
Dan Karl berjanji untuk menemui Carver di hari ulang tahunnya yang ke tiga.
Setelah menunggu selama setahun, akhirnya hari itu tiba juga. Hari di mana, Carver akhirnya akan bertemu dengan sosok pria yang akan di panggilnya dengan sebutan ayah.
Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah. Ini adalah pertama kalinya aku akan melihat ayah.
Aku sudah menunggu sangat lama untuk hari ini, dan aku benar-benar sudah tidak sabar.
Aku ingin melihat bagaimana wajah ayah. Selama ini, aku sungguh ingin melihat wajahnya dari jarak dekat.
Apakah ayah tampan seperti yang di katakan bibi?
Apakah ayah baik?
Bagaimana kalau ternyata ayah itu jahat? Bagaimana kalau ternyata ayah tidak ingin bertemu denganku?
__ADS_1
Selama ini saja bahkan ayah tidak ingin melihatku.
Selama dua tahun tahun…
Baru kali ini, aku akan bertemu dengan ayah.
Carver mendadak pesimis. Entah kenapa ia jadi teringat akan cerita dongeng yang sempat diceritakan oleh salah satu maid mengenai putri yang di kurung selama bertahun-tahun dan tidak pernah diizinkan untuk bertemu dengan ayahnya sendiri.
Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan ayah, pikirnya.
"Huft~" Carver menghela napas dalam. Hal itu membuat perhatian Mecca—bibi pengasuhnya langsung tertuju padanya.
Carver menoleh ke arah Mecca yang kini memandanginya. Kedua tangan lembut wanita itu menggenggam tangan mungilnya.
"Apakah anda gugup karena ini adalah pertama kalinya anda akan bertemu dengan tuan Duke?"
Carver mengangguk pelan.
__ADS_1
"Setelah dua tahun, akhirnya untuk pertama kalinya, aku akan bertemu dengan ayah. Aku benar-benar gugup," gumam Carver.
"Anda tidak perlu gugup. Semuanya akan baik-baik saja, dan lagipula bukankah ini yang anda inginkan selama ini sebagai hadiah? Bertemu dengan tuan Duke dan menghabiskan waktu bersama beliau selama seharian penuh?" Mecca tersenyum simpul ke arahnya. Ia berusaha untuk membuat Carver tenang.
Carver terdiam membenarkan ucapan Mecca. Memang ini adalah hadiah yang selalu dia harapkan. Bertemu dengan ayahnya dan menghabiskan waktu setidaknya seharian penuh. Karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
"Bibi, bagaimana kalau ternyata ayah tidak menyukaiku? Bagaimana jika ayah membenciku? Bagaimana jika ayah ternyata tidak sebaik dan setampan yang bibi katakan? Bibi tidak bohong padaku 'kan?" Serentetan pertanyaan tiba-tiba berloncatan dari mulut dan bibirnya.
Mecca yang mendengarnya sampai kaget karena asumsi Carver yang benar-benar tak beralasan itu.
"Anda kenapa berpikir begitu? Saya sudah katakan 'kan, kalau beliau adalah orang yang tampan dan baik hati. Lagipula kenapa anda bisa berpikir kalau tuan Duke tidak menyukai anda? Tentu saja beliau menyukai anda, bagaimanapun tuan muda adalah putra dari tuan Duke. Jadi tidak ada alasan untuk tuan Duke membenci anda, mengerti?" Mecca mengusap puncak kepala Carver penuh kelembutan.
"Tapi… ayah selama ini tidak pernah menemuiku. Bukankah itu artinya ayah membenciku?"
"Tidak. Tuan Duke tidak menemui tuan muda karena beliau sangat sibuk untuk membantu kekaisaran kembali pulih dari masa-masa keterpurukannya. Maka dari itu, beliau harus bekerja keras siang dan malam. Jadi tuan Duke tidak dapat bertemu dengan tuan muda karena beliau sangat sibuk, bukan karena beliau membenci anda."
"Apakah kau yakin?"
__ADS_1
...***...