Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 61 - Anak payah


__ADS_3

"Nanny?" Nora menepuk pundaknya, membuat Nanny seketika tersadar dari lamunannya.


"Huh?" Nanny menatap Nora dengan raut wajah bingung.


"Kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja?" tanya Nora dengan raut wajah sama-sama bingung. Dia tidak mengerti kenapa wanita itu mendadak menangis saat dirinya sedang menjelaskan mengenai Carver dan Karl.


Nanny mengusap wajahnya. Ia baru sadar bahwa dirinya menangis. "Astaga, aku kenapa menangis? Aku benar-benar tidak sadar."


"Kau baik-baik saja? Apakah kau memiliki masalah? Jika kau memiliki masalah, jangan sungkan untuk bercerita padaku."


"Aku baik-baik saja. Sudahlah, ayo kembali." Nanny mempercepat langkahnya.


"Benar-benar aneh," gumam Nora yang kemudian berlari mengejarnya.


Kenapa…, aku menangis?



...*...


Carver terdiam dengan wajah cemberut. Ia duduk sambil menghadap keluar jendela, memperhatikan segala hal yang terjadi di luar sana.


Sejak pagi, mood nya sudah berantakan. Bahkan sampai sekarang, dia masih merasa kecewa dengan apa yang terjadi.


Carver baru saja kembali setelah menghadiri kelas madam Colins, dan sejak pulang, dia hanya duduk sambil menatap keluar jendela dengan wajah murung.


"Tuan muda!" Nanny menghampiri anak itu dan berdiri di dekat tempatnya duduk.


Carver hanya menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali menatap jendela. Lelaki itu tampak tak berniat menjawab panggilannya sama sekali.


"Kenapa anda murung? Sejak tadi pagi, anda terlihat sedih," tanya Nanny lemah lembut. Ia berharap Carver bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Carver hanya diam tanpa menjawab. Lelaki itu sama sekali tak memperdulikan pertanyaannya.


"Kalau tuan muda tidak keberatan, anda bisa ceritakan apa yang mengganggu pikiran anda kepada saya."


"Kau yang menggangguku. Bisakah kau pergi dan tidak menggangguku? Aku sedang tidak ingin diganggu. Aku ingin sendiri."


"Hm…, saya rasa bukan itu alasannya."

__ADS_1


"Apa? Memangnya kau tahu apa?"


"Saya memang tidak tahu apa-apa. Maka dari itu saya bertanya, dan anda harus menjelaskannya agar saya mengerti."


"Aku tidak mau. Pergilah!" usir Carver dengan wajah kesal.


Nanny terdiam memperhatikan anak laki-laki itu. "Saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak bisa pergi dari sini sebelum anda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


"Sudah aku bilang! Aku tidak ingin jelaskan apa-apa."


"Tapi apakah anda lupa dengan kesepakatan kita?" ujar Nanny yang dalam sekejap membuat Carver terdiam.


"Kesepakatan apa maksudmu?" tanyanya. Sambil menyipitkan mata, anak laki-laki itu melirik ke arah Nanny.


"Anda memang lupa atau anda pura-pura lupa dengan kesepakatan yang kita buat tadi pagi?"


"Aku tidak bilang aku menyetujuinya." Carver bergegas memalingkan wajahnya. Tentu saja dia ingat betul dengan perjanjian tadi pagi.


"Tidak-tidak! Anda sudah setuju, dan kita sudah membuat kesempatan. Itu artinya anda tidak bisa melanggar kesepakatan yang telah kita buat." Nanny tidak ingin kalah.


Sial. Kenapa dia harus ingat? Benar-benar menyebalkan! Carver menggerutu dalam hati.


Nanny menatap Carver dengan sangat intens. Pandangan matanya tertuju pada anak laki-laki dihadapan itu.


"Sekarang waktunya berkata jujur," tutur Nanny.


Carver melirik Nanny lewat ekor matanya. Entah kenapa, tapi dia jadi merasa gugup. Tatapan Nanny benar-benar membebaninya.


"Tuan muda." Nanny memanggilnya lagi.


