mengerutkan kening. Ekspresi wajah Karl tiba-tiba berubah murung tanpa sebab.


"Sebetulnya, hal ini pernah terjadi tiga tahun lalu. Tepatnya saat putraku berusia tiga tahun. Carver mengalami insiden dimana sebuah racun berbahaya yang mematikan bersemayam dalam tubuhnya, dan setiap kali ada yang memicunya, setiap kali itu juga efeknya muncul. Dia akan mengalami muntah darah seperti itu, dan butuh waktu untuk tubuhnya bisa pulih kembali."


Nanny terdiam tanpa kata.

__ADS_1


...***...


__ADS_2