
Klap!
Karl melangkah masuk ke dalam kamar putranya. Di dalam sana, ia segera menghampiri anak laki-laki yang sejak tadi terbaring tak berdaya di atas ranjang tidur kebesarannya.
Karl memperlambat langkah kakinya lantas berhenti tak jauh dari ranjang Carver.
Kedua matanya tertuju pada satu titik, yang tak lain adalah wajah tenang putranya yang berkeringat.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kejadian tiga tahun lalu kembali terulang? Karl membatin.
Jika itu benar, maka apakah itu artinya pengasuh baru itu menggunakan kekuatan hitam?
Aku tidak bisa membiarkan putraku di asuh oleh seorang pengasuh yang menggunakan mantra hitam.
Kalau dibiarkan, Carver bisa-bisa mati di tangannya.
Aku tidak boleh membiarkan semua itu terjadi! Dia adalah satu-satunya harta paling berharga yang kumiliki.
Aku harus melindunginya.
Perhatian Karl mendadak tersita oleh siluet yang mendadak muncul di bawah sinar cahaya bulan yang menembus masuk lewat jendela besar yang ada.
Karl berbalik dan mendapati sosok itu lagi-lagi muncul dihadapannya. Sosok pria yang tiga tahun lalu mengejeknya atas keputusan yang telah dia buat.
__ADS_1
"Kau selalu datang di saat seperti ini, apakah kau datang untuk menertawaiku lagi?" Karl menatapnya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
Pria yang dilihatnya itu mengeluarkan seringainya. "Kau begitu sensitif. Kenapa? Apakah karena anakmu mengalami hal yang sama seperti tiga tahun lalu? Kau takut dia mati seperti yang kau takutkan?"
"Jaga bicaramu!"
"Kenapa? Bukankah memang itu yang kau takuti?"
"Apakah kali ini juga ulahmu? Apa yang telah membuat anakku jadi seperti ini adalah kau?"
...*...
Nanny berjalan menghampiri pintu kamar Carver.
Tap!
Ia menghentikan langkahnya ketika tiba tepat di depan pintu. Ia ingat kalau Karl baru saja masuk ke dalam sana.
Kalau aku membuka pintunya, maka tuan Duke akan sadar aku mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Tapi kalau tidak kubuka, aku tidak akan bisa memastikan keadaan tuan muda.
Apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1
Apa lebih baik aku menunggu tuan Duke hingga keluar? Tapi bagaimana kalau beliau tidak keluar sampai besok?
Nanny menghela napas berat. Walaupun sudah mengambil keputusan, tapi tetap saja dirinya merasa sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Nanny diam sejenak berusaha memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan. Namun suara samar-samar dari dalam kamar benar-benar berhasil membuat fokusnya beralih.
Aku mendengar suara seseorang yang terdengar seperti sedang berbincang dari dalam kamar tuan muda. Siapa, ya?
Apakah itu tuan Duke? Tapi, bukannya tadi beliau datang seorang diri?
Apa tuan Duke sedang berbicara dengan tuan muda? Tapi kalau aku teliti lagi, suaranya seperti seorang pria dewasa.
Jika bukan beliau, lalu siapa?
Nanny menempelkan telinganya ke arah pintu. Berharap bisa mendengar dengan jelas siapa yang tengah berbincang dengan Karl di dalam sana.
Alih-alih mendengarnya dengan jelas, Nanny justru tidak dapat mendengar sama sekali siapa yang sedang bicara di dalam sana.
Aku tidak bisa mendengar dengan jelas.
Nanny membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan lubang kunci.
...***...
__ADS_1