Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 54 - Ibu


__ADS_3

Nanny menghela napas pelan. Tatapannya tertuju pada Carver yang kini masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


Tangannya perlahan terulur mengusap keringat yang mengucur membasahi keningnya dengan menggunakan sapu tangan yang ada dalam genggamannya.


Ini sudah hari ke tiga, dan kenapa beliau belum sadar juga?


Aku harap tuan muda segera sadar. Aku sangat ingin, tuan muda bangun dan bermain seperti sebelumnya.


Nanny menyandarkan kepalanya pada tepi ranjang. Kedua tangannya kini di lipat, menjadi alas untuk kepalanya.


Rasanya benar-benar membosankan. Aku hanya bisa diam dan menunggu tuan muda sadar di sini, sementara maid dan pelayan lain di rumah ini mengerjakan tugas mereka masing-masing dengan begitu baik.


"Hoam…" Nanny menutup mulutnya. Ia menguap lebar. Walaupun hanya duduk dan menunggu Carver bangun, tapi hal itu tetap saja terasa melelahkan. Terlebih kalau di tekan dengan perasaan bosan yang teramat besar.


"Aku jadi mengantuk," gumam Nanny. Ia menyandarkan kepalanya pada lipatan tangannya. Matanya terasa berat, dan pandangannya mulai tidak fokus. Hanya dalam hitungan dua sampai tiga menit, Nanny benar-benar tertidur.



...*...


"Huft~" Anak laki-laki itu menghela napas pelan. Rasa bosan benar-benar sudah membuatnya tak bisa berbuat banyak. Ia kini terduduk di atas rerumputan yang begitu lebat.


"Ternyata walaupun aku nyaman dan merasa bebas karena tidak ada yang melarang ku, tetap saja terasa bosan," gumamnya pelan.

__ADS_1


Carver duduk dengan posisi memeluk kedua lututnya.


"Aku ingin pulang…"


Tap! Tap!


Perhatian Carver seketika beralih saat suara langkah kaki seseorang di dengarnya. Ia menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati seorang wanita berdiri dihadapannya dengan mengenakan gaun putih sederhana yang hanya menutupi sampai bagian betisnya.


Carver menyipitkan kedua matanya. Ia sama sekali tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Sinar matahari yang terik terlalu menghalangi pandangannya, terlebih warna putih pada gaun wanita itu benar-benar sudah menyitanya.


Walaupun demikian, Carver masih bisa melihat bibirnya tersenyum simpul ke arahnya.


Carver mengerutkan kening.


Carver terdiam tanpa kata. Entah kenapa, tapi wanita itu mengeluarkan sebuah aura yang terasa tak asing. Ada perasaannya nyaman yang seolah sudah pernah ada sebelumnya. Perasaan yang selama ini ia rindukan, dan perasaan yang selama ini hilang dari hidupnya.


Wushh…


Angin berhembus menerpa rambutnya yang tergerai. Carver membulatkan kedua matanya yang dalam sekejap berubah berkaca-kaca.


Carver bangun secara perlahan. Kini ia berdiri berhadapan dengan wanita yang baru saja tiba itu.


"Ibu…" Entah kenapa, namun kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, refleks tubuhnya menghampiri wanita itu dan memeluknya erat.

__ADS_1


Carver menangis tanpa ia sadari.


Wanita itu balas memeluknya.


"Aku merindukan ibu…"


"Ibu juga merindukanmu, sayang."


"Selama ini ibu di mana? Kenapa ibu meninggalkanku sendiri? Aku ingin ikut dengan ibu…"


Wanita itu merelai pelukan mereka lantas berjongkok, mensejajarkan pandangannya dengan Carver. Kedua tangannya menyeka air mata yang kini mengalir, membasahi kedua pipinya.


"Kau tidak boleh ikut dengan ibu, sayang…"


Tangan wanita itu mengusap puncak kepalanya sambil tersenyum.


"Kenapa?" Carver menaikkan sebelah alisnya—bingung.


"Karena kau harus menemani ayahmu. Kau harus menjaga dan merawatnya, mengerti?"


"Aku tidak ingin bersama ayah! Ayah tidak menyayangiku." Carver tertunduk.


...***...

__ADS_1


__ADS_2