Biarkan saja. Aku tidak ingin bicara! Carver memilih untuk bungkam. Ia sungguh tidak ingin menceritakan semuanya pada Nanny. Karena dia yakin, wanita itu tidak akan mengerti dengan apa yang dirasakannya.


"Huft~" Nanny menghela napas panjang. Ia lalu bersandar pada kursi dengan posisi tangan yang terlipat rapi di depan dada.


"Jadi anda memilih untuk diam tanpa mau menepati perjanjian yang telah kita buat?"


Lagi-lagi anak itu hanya meliriknya sekilas. Seolah memastikan setiap ekspresi wajahnya.


Nanny menyipitkan kedua matanya. Ia mulai merasa sebal karena Carver sungguh menghiraukannya. Anak itu bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun setelah dia memintanya untuk bicara.

__ADS_1


Beliau lebih keras kepala dari yang aku kira. Kalau seperti ini mau tidak mau aku harus bisa jadi lebih pintar dibandingkan beliau.


Aku harus memikirkan cara agar beliau mau bicara yang sejujurnya padaku. Tapi bagaimana caranya?


Berpikirlah Nanny! Jangan sampai hanya karena keadaan ini, kau kalah dan membuat tuan Duke kecewa karena aku tidak bisa membujuk beliau untuk bicara.


Nanny terdiam. Ia berusaha berpikir keras agar Carver mau bicara segalanya.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya sebuah ide terlintas di benaknya. Nanny tersenyum simpul begitu ide cemerlang itu muncul di kepalanya secara tiba-tiba.


"Ehem!" Nanny berdehem.


"Ah, jadi anda tidak mau bicara sama sekali? Anda tidak mau menepati perjanjian yang telah kita buat? Sungguh mengecewakan. Saya pikir anda adalah anak laki-laki yang jantan dan akan selalu menepati janjinya. Tapi ternyata anda tidak lebih dari seorang anak payah yang pengecut dan benar-benar tidak bisa dipercaya. Pantas saja, tuan—"


"Apa kau bilang?" Carver menatap Nanny dengan wajah merah. Tampak jelas dia kesal dengan ucapannya barusan.


Sudah kuduga ini akan berhasil! Tapi aku tidak boleh senang dulu. Aku harus membuat tuan muda bicara, dengan begitu artinya aku sudah berhasil! pikir Nanny. Wanita itu tersenyum tipis. Tapi buru-buru dia kembali mengubah ekspresinya agar tampak meyakinkan.


"Kenapa anda terlihat marah? Bukankah perkataan saya benar?" Nanny tampak acuh dengan reaksinya.


"B-berani sekali kau bicara seperti itu padaku! Aku tidak seperti yang kau katakan! Aku ini anak jantan, aku bukan anak payah!"


"Saya tidak yakin. Anda saja bahkan tidak mau bicara jujur pada saya. Saya sudah meminta anda bicara sejak tadi, tapi anda sama sekali tidak mau bicara. Kalau anda bukan anak payah, lalu apa namanya?"


Carver mengerutkan kening. Kedua ujung alisnya terangkat dengan wajah merah memenuhi seluruh permukaan kulitnya yang putih. Di bawah sana, tangannya terkepal erat.


"Aku bukan anak payah!" teriaknya kesal.


"Terima saja kenyataan kalau anda itu anak yang payah."


"Berani sekali kau memanggilku begitu!"


"Anda adalah anak payah yang tidak mau berkata jujur dan tidak mau menepati janji." Nanny semakin gencar mengerjainya. Membuat Carver semakin kesal. Anak itu bahkan sampai nyaris berdiri mendengar setiap kalimat ledekan darinya.


"Berhenti memanggilku begitu! Aku tidak payah?!"


"Bagaimana bisa anda begitu yakin kalau anda itu bukan anak yang payah? Anda saja bahkan tidak mau menepati janji yang telah kita buat. Bukankah begitu, tuan muda yang payah?" Nanny tersenyum meledek.


"Berhenti memanggilku seperti itu! Akan aku buktikan kalau aku bukan anak payah!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2