
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya wanita itu sambil mendongak. Menatap wajah tampan pria yang kini terbaring bersamanya di atas ranjang yang sama. Tanpa sehelai benang pun, dan hanya berbalutkan selimut tebal.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Dari semua wanita yang datang menghampirimu, kenapa kau memilihku? Bukankah ada banyak wanita lain yang jauh lebih baik dibandingkan denganku? Bahkan di antara semua wanita yang pernah mendekatimu, mereka memiliki keistimewaan masing-masing…"
"…Ada yang ahli beladiri, ahli pedang, ahli berkuda, ahli memanah, dan bahkan ada yang selalu juara di akademi kekaisaran karena kepintarannya. Tapi, kenapa kau memilihku? Padahal jika dibandingkan dengan mereka semua, aku ini hanya wanita bisa. Aku tidak terlalu pintar, aku tidak punya banyak keahlian, dan bahkan aku payah dalam bersosialisasi," tuturnya dengan suara lembut.
Pria itu beradu tatap dengan wanita cantik yang kini memandangnya intens. Iris matanya berwarna merah seperti batu permata ruby yang indah. Yang setiap kali terlihat bersinar ketika cahaya tak sengaja terpantul ke matanya.
__ADS_1
"Kenapa kau ingin tahu?" Pria itu balas bertanya pada wanita yang kini berstatus istrinya itu.
"Aku hanya ingin tahu saja. Lagipula rasanya aneh seorang Duke sehebat dirimu, menyukai seorang wanita sederhana yang tidak punya keahlian apa-apa seperti diriku." Wanita itu terkekeh mendengar penuturannya sendiri.
"Aku sudah memiliki semua keahlian itu. Berkuda, bermain pedang, memanah, bahkan aku juga sering menjadi juara di akademi ketika sekolah dulu. Yang membuatku tertarik padamu justru karena kau tidak memiliki keahlian apa-apa."
"Huh?" Wanita itu mengerutkan keningnya.
"Saat pertama kali aku melihatmu dalam debutante, awalnya aku pikir kalau kau adalah perempuan yang merepotkan. Kau tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar. Bahkan aku sempat berpikir kalau aku tidak ingin pernah memiliki pasangan sepertimu. Tapi…"
"…Dari sana, pandanganku berubah. Aku pikir, aku tidak membutuhkan orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa atau setara denganku. Aku justru membutuhkan orang yang tidak memiliki kemampuan apa-apa sepertimu. Aku membutuhkan sosok yang lemah lembut, bisa mengerti dan mendukungku dalam situasi apapun…"
__ADS_1
"…Orang yang terlihat lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Orang yang membuatku berpikir untuk berusaha keras melindunginya, bahkan merelakan nyawaku untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Maka dari itu, aku memilihmu." Pria itu tersenyum memandangi wanita dalam pelukannya.
"Kalau begitu, sejak kapan kau menyukaiku? Bukankah kau bilang dulu kau sempat tidak menyukaiku?"
"Aku mulai menyukaimu ketika keluargamu mengadakan pesta ulang tahun mu yang ke tujuh belas. Aku diundang untuk hadir di pesta itu, lalu secara tidak sengaja aku tersesat dan berakhir di dalam ruang musik keluargamu."
"Oh, aku ingat kejadian itu…" Wanita itu tersenyum membayangkan kejadian beberapa tahun silam tersebut.
"Kau mungkin payah dalam mengerjakan beberapa hal. Tapi satu hal yang aku tahu, kau genius dalam bermain musik."
"Kau terlalu berlebihan."
__ADS_1
"Sungguh. Aku saja bahkan jatuh cinta ketika untuk pertama kalinya aku melihat kau bermain musik secara langsung. Ketika itu, aku melihat sisi lain darimu. Sisi yang kupikir hanya aku yang tahu."
...***...