
Nanny terduduk di kursi. Tangannya tanpa sadar menekan tuts piano.
Nanny memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar tidak sadar memainkan piano yang ada dihadapannya. Memainkan sebuah lagu merdu yang suaranya terdengar hingga ke koridor.
...*...
"Dasar ceroboh. Bagaimana kalau sampai ada orang lain yang masuk?" Nora terus berjalan menyusuri koridor. Ia memegang kunci ruangan yang tadi lupa dikunci oleh salah satu tekanan.
"Tuan Duke pasti akan marah besar kalau tahu ada yang masuk ke ruangan terlarang itu."
Tap!
Nora menghentikan langkahnya ketika ia secara tiba-tiba mendengar suara musik merdu yang berasal dari arah salah satu ruangan.
"Suara ini…" Nora terdiam sejenak, berusaha untuk mendengarkan kembali suara yang di dengarnya.
Ia membulatkan kedua matanya begitu sadar ada suara musik.
Nora segera berlari menuju arah ruangan dimana suara itu berasal.
"Pintunya terbuka?" Nora semakin panik. Ia segera melangkah masuk ke dalam sana.
Tiba di dalam, ia segera mencari orang yang tengah memainkan musik tersebut.
"Nanny!" panggil Nora dengan wajah kaget. Hal itu spontan membuat Nanny yang asyik bermain musik seketika tersadar.
"N-Nora…" Nanny menatapnya dengan wajah terkejut.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Itu…" Nanny terdiam. Ia bingung harus menjawab apa, karena jujur saja niat awalnya hanya untuk melihat-lihat isi ruangan tersebut tanpa pernah berniat untuk menyentuh apalagi memainkannya.
"Ayo pergi." Nora menghampirinya sambil segera membereskan kembali pianonya lalu menarik Nanny pergi dari sana.
Tiba di luar, Nora langsung mengunci pintu ruang musik tersebut agar tidak ada lagi yang bisa masuk ke dalam sana.
"Kau seharusnya tidak boleh masuk ke sini," kata Nora.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Ada apa dengan ruangan ini?" taua Nanny dengan raut wajah bingung.
"Ruangan ini tidak boleh di masuki oleh siapapun kecuali pada maid yang memang sudah ditugaskan untuk membersihkannya. Itu pun kami tidak boleh sampai mengubah atau menggeser satu senti pun benda di dalamnya. Kalau tidak, tuan Duke akan marah besar."
"Tuan Duke? Apakah ini ruang pribadi beliau?"
Nora menggelengkan kepalanya kuat. "Ini bukan ruang pribadi tuan Duke. Tapi ini ruang pribadi mendiang nyonya Duchess."
"Huh? R-ruang pribadi nyonya Duchess?"
"Ya."
"Ah, benar. Selama aku bekerja di sini, aku baru sadar kalau aku tidak pernah melihat nyonya Duchess sebelumnya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan beliau?"
"Kau tidak tahu? Apakah Zelda tidak pernah menceritakan apa-apa mengenai hal ini padamu?"
"Tidak. Zelda tidak pernah menjelaskan apa-apa mengenai tuan Duke atau nyonya Duchess. Dia hanya bilang kalau aku harus menggantikannya sementara waktu untuk mengasuh tuan muda. Itu saja."
"Aku… juga tidak tau apa yang terjadi. Kejadiannya sudah sangat lama, bahkan sudah banyak sekali maid yang diganti. Sebagian besar maid yang sekarang bekerja di kediaman ini adalah maid baru yang ditugaskan sejak tuan muda berusia sekitar empat tahun. Bahkan, kepala pelayan juga dulunya bukanlah nyonya Inggrid yang kita kenal…"
"…Tapi dari berita burung yang aku dengar, tuan Duke di tinggalkan oleh nyonya Duchess oleh suatu alasan. Ada rumor yang mengatakan kalau nyonya Duchess melarikan diri dengan salah satu pengawal di rumah tuan Duke. Tapi ada sebagian yang mengatakan kalau beliau di kejar oleh sekelompok orang yang berusaha membunuhnya. Maka dari itu, beliau melarikan diri dan berusaha melindungi keluarganya dengan meninggalkan tuan Duke serta tuan muda."
"B-benarkah?"
Nora mendadak diam. Menggantungkan pembicaraannya. Nanny terdiam memperhatikannya dengan raut wajah penasaran.
"Tapi apa?"
"…Tapi kau tahu apa yang terjadi? Penyihir kerajaan yang membantu menyembuhkan tuan Duke itu meninggal beberapa hari setelah menyembuhkan tuan Duke."
"Apa? Tapi bagaimana bisa?"
"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan beliau."
"Setelah itu, apa yang terjadi? Apakah tuan Duke sudah sembuh sepenuhnya?"
"Ya, beliau sudah sembuh sepenuhnya. Namun sifatnya berubah semenjak saat itu. Tuan Duke memerintahkan semua pegawai di rumah ini untuk di ganti, lalu setiap ruangan yang berhubungan dengan nyonya Duchess dilarang untuk di masuki kecuali untuk pembersihan rutin selama seminggu sekali."
"Jadi, itu sebabnya kau begitu terkejut saat aku ada di dalam, tadi?"
__ADS_1
Nora menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Nanny.
Sekarang aku mengerti kenapa Nora begitu panik saat tahu aku ada di dalam. Ternyata itu alasannya…
Tuan Duke yang malang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan nyonya Duchess? Kemana dia pergi? Nanny membatin.
"Aku harap kau mengerti dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," kata Nora, membuyarkan seluruh lamunannya.
"Maaf karena aku sudah masuk tanpa izin."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti dan aku maklumi karena kau baru bekerja beberapa hari di sini."
"Oh ya, omong-omong bolehkah aku bertanya satu hal lagi?"
"Katakan saja. Aku akan menjawabnya sebisa mungkin."
"Ini mengenai tuan muda. Kenapa begitu aku tiba di sini, dan selama aku ada di sini, tuan muda selalu menikmati sarapan di dalam kamarnya? Kenapa beliau tidak diperbolehkan untuk sarapan bersama tuan Duke di meja makan?"
"Mengenai itu… tuan Duke sendiri yang melarangnya."
"Eh?"
"Tuan Duke yang membuat aturan. Tuan muda tidak diperbolehkan untuk makan atau mendekati area yang sering ditempati oleh tuan Duke."
"Tapi kenapa?"
"Alasannya karena seperti yang aku jelaskan tadi. Semenjak nyonya Duchess meninggalkan tuan Duke, tuan tidak pernah ingin melihat tuan muda lagi. Bahkan kedatangan tuan Duke ke kamar tuan muda beberapa hari lalu adalah kedua kalinya selama tuan muda hidup."
"M-maksudmu… tuan muda tidak pernah bertemu dengan tuan Duke sebelumnya?"
"Hanya satu kali, dan itu ketika beliau berusia tiga tahun. Di hari ulang tahunnya. Namun semenjak saat itu, beliau tidak pernah bertemu lagi sampai beberapa hari lalu."
Nanny terdiam. Entah kenapa hatinya terasa sakit begitu mendengar penuturan Nora barusan. Bahkan kedua matanya sampai berkaca-kaca.
Nanny benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Ia juga tidak menyangka kalau ternyata Duke Karl bisa sampai sejahat itu pada putranya sendiri.
"Nanny!" Nora menepuk bahunya pelan.
"Huh?"
__ADS_1
"K-kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja?"
...***...