
"Apakah kau yakin seperti itu?"
"Tentu saja. Jika bibi berbohong, maka bibi siap untuk di hukum oleh tuan muda."
"Tidak perlu! A-aku percaya pada bibi…" Carver menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak ingin jika harus menghukum Mecca.
"Kalau begitu, selamat ulang tahun tuan muda. Semoga ini menjadi hari ulang tahun terbaik untuk anda." Mecca tersenyum simpul menatapnya.
"Terima kasih, bibi Mecca." Carver memberikan sebuah pelukan kecil padanya.
Mecca balas memeluknya. Walaupun hanya bekerja sebagai pengasuh, tapi wanita itu benar-benar sudah menganggap Carver sebagai putranya sendiri.
"Tuan muda, tuan Duke sudah datang!" Seorang maid berucap secara tiba-tiba. Mecca segera melerai pelukannya dengan Carver.
"Baiklah, selamat menikmati hadiah ulang tahun anda, tuan muda." Mecca membenahi sedikit pakaian yang dikenakan oleh Carver.
"Hm." Carver menganggukkan kepalanya.
Mecca beranjak dari tempatnya dan membiarkan Carver terduduk sendiri di sana.
Carver diam tanpa kata. Matanya tertuju ke arah pintu keluar di mana ayahnya—Karl akan tiba..
Aku sudah siap, pikirnya.
Carver bisa merasakan jantungnya berdebar hebat. Rasanya seperti seseorang yang sedang menunggu undian lotre guna memastikan apakah mereka akan dapat hadiah utama atau tidak.
__ADS_1
Tap! Tap!
Samar-samar Carver bisa mendengar suara langkah kaki dari dalam sana. Tidak lama kemudian, ia melihat Gray keluar dengan diikuti oleh Karl di belakangnya.
Tep!
Gray berhenti, bersamaan dengan Karl yah kini menampakkan sosoknya secara utuh tepat di hadapan Carver dan yang lainnya.
Carver melongok begitu melihat Karl. Ia menatapnya nyaris tak berkedip, memperhatikan dari atas sampai bawah penampil lelaki yang menjadi ayahnya tersebut.
Rambut kecokelatan yang berubah kemerahan ketika terpantul cahaya, kulit putih bersih yang terlihat begitu lembut, tubuh tegap yang tinggi, garis rahang yang jelas, dan iris mata hijau yang indah.
Pria itu benar-benar terlihat begitu tampan.
A-apakah dia benar-benar ayahku? Carver melongok melihatnya. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mecca hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Memberikan jawaban, "ya." Atas pertanyaannya.
Carver kembali menatap ayahnya. Ia benar-benar terpesona oleh ketampanan dan kharisma yang di miliki lelaki itu.
"Selamat siang semuanya," bariton suara yang di dengarnya membuat Carver tidak bisa berkata-kata.
Akhirnya, ia bisa mendengar dan melihat dengan jelas sosok ayahnya.
"Siang, tuan besar," sahut semua maid yang ada sembari membungkuk memberikan hormat padanya.
Karl menghampiri meja, menarik kursi yang ada dan duduk tepat di samping Carver yang masih menatapnya dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Karl balas menatapnya dengan tatapan intens.
Jadi… anak kecil mungil yang terlihat begitu rapuh ini adalah putraku?
Dia terlihat begitu tampan sepertiku.
Matanya… benar-benar mirip seperti Lynn…
Karl beradu tatap intens dengan Carver.
Carver yang menyadari hal itu lalu segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari tatapan Karl yang membuatnya malu.
Kami bertatapan.
Ayah baru saja melihatku!
Ternyata… bibi benar. Ayah sangat tampan.
Dan rambutnya…
Carver memegangi kepalanya dengan tatapan wajah menatap ke bawah dan wajah memerah karena malu.
Rambut ayah ternyata benar-benar mirip dengan rambutku…
Carver tersenyum simpul. Entah kenapa, tapi dirinya sangat senang dengan itu.
...***...
__ADS_1