Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 40 - Menyesal


__ADS_3

"Tidak ada gunanya menangisi apa yang telah terjadi. Walaupun kau menyesal, tapi semuanya sudah terlambat karena kau sudah memilih jalanmu sejak awal." Pria itu perlahan berubah menjadi asap.


Tubuhnya perlahan menghilang dan kembali berkamuflase menjadi kabut hitam pekat.


Kabut itu bergerak merasuk kembali ke dalam tubuhnya.


Karl terduduk di lantai. Isak tangis tak bisa ia hentikan.


Karl meratapi kebodohannya. Kebodohan yang selama ini tidak pernah ia sadari.


Dia sudah menyia-nyiakan dan menelantarkan putranya selama tiga tahun lamanya. Sampai membuat anak itu bahkan tidak pernah tahu bagaimana sosok ayahnya.


Lalu sekarang, di saat ia akan menembus waktu-waktu yang hilang itu, ia malah membuat nyawa anaknya berada dalam bahaya.


Karena kekuatan miliknya dan kontrak dengan mahluk tadi, ia tanpa sadar meninggalkan racun dalam tubuh Carver.



...*...


Karl membuka kedua matanya secara perlahan. Setelah menangis selama berjam-jam, ia sampai ketiduran di sofa ruang kerjanya hingga larut malam.


Karl bangun dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Huft~" Ia lagi-lagi menghela napas dalam-dalam. Masih ada rasa penyesalan yang menguasai dirinya.


Karl masih terus terngiang ucapan pria yang ditemuinya beberapa saat yang lalu.


Setiap kata yang terngiang di benaknya membuat Karl lagi-lagi merasa sedih. Hatinya sakit luar biasa setiap kali ingat akan apa yang telah dia lakukan pada putranya sendiri.


Karl lagi-lagi terisak.


Di keheningan malam dan dalam ruang gelap yang hanya di terangi cahaya bulan purnama yang menembus lewat jendela-jendela ruangannya—Karl terisak merutuki kebodohannya.


"Ini semua salahku…" lirihnya dengan suara bergetar.


"Ya… kau benar!"


Ia mendongakkan kepalanya, mencari asal suara yang di dengarnya.


"Ini semua memang salahmu!" katanya lagi.


Karl refleks bangun dari tempat duduknya. Kedua matanya membulat begitu sadar siapa yang kini berdiri dihadapannya.


"L-Lynn…"


Seorang wanita berdiri di bawah sinar cahaya bulan. Ia mengenakan sebuah gaun sederhana, penampilannya agak berantakan. Tapi wajahnya yang cantik masih tampak begitu jelas di matanya.

__ADS_1


Wanita itu mendongakkan wajahnya. Menatap Karl dengan mata yang berkaca-kaca.


Iris mata bak batu ruby nya tampak bersinar, apalagi ketika air matanya terpantul cahaya bulan.


Karl tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita itu, benar-benar berdiri tepat dihadapannya.


"Kau tidak bisa melindungi putra kita dengan baik…" Wanita itu berucap lirih. Air matanya menetes keluar dari pelupuk matanya, membasahi kedua pipi mulusnya.


"Aku memintamu untuk menjaga dan merawatnya dengan baik. Tapi apa yang kau lakukan? Kau…"


Wanita itu terisak. Ada rasa sesak yang menghampiri dadanya ketika ia harus mengingat apa yang telah dilakukan suaminya pada putra mereka sendiri.


"…Kau malah melakukan sesuatu yang membuat nyawanya terancam…"


"Aku benar-benar kecewa denganmu, Shawn."


"Aku tahu ini semua memang salahku," tutur Karl. "Aku juga menyesal dan aku benar-benar merasa gagal karena sudah membuat nyawa putra kita berada dalam situasi seperti ini…"


"…Selama ini, aku hanya berusaha untuk bertahan tanpamu. Tapi tak kusangka… semuanya akan menjadi seperti ini." Karl mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia kembali terisak mengingat kesalahan besar yang telah dibuatnya.


"A-aku benar-benar minta maaf, Lynn… karena sudah membuatmu kecewa," ucapnya dengan suara lirih.


...***...

__ADS_1


__ADS_2