
"Apa yang terjadi? Kau sakit?" Karl berjongkok di hadapan Carver dengan wajah panik bukan kepalang.
"Huh?" Carver menatapnya dengan wajah polos.
"Apa yang kalian lakukan?! Jangan hanya menonton, cepat panggil dokter!" teriak Karl pada maid yang ada.
"Baik, tuan." Salah satu maid segera berlari menjalankan tugas yang dia berikan.
"Mecca, apa yang terjadi dengan Carver? Apakah dia sakit? Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?!" bentak Karl dengan penuh emosi.
"Maaf, tuan. Tuan muda tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Kondisi tubuh beliau sehat-sehat saja," jelas Mecca.
"Apa?" Karl langsung menoleh pada makanan yang ada di atas meja.
Itu artinya…
Racun!
"Cepat tangkap kepala koki, dan semua maid yang telah mempersilahkan meja ini!"
"B-baik, tuan." Gray segera berlari.
Keadaan berubah kacau. Kepanikan dimana-mana. Sementara itu, Carver yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menatap semua orang dengan wajah bingung.
"Kau baik-baik saja, Carver? Kita ke kamar, ya?" Karl berucap lembut.
"Aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa. Aku tidak ingin ke kamar, aku ingin bersama ayah. Ayah sudah janji untuk bermain bersamaku 'kan?" Carver tersenyum padanya.
__ADS_1
Bisa-bisanya dia tersenyum di saat seperti ini? Apakah dia tidak mengerti kalau aku begitu mencemaskan keadaannya?
Karl mengusap wajahnya kasar.
"Kita ke kamar. Kau harus di periksa, ya?" Karl berusaha memberikan pengertian pada Carver.
"Tidak." Carver menggeleng pelan. "Aku ingin bersama a—"
Brukk!
Belum sempat Carver menyelesaikan kalimatnya. Kepalanya yang tiba-tiba terasa berat dan pandangannya yang mengabur membuatnya tidak sadarkan diri.
Beruntung tubuh mungilnya jatuh ke dalam pelukan Karl, sebelum sempat wajahnya menghantam lantai dengan keras.
"Carver! Carver!" Karl mengguncang tubuh putranya itu perlahan. Tapi tidak ada respon sama sekali.
Karl semakin panik. Matanya yang sejak tadi berkaca-kaca perlahan mulai meneteskan bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya.
Karl segera mengangkat tubuh Carver dan menggendongnya. Membawa Carver menuju kamarnya.
Mecca dan maid yang lain segera menyusul di belakang Karl.
...*...
Keadaan hening. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari satupun orang di dalam sana.
__ADS_1
Karl terisak sembari memperhatikan wajah putranya yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya.
"Bertahanlah sayang…"
"Jangan tinggalkan ayah…"
"Ayah mohon…"
"Jangan membuat ayah sendirian."
"Ayah tidak ingin kehilanganmu juga…"
"Ayah tidak ingin merasakan kehilangan yang sama. Jadi ayah mohon bertahanlah."
Karl terisak sembari menggenggam tangan mungil Carver.
Semua maid yang ikut hanya diam di luar. Sementara Mecca masuk untuk memastikan keadaan anak asuhnya.
Tak lama, Gray tiba dengan dokter Tobias. Pria itu segera memeriksa keadaan Carver sesuai dengan permintaan Karl.
Karl diam dan memperhatikan setiap proses pemeriksaan dokter Tobias yang tak lain adalah ayah dari dokter Martinus.
"Bagaimana? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Karl dengan wajah yang amat panik bercampur cemas.
"Tuan muda tidak apa-apa," kata Tobias berusaha menenangkan Karl.
"Apa maksudmu tidak apa-apa?! Dia baru saja muntah darah. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja?!" pekik Karl penuh emosi.
__ADS_1
"Tuan Duke tenang dulu. Biar saya jelaskan. Tuan muda memiliki daya imun tubuh yang kuat, itu yang membuat beliau baik-baik saja. Selain itu, para dewa melindunginya."
...***